Ibadah Kurban Sebagai Bentuk I’tibar – Timor Express

Timor Express

FLORES RAYA

Ibadah Kurban Sebagai Bentuk I’tibar

Ribuan Umat Muslim Kota Ende Salat di Lapangan Pancasila

ENDE, TIMEX – Ribuan umat muslim yang berada di Kota Ende melaksanakan salat Idul Adha di lapangan Pancasila Ende, Minggu (11/8). Jamaah tidak saja salat di lapangan, tetapi juga berada disepanjang jalan Soekarno mulai dari kantor Dinas Pariwisata hingga rumah jabatan Dandim 1602/Ende.

Selain itu, di halaman kantor Kecamatan Ende Selatan dan di taman Renungan Bung Karno.

Bertindak sebagai khotib, Ustad Pua Ibrahim, Pengawas Kantor Kemenag Kabupaten Ende dan sebagai imam  Ustad Muhammad Nasir, imam Masjid Ar Rabitha Kota Raja Kecamatan Ende Utara.

Hadir dalam salat Idul Adha di lapangan Pancasila, Plt Bupati Ende, Djafar Achmad, Kapolres Ende, AKBP Achmat Muzayin, Dandim 1602/Ende, Letkol Inf Mochamad Fuad Suparlin dan Ketua PHBI, Mansur Do.

Dalam khotbahnya, Ustad Pua Ibrahim mengupas soal pengorbanan nabi Ibrahim yang mengikuti perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya Ismail.

Dia menyebutkan, esensi ibadah kurban setiap tahun yang dilaksanakan sebagai bentuk i’tibar atau pengambilan pelajaran dari krisis Ibrahim yang menyembelih anaknya. Menurut dia, adalah bukti spirit yang mulia bukan sebagai ritual tanpa makna atau tradisi tanpa arti.

Dia menyebutkan, ada tiga poin yang bisa dipetik dari krisis Ibrahim dan Ismail serta ritual penyebelihan hewan kurban secara umum. Poin yang pertama kata dia adalah totalitas kepatuhan kepada Allah SWT, di mana mendapat ujian berat saat kebahagiaan mereka meluap-luap ketika hadirnya seorang anak buah hati mereka.

Perintah Allah untuk menyembelih anaknya Ismail, mau mengingatkan Ibrahim bahwa anak adalah titipan Allah.

“Anak betapapun mahalnya kita menilai tidak boleh melengahkan kita bahwa hanya Allah tujuan akhir rasa cinta dan kesatuan,” ujarnya sambil menambahkan, betapa mulianya Ibrahim yang sanggup mengalahkan egonya untuk pertahankan nilai ilahi.

Poin kedua yang dikemukakan adalah kemuliaan manusia di mana diingatkan untuk tidak menganggap mahalnya sesuatu bila untuk mempertahankan nilai-nilai ketuhanan di mana tidak boleh meremehkan nyawa dan darah.

“Pengganti domba mengandung pesan bahwa tubuh manusia sebagai tradisi kelompok zaman dulu adalah haram untuk di sembelih. Manusia dan manusia adalah saudara dan dilahirkan dalam satu keturunan Adam,” katanya sambil menambahkan, larang menyembelih manusia sebagai penegasan hukum.

Sebagai poin ketiga adalah tentang hakekat pengorbanan, di mana bukan takaran hewan kurban melainkan ketulusan memupuk kedekatan untuk Sang Pencipta yang termanifestasi dalam silaturahmi antara sesama.

Terpisah, Plt Bupati Ende, Djafar Achmad mengatakan, masyarakat bisa mengikuti keteladanan nabi Ibrahim dan Ismail dengan menjawab apa yang menjadi contoh yang dilakukan kedua orang tersebut.

“Sifat sabar dan saling mendengarkan serta dialog yang baik antara Ibrahim dan Ismail sebelum disembelih menjadi contoh yang baik bagi kita khususnya umat muslim di Kabupaten Ende,” kata Djafar.

Dia menyebutkan, sifat yang ditunjukkan seperti dialog antara Ibrahim dan anaknya Ismail bisa menjadi contoh dialog pemerintah atau pejabat.

Sementara itu data yang dihimpun dari PHBI Kabupaten Ende, jumlah hewan yang diterima PHBI sebanyak 187 ekor dengan rincian, sapi 137 ekor dan kambing 50 ekor. Usai salat dilakukan penyerahan hewan kurban dilakukan Plt Bupati Ende, Djafar Achmad, Kapolres Ende, AKBP Achmat Muzayin dan Dandim 1602/Ende, Letkol Inf Mochamad Fuad Suparlin. (kr7/ays)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!