Terapkan Pola Ekonomi Keumatan untuk Tekan Inflasi – Timor Express

Timor Express

EKONOMI

Terapkan Pola Ekonomi Keumatan untuk Tekan Inflasi

BERBASIS KEUMATAN. Kepala Perwakilan BI Provinsi NTT, I Nyoman Aryawan Atmaja, bersama Handrianus P Asa, didampingi Ketua Majelis Jemaat GMIT Baitel Maulafa, Pdt. Lorry Lena-foeh, S.Th dan Aram Kolifai serta umat setempat, saat meninjau lokasi pertanian holtikultura di depan gedung gereja, Jumat petang lalu.

IST

Kepala BI Tinjau Pusat Pertanian Holtikultura GMIT Bait’El Maulafa

Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus berupaya menekan inflasi. Tahun-tahun sebelumnya, kerja keras ini membuahkan hasil, manakala inflasi NTT adalah terendah di tingkat nasional, dan malah masuk dalam jajaran tiga kota terbaik di Indonesia Timur.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, I Nyoman Aryawan Atmaja, akhir pekan kemarin, meninjau pusat pertanian keumatan yang diasuh oleh jemaat GMIT Bait’El Maulafa. Ia pun mengaku tertarik dengan pengembangan hortikultura yang dilaksanakan GMIT Bait’El Maulafa. “Saya tertarik ke sini untuk melihat dari dekat supaya kedepan kita kembangkan ekonomi keumatan di NTT. Memang ke depan kan ada juga pesantren dengan ekonomi syariah. Namun di sisi lain juga ada gereja, Hindu dan Budha. Karena kalau basisnya ekonomi kerakyatan, maka pasti akan kuat. Karena kalau kita sudah tangani ke middle class, sangat powerfull. Ini sebenarnya bagian dari fungsi BI untuk mengendalikan inflasi,” kata Nyoman.

Dia mengapresiasi terobosan yang dilakukan oleh ketua majelis jemaat setempat, Pdt. Lorry Lena-Foeh, S.Th yang menggerakkan seluruh komponen jemaatnya untuk menanam aneka tanaman holtikultura di lahan-lahan kosong. Hingga saat ini, sudah tujuh hektar lebih lahan yang ditanami aneka sayuran maupun cabe dan bawang. “Dengan adanya leader seperti pendeta, ustad, pengembangan ekonomi berbasis kerakyatan ini akan tumbuh bagus. Benefitnya bagi BI adalah bagaimana kita memgendalikan inflasi, kedua adalah kita meningkatkan pendapatan dari umat dan ketiga, untuk konsumsi diri sendiri. Ini manfaat yang menurut saya, sebagai pimpinan BI, sangat bagus project ini,” ujar Nyoman lagi.

Setelah dia meninjau beberapa titik penanaman sayuran, dia mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya kendalanya di air. “Saya sudah liat, dan saya simpulkan, kendalanya di air. Kalau tidak ada air, orang mau ngapa-ngapain susah.”
Tak hanya itu, melainkan dia menangkap semangat yang luar biasa dari kelompok-kelompok di Maulafa, sehingga perlu ada sebuah tempat pelatihan yang baik, representatif sehingga nantinya orang lain pun bisa datang dan belajar dari mereka. “Sehingga bisa diduplikasi ke kelompok yang lainnya. Jadi kita akan pikirkan bagaimana air kedepan, dan juga tempat pelatihan yang cukup,” tambahnya lagi.

Tak hanya di Kupang, melainkan pihaknya pun akan masuk ke beberapa daerah untuk mendorong agar masyarakat mengoptimalkan sumberdaya pertanian yang ada aggar nantinya disuplai ke beberapa daerah yang kekurangan. Ini strategi yang dibangun untuk mengendalikan inflasi. “Kita sedang pikirkan bantuan ke beberapa tempat, sehingga teman-teman kita minta melakukan asesment ke beberapa kabupaten dan kota sejauh mana potensinya yang ada dan apa yang akan dikembangkan. Kami juga berbicara mengenai beras di Manggarai, sawah 3500 hektar itu sebuah potensi yang sangat besar menjadi bagian dari memenuhi kebutuhan pakan di NTT. Ini yang akan dipikirkan untuk dibranding menjadi beras premium lokal untuk memenuhi kebutuhan di NTT.”
Menurutnya, setiap daerah punya potensi sendiri-sendiri, dan tidak bisa disamakan. Di perkotaan pun karena daerahnya terbatas, lahannya kering sehingga butuh pola pertanian berbasis holtikultura untuk pemenuhan kehidupan masing-masing umat dan dijual untuk menambah pendapatan keluarga.

BI, menurutnya, sangat mendukung pola pertanian berbasis keumatan. Hanya butuh analisais yang kuat sehingga sustainable dan tidak hanya satu dan dua tahun. “Kita nggak mau seperti itu. Jadi, project ini harus berkelanjutan dan diduplikasi ke tempat lain,” tegas Nyoman.

Saat itu dia didampingi salah satu pejabat BI NTT, Handrianus P. Asa. Ada pola yang dipakai oleh BI untuk menciptakan keseimbangan kebutuhan di masyarakat, yakni membina cluster-cluster di beberapa daerah. Seperti bawang di Belu, cabe di Sumba Barat Daya dan beberapa lagi. “Kami dari Bank Indonesia ke depan tidak akan kerja sendiri, melainkan kami akan mengajak seluruh stakeholder yang ada, terutama pemerintah kota dan kabupaten untuk bekerjasama, menjalankan misi bagaimana mengendalikan inflasi. BI bukan sinterklass yang harus ada dimana-mana, melainkan BI memberikan cluster percontohan. Nah, setelah model ini ada, sebaiknya diduplikasi oleh Pemda baiuk kabupaten maupun kota. Kami berharap koordinasi dan kolaborasi semakin bagus karena BI hanya memberikan model dalam pengembangan cluster-cluster saja,” pungkasnya.

Sementara itu, Pdt. Lorry Foeh didampingi Aram Kolifai selaku salah satu penggerak di kelompok pertanian setempat, kepada koran ini berterima kasih atas kunjungan itu, apalagi ada sambutan baik dari BI untuk membantu mereka dalam memenuhi sejumlah kebutuhan seperti sumur bor dan juga pembangunan pusat pelatihan dan pembibitan. “Kami sangat berterima kasih atas perhatian BI ini. Tentu, ke depan kami akan semakin giat lagi, karena selama ini kami hanya mengandalkan satu buah sumur bor saja, yang tentu takkan mampu melayani kebutuhan air seluruh kelompok. Banyak lahan kosong yang tak ditanami karena ketiadaan air. Ini semangat baru bagi kami, sehingga saya percaya kami akan lebih produktif lagi,” jelas dia.

Diakui, apa yang mereka lakukan adalah sebuah capaian yang sudah bemanfaat bagi banyak orang. Karena mereka menghasilkan sayur mayur yang bebas pestisida dan juga bebas pupuk kimia. Semuanya menggunakan kompos. (*/sam)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!