Dukung Emi Lawan Viktor – Timor Express

Timor Express

POLITIK

Dukung Emi Lawan Viktor

DISAMBUT. Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok menyapa para pendukungnya di halaman Sekretariat DPD PDIP NTT, Selasa (13/8).

IST.

Ahok Bicara Strategi Menangkan PDIP di 2024

KUPANG, TIMEX – Kunjungan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Kota Kupang mendapat sambutan meriah. Hampir 1.000 orang memadati Kantor DPD PDI Perjuangan NTT yang terletak di Jalan Piet A. Tallo, Kelurahan Oesapa Selatan, Selasa (13/8).

Ahok datang sebagai kader PDIP dan menjalankan amanat Kongres V di Denpasar, Bali serta perintah Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Namun dia membantah jika apa yang dia lakukan adalah kegiatan kampanye. “Kalau untuk PDIP, saya kira tidak,” kata Ahok yang ditanya Timor Express usai dialog di Kantor PDIP tersebut.

Ahok juga menolak mentah-mentah ketika diminta oleh peserta dialog agar menjadi calon Gubernur NTT pada pilgub 2023 nanti. Menurut dia, kedatangannya ke NTT atau ke daerah lain, bukan untuk menjadi kepala daerah. “Saya tidak mungkin jadi kepala daerah di NTT. Karena saya tidak kuasai NTT. Saya datang ke NTT ini berharap, muncul ahok-ahok baru. Saya juga kenal gubernur NTT, dan saya ingin dorong pemimpin di NTT untuk menjadi pemimpin bagi rakyat NTT dengan baik. Kalau dia tidak mau, tentu ada banyak orang yang bisa. Ada Ibu Emi, ada Ansy,” kata Ahok.

Dia pun mendoakan Emelia Nomleni agar menjadi Ketua DPRD NTT. Menurut Ahok, Emi adalah figur perempuan yang bisa diandalkan. Karena menjadi runner up dalam pilgub NTT 2018 lalu. Sehingga ketika Emi menjadi Ketua DPRD NTT, akan lebih menarik, karena gubernur akan bermitra dengan Emi yang adalah peraih suara terbanyak kedua. Jika gubernur tidak bekerja secara baik, bukan tidak mungkin pendukungnya akan berbalik mendukung Emi di Pilgub 2023. “Udah, ngga usah mimpi. Ngga pokoknya. Emangnya ngga dianggap, Bu Emi, Pak Viktor (Laiskodat)? Ada dua kok. Tinggal diadu aja, mana yang lebih baik,” sambung Ahok yang ditanya untuk kedua kalinya oleh peserta dialog.

Mantan anggota Komisi II DPR RI itu juga menepis pertanyaan terkait kemungkinan dirinya menjadi salah satu menteri dalam kabinet Jokowi-Ma’ruf yang sedang digodok. Ahok yang memiliki banyak ide dan gagasan terkait ekonomi kerakyatan dan berjiwa sosial, diminta untuk menjadi menteri agar bisa menjalankan gagasannya itu. “Saya kira tidak jadi menteri juga bisa bantu. Kenapa mesti jadi menteri,” timpalnya.

Dalam dialog yang berlangsung sekira dua jam itu, Ahok lebih banyak berbagi tentang pengalamannya meniti karir sebagai politikus. Mulai dari anggota DPRD Kabupaten di Belitung Timur lalu menjadi bupati di daerah asalnya itu.

Selanjutnya Ahok mencalonkan diri menjadi gubernur di Provinsi Bangka Belitung namun gagal. Kemudian Ahok menjadi anggota DPR RI yang kemudian menjadi wakil gubernur DKI Jakarta lalu menjadi gubernur DKI. Menurut Ahok, kisah hidupnya begitu lengkap di dunia politik. Dan itu disempurnakan ketika dia harus mendekam di balik jeruji besi selama 20 bulan lebih.

Meski sempat berniat untuk tidak bergabung dengan salah satu partai politik, Ahok kemudian memilih PDIP sebagai tempat berlabuh. Ini pun melalui proses panjang. Ahok belajar dari sejumlah buku yang berisi tentang kiprah Bung Karno yang menjadi landasan pijak berdirinya PDIP. Sehingga Ahok menilai, PDIP adalah partai nasionalis yang bisa dipercaya untuk tetap menjaga keutuhan NKRI dengan benteng utamanya Pancasila.

Dia pun bercerita tentang nasehat Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri yang mengatakan, negara ini secara sistem dibangun oleh partai politik. Mulai dari eksekutif dan legislatif, bahkan lembaga-lembaga atau institusi diatur melalui partai politik.

Saat masuk penjara, Ahok menilai negara ini dalam bahaya. Ancaman paling besar yang akan memecah belah NKRI adalah pengaruh kekuatan radikalisme yang ingin mengganti idiologi Pancasila. Untuk itu, dia ingin ikut berjuang mempertahankan NKRI. “Saya bersyukur saat di penjara, saya membaca 58 buku. Termasuk buku-buku dan surat-surat Bung Karno saat di Ende. Dan juga pidato-pidatonya,” kisah Ahok.

Meski sudah mendapat kehormatan di PDIP, Ahok mengaku tidak meminta jabatan apapun. Karena dia tidak ingin disebut menjadi jabatan di parpol. Sama halnya dengan jabatan menteri yang sedang digadang-gadang. “Saya hanya akan bantu, kata Pak Sekjen, saya menjadi guru di sekolah-sekolah politik PDIP,” sambungnya.

Nanti, Ahok akan berbagi kepada kader-kader PDIP tentang kebijakan-kebijakannya yang tertuang di dalam bukunya. Cerita tentang pengalamannya sejak memulai karir dari anggota DPRD di kabupaten. “Tujuannya satu, saya ingin PDIP bisa dapat suara di atas 33 persen di 2024. Itu yang saya mau lakukan,” tutup Ahok.

Sebelumnya, Ahok menghadiri dialog bersama tokoh agama dan para pemimpinan perguruan tinggi serta organisasi kepemudaan di Hotel Naka Kupang. Hadir pada kesempatan itu, Rektor Undana, Prof.Fred Benu, Rektor Unwira Kupang, Pater Philipus Tule, Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Meri Kolimon. Ada pula Romo Maxi Un Bria dan sejumlah tokoh lain.

Ahok didampingi Ketua DPD PDIP NTT, Emelia Nomleni dan Sekretaris, Yunus Takandewa, Bendahara, Patris Lali Wolo. Ada pula Anggota DPR RI terpilih dari PDIP, Yohanes Fransiskus Lema atau Ansy Lema yang juga kerabat dekat Ahok saat masih menjadi gubernur di DKI.

Emi Nomleni dalam pengantarnya mengatakan, Ahok datang atas penugasan Ketua Umum PDIP. Dia diutus datang untuk berbagi bersama kader di NTT tentang apa yang bisa dikerjakan di NTT. “Ahok sudah menjadi bagian dari PDIP, namun juga menjadi milik semua yang memiliki panggilan untuk bekerja untuk keadilan dan kesejahteraan dan kebaikan semua orang,” kata Emi. (cel/sam)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!