Satu Tewas, Enam Dirawat – Timor Express

Timor Express

HUKUM

Satu Tewas, Enam Dirawat

Peminangan Berujung Bentrok di Tanah Merah

Para Pelaku Masih Punya Hubungan Kekeluargaan

KUPANG, TIMEX-Bentrokan kembali terjadi di Desa Tanah Merah, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Kamis (8/8) sekira pukul 18.00. Akibatnya seorang warga yang diketahui bernama Maksi Robin Mesakh (42) tewas. Korban merupakan warga RT 20/ RW 008, Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah. Enam orang menjalani perawatan medis.

Maksi Robin Mesakh menjadi korban ketika hendak menyelamatkan dua orang yang dianiaya sekelompok warga. Korban terdesak akibat diserang massa. Ia pun berusaha membela diri dengan menggunakan senjata tajam yang dipegangnya. Ia melukai tiga orang di bagian lengan dan telinga. Korban yang berusaha melarikan diri terus dikejar massa. Ia pun dianiaya bahkan ditebas dengan parang hingga tewas.

Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol. Jules Abraham Abast saat dikonfirmasi Timor Express, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengaku kasus tersebut langsung mendapat perhatian dari jajaran Polres Kupang dan situasi sudah kondusif. “Saat ini masih dilakukan penyelidikan terkait penyebab bentrokan tersebut,” ujarnya.

Sementara Kapolres Kupang, Indera Gunawan, yang dikonfirmasi menjelaskan tidak ada bentrokan antarwarga, namun hanya kesalahpahaman karena diduga sudah mengonsumsi minuman keras.

“Ini orang lamaran pihak laki-laki ke pihak perempuan di Desa Tanah Merah. Bantu-bantu buat tenda mungkin tersinggung omongan lalu ribut karena minum. Akhirnya satu bacok dibalas pihak satunya,” jelas Indera.

Kapolres juga membenarkan, akibatnya satu korban terkena bacokan. Korban dibawa ke Puskesmas Oesao dan meninggal di Puskesmas. “Sementara masih kami tangani. Piket siaga di TKP tapi suasana kondusif. Soal yang terkena luka-luka masih kami data,” kata Kapolres Indera.

Korban yang mendapat penganiayaan dan diselamatkan oleh Maksi Mesakh diketahui atas nama Ar Nokas (28), asal TTS dan Musa Kause (40) yang juga asal TTS serta Yerimia Naru (38) asal TTU. Ketiganya saat itu sedang menurunkan kayu api di lokasi peminangan, tepatnya di rumah alm. Hanok Nggeon.

Sementara warga yang terkena sabetan dari korban Maksi Mesakh di antarnya Mea Besik (27), Andy Haning (22), dan Benny Nggeon (28) yang merupakan warga RT 02/RW 01, Dusun I, Desa Tanah Merah.

Selain tiga korban yang terkena sabetan, terdapat korban luka terkena lemparan batu di antaranya Petrus Dale (42) alamat RT 02/RW 01, Dusun I Desa Tanah Merah. Tiga korban yang mengalami luka sabetan dilarikan ke RSUD S. K. Lerik Kota Kupang.

Selesaikan Akar Masalah

Selain kasus tersebut, kasus tawuran yang melibatkan kelompok massa juga sering terjadi di wilayah Kabupaten Kupang. Ini juga perlu diselesaikan hingga tuntas. Sehingga tidak menjadi benih persoalan di kemudian hari.

Hal ini dikatakan Ketua Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang, Rudolfus Talan, SH, M.Hum ketika dikonfirmasi koran ini, Kamis (8/8) malam. Rony Talan -demikian sapaan akrab Rudolfos Talan- dikonfirmasi mengenai kembali terjadinya tawuran di Kabupaten Kupang yang menyebabkan korban jiwa dan luka-luka, Kamis kemarin.

“Menjadi pertanyaan kenapa kasus itu terjadi berulang-ulang. Di wilayah yang sama. Harus diketahui akar masalahnya dulu sehingga penyelesaiannya tepat,” kata alumni pascasarjana Undip ini.

Menurut Rony, peran pemerintah sangat penting untuk menyelesaikan hingga tuntas masalah tersebut. “Pemerintah perlu proaktif. Melibatkan semua pihak terkait sehingga masalah segera diselesaikan hingga tuntas. Melibatkan tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat sangat penting,” usul Rony.

Rony yang kini membimbing dua mahasiswanya yang meneliti soal kajian kriminologis perseteruan antarperguruan di Belu dan Kabupaten Kupang itu menyarankan penyelesaian melalui pendekatan adat. “Itu sudah terbukti di Belu dimana ada penyelesaian secara adat dua kelompok yang sering berseteru. Ini mungkin perlu dilakukan juga di Kabupaten Kupang,” ujar Rony.

Dirinya pesimis jika penyelesaian kasus tersebut hanya melalui pendekatan penegakan hukum. “Pelaku tentu tetap diproses secara hukum. Namun, penyelesaian secara menyeluruh perlu dilakukan dengan pendekatan budaya,” kata Rony yang juga advokad ini.

Hal yang sama juga dikatakan anggota DPRD Kabupaten Kupang, Bento Humau. “Saya baru mendapat kabar ada pertikaian lagi antara warga di Desa Tanah Merah, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Kita sesali kasus yang sama terjadi lagi di Kabupaten Kupang. Ini perlu ada langkah serius yang dilakukan bersama antara pemerintah dan semua pihak yang terkait. Sehingga tidak perlu terulang lagi,” kata Bento.

Sekretaris Fraksi Nasdem DPRD Kabupaten Kupang ini juga sepakat penyelesaian dengan pola pendekatan adat dan budaya. “Saya juga setuju kalau penyelesaian dilalukan dengan pendekatan adat budaya. Semua pihak duduk bersama dan menyelesaikan secara budaya. Saya yakin ini akan lebih kuat,” kata Bento yang kembali terpilih sebagai anggota dewan itu.

Dia mengatakan, warga yang sering bertikai di Kabupaten Kupang itu sebenarnya masih ada hubungan keluarga. Karena itu, penyelesaian secara kekeluargaan dan adat merupakan yang paling tepat. Karena itu, dirinya akan mendorong pemerintah agar lebih proaktif mendorong penyelesaian secara adat tersebut.

“Kalau dibiarkan terus sampai kapan kasus yang sama ini berakhir. Perlu ada upaya serius dilakukan,” tegas Bento. (mg29/sam)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!