Rumah Subsidi Masih jadi Andalan Developer – Timor Express

Timor Express

EKONOMI

Rumah Subsidi Masih jadi Andalan Developer

KUNJUNGI STAND. Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore mengunjungi salah satu stand developer usai membuka dengan resmi kegiatan Bank NTT REI Expo, Jumat (9/8) malam tadi.

TOMMY AQUINODA/TIMEX

Bank NTT REI Expo Resmi Dibuka

KUPANG, TIMEX – DPD Real Estate Indonesia (REI) NTT bersama Bank NTT kembali berkolaborasi menggelar pameran perumahan bertajuk Bank NTT REI Expo. Bertempat di Atrium Lippo Plaza Kupang, expo kedua di tahun ini resmi dibuka, Jumat (9/8) malam tadi.

Pembukaan expo dihadiri Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja, Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore, Direktur Utama (Dirut) Bank NTT, Izhak Eduard Rihi dan jajarannya, sejumlah developer, notaris, dan tamu undangan lainnya.

Ketua DPD REI NTT, Bobby Thinung Pitoby dalam sambutan, mengatakan angka backlog perumahan di NTT sekitar 90.530 unit rumah. Sedangkan rumah tidak layak huni mencapai 314 ribu. Untuk menekan angka ini sekaligus merumahkan masyarakat pada rumah yang layak huni, maka perlu ada sinergi diantara seluruh stakeholder terkait.

Bobby menyebutkan, pada tahun 2018 lalu, REI NTT berhasil membangun 2.868 unit rumah. 85 persen di antaranya adalah rumah subsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Sedangkan penyerapan rumah komersil masih sangat rendah.
“Dari seluruh rumah yang sudah dibangun, sekitar 85 persen adalah rumah subsidi. Oleh karena banyak diserap, maka saat ini developer berlomba-lomba bangun rumah subsidi,” katanya.

Pada kesempatan itu, Bobby juga berterima kasih kepada Bank NTT yang mendukung penuh REI dalam menggelar expo. Hal ini menjadi bukti bahwa Bank NTT sangat berkosentrasi terhadap pemenuhan kebutuhan rumah di NTT.

CEO PT. Charson Timorland Estate itu juga berterima kasih kepada Walikota Kupang yang menaruh perhatian pada expo yang digelar REI bersama Bank NTT selama ini. Terlebih perhatian Walikota seputar rencana untuk me-review kembali aturan soal BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan). Sebab BPHTB adalah komponen dengan nilai terbesar yang harus disediakan MBR ketika hendak membeli rumah. “Uang muka hanya Rp 1,6 juta. Tapi masih ada komponen-komponen lain, dan salah satunya adalah BPHTB. Komponen ini sangat memberatkan MBR untuk membeli rumah subsidi. Jika dihapus, maka penyerapan rumah subsidi akan semakin besar,” terang dia.

Bobby menegaskan, REI NTT akan mendukung program Pemerintah Kota Kupang, termasuk program Smart City yang baru saja dilaunching. Sebagai bentuk dukungan terhadap program ini, ke depannya kawasan-kawasan perumahan akan dilengkapi dengan internet.

Sementara Dirut Bank NTT, Izhak Eduard Rihi dalam sambutan, mengatakan NTT masih jadi provinsi termiskin ketiga dengan persentase kemiskinan di atas 20 persen. Hal ini dikarenakan beberapa indikator kemiskinan berkaitan erat dengan sektor perumahan. Dan faktanya, angka backlog dan perumahan tidak layak huni masih sangat tinggi.

“Karena itu Bank NTT sampai hari ini tetap fokus untuk meningkatkan pembiayaan perumahan,” katanya.
Sampai dengan saat ini, lanjut Izhak, Bank NTT sudah mengucurkan dana sekitar Rp 253 miliar lebih untuk membiayai sektor perumahan. Menurut dia, angka ini mungkin besar bagi sebagian orang. Namun bagi Bank NTT, angka ini sebenarnya masih sangat kecil jika mengacu pada kebutuhan perumahan yang masih tinggi. Oleh karena itu, keberadaan Bank NTT bukan lagi sekadar menjadi bank yang sehat dan terpercaya, tetapi juga menjadi rumah perbendaharan dan kesejahteraan rakyat NTT.

“Dalam konteks rumah perbendaharaan, kita menjadi rumah yang layak bagi masyarakat NTT sehingga semua aset yang ada di Bank NTT akan dikelola dengan baik untuk kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.

Izhak menambahkan, Bank NTT saat ini tengah membangun ekosistem pembiayaan. Misalnya pada sektor pariwisata, pihaknya tidak sekadar membiayai pariwisata secara parsial, tetapi secara integrasi. Mulai dari merevitalisasi objek wisata, sampai pada revitalisasi rumah-rumah rakyat untuk dijadikan homestay bagi wisatawan.

“Kalau kita membangun hotel dengan 100 kamar di kawasan pariwisata, biaya yang kita butuhkan pasti besar. Tapi kalau kita revitalisasi rumah rakyat, misalkan dua kamar saja, maka dari 50 warga kita sudah dapat 100 kamar hotel,” katanya.
“Ini yang namanya konsep sharing ekonomi. Jadi bukan hanya investor hotel yang mendapatkan keuntungan, tapi rakyat juga mendapatkan sharing ekonomi ini sehingga mereka bisa bertumbuh,” sambung Izhak.

Selanjutnya, Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore dalam sambutan mengatakan perumahan adalah kebutuhan pokok manusia. Dan terkait dengan tingkat kemiskinan, perumahan juga menyumbang angka kemiskinan. Sebab dari belasan indikator kemiskinan, beberapa di antaranya terkait dengan perumahan. “Jadi kalau perumahan itu kita penuhi, kemungkinan besar angka kemiskinan bisa ditekan karena masyarakat keluar dari kemiskinan,” katanya.

Soal BPHTB yang menjadi harapan REI NTT agar segera direview, menurut Jefri, hal ini sudah dia bicarakan sejak lama. Hanya saja belum terealisasi, karena belum ada persetujuan dari dewan. “Saya sudah jelaskan ke teman-teman di dewan, tapi ada yang keberatan karena nanti ada banyak uang (pendapatan daerah, red) hilang. Padahal kalau BPHTB dihapus, tidak saja MBR terbantu, tapi aspek-aspek lain akan ikut berkembang. Kalau semuanya berkembang, pasti akan muncul banyak sumber-sumber pendapatan bagi daerah,” jelas orang nomor satu di Kota Kupang itu.

“Kesejahteraan masyarakat harus menjadi prioritas, karena orang susah di Kota Kupang juga cukup banyak. Jadi kita harus menolong mereka, jangan kita lihat soal penurunan PAD hanya karena BPHTB dihapus,” tambah Jefri.

Jefri menyebutkan, warga Kota Kupang yang belum memiliki rumah layak huni, tidak saja MBR. Tetapi banyak ASN di lingkup Pemkot Kupang juga belum memiliki rumah. Untuk itu, pihaknya berencana menghibahkan tanah Pemkot untuk dibangun perumahan bagi ASN dan MBR.

“Hanya saja ini harus mendapat persetujuan lembaga-lembaga terkait, supaya ke depannya tidak jadi masalah,” ungkapnya.
Untuk diketahui, Bank NTT REI Expo, sebagaimana laporan Ketua Panitia Simson Polin, akan digelar selama 10 hari ke depan sampai dengan tanggal 18 Agustus 2019. Expo ini diikuti 13 developer ternama dengan lokasi perumahan yang tersebar di 38 lokasi di seluruh NTT. Pada expo kali ini, REI NTT menargetkan penjualan rumah sebanyak 250 unit dengan nominal Rp 35 miliar.

Selama pelaksanaan expo, panitia juga menyelenggarakan beberapa lomba, yakni lomba menyanyi tingkat SD, lomba baca puisi bertema kebangsaan tingkat SD, lomba mewarnai tingkat PAUD dan SD, serta aksi donor darah yang dipelopori oleh PSMTI dan Full Gospel Fellowship International. (tom/sam)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!