Garmin Tak Gunakan Layar Sentuh untuk Smartwatch – Timor Express

Timor Express

INFO TEKNO

Garmin Tak Gunakan Layar Sentuh untuk Smartwatch

JAM TANGAN GARMIN. Marketing Manager Garmin Indonesia Rian Krisna saat memperkenalkan Garmin Marq, Rabu (31/7).

Garmin Indonesia for Jawa Pos

Pada Rabu 31 Juli, Garmin secara resmi meluncurkan Marq, smartwatch premiumnya untuk pasar Indonesia. Harga lima jam tangan itu dibanderol dari Rp 27,9 juta sampai Rp 46 jutaan. Meski mahal, Garmin tetap tidak menggunakan layar sentuh maupun amoled seperti kompetitornya untuk seri Marq.

Di pasar Indonesia, ada beberapa brand yang memiliki smartwatch untuk pasar premium. Salah satu yang popular, smartwatch dengan sistem operasi Wear OS Android atau Watch OS milik Apple. Produknya selalu dilengkapi dengan layar sentuh dan amoled display untuk menghasilkan gambar yang lebih tajam.

Namun, Garmin tidak demikian. Bukan hanya Marq, seri sebelumnya seporti Fenix Series juga demikian. Bahkan, ketika smartwatch lain sudah mendukung pemutar musik, Garmin untuk produk premiumnya baru menghadirkan lewat Fenix 5 Plus series. Wakil Presiden Garmin untuk Bisnis Outdoor Brad Trenkle punya alasan tersendiri.

Saat JawaPos.com bertemu dengannya di Taiwan pada 26 Juni untuk peluncuran Marq di Asia, dia menyampaikan alasan itu. Katanya, Garmin memang sengaja belum menggunakan layar amoled dan layar sentuh. ’’Amoled teknologi yang bagus. Layarnya lebih vibrant. Tapi, punya pengaruh besar ke konsumsi baterai,’’ ujarnya.

Layar amoled untuk smartwatch memang punya masalah pada baterai yang boros. Banyak smartwatch yang daya tahannya hanya bisa satu atau dua hari saja. Sedangkan pada Marq Series, Brad mengklaim bisa sampai 12 hari. Lantas, bagaimana dengan absennya fitur layar sentuh?

’’Menggunakan touchscreen bisa jadi belum cocok saat ini. Saat mau latihan seperti lari, lalu berkeringat, bakal kesulitan untuk mengakses smartwatch,’’ terangnya.

Lima seri Marq yakni Driver untuk aktivitas balap, Aviator untuk pilot atau penggemar dunia penerbangan, Captain untuk yang suka kegiatan di laut, Expedition untuk petualang, dan Athlete untuk olahragawan, memiliki baterai kuat dan tanpa layar sentuh. Namun, tombol-tombol yang ada sudah diatur sedemikian rupa untuk memudahkan mengakses berbagai fitur.

Managing Director Garmin untuk Asia Engelhard Sundoro menambahkan, pihaknya siap untuk menggarap pasar premium Indonesia. Menurutnya, pasar Indonesia itu unik. Segala level pembeli ada. Mulai dari entry level, medium, hingga high end. ’’Itulah kenapa, kelimanya kami bawa ke Indonesia,’’ ujarnya.

Kesadaran masyarakat Indonesia untuk meningkatkan gaya hidup sehat ikut menambah gairah Garmin untuk menggarap pasar smartwatch. Pengalaman Garmin yang sudah 30 tahun dalam akurasi data menjadi modal kuat untuk itu. Untuk keseriusan itu, dia memberikan treatment khusus untuk Indonesia.

’’Kami kerja sama dengan TAM Erajaya untuk dapat support. Semua produk yang dijual di Indonesia dapat tambahan garansi dan harganya diturunin dibanding beli di Amerika sekalipun,’’ terangnya.

Disinggung soal persaingan dengan produk lain yang lebih murah di Indonesia, pria yang akrab disapa Al itu menyebut sudah siap. Beberapa tahun ini, Garmin menghadirkan banyak pilihan produk untuk segala segmen. ’’Mungkin produk kami bukan yang termurah. Tapi kita bawa banyak opsi,’’ ungkapnya.

VP Digital Marketing Erajaya Swasembada Eric Lee menyebut pasar Indonesia unik. Dia tidak was-was menjadi rekan Garmin untuk memasarkan smartwatch dengan harga puluhan juta. ’’Dari data kami, justru produk premium itu punya pasar sendiri. Pasti laku,’’ katanya, Rabu (31/7). (jpg/tom)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!