Mari Tinggalkan Jejaki Kaki, Bukan Sampah – Timor Express

Timor Express

OPINI

Mari Tinggalkan Jejaki Kaki, Bukan Sampah

Oleh: Diana Ndun

Mahasiswi Program Studi Pendidikan Biologi, UKAW Kupang

Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi kepulauan yang terletak di sebelah selatan wilayah Indonesia dan memiliki luas laut 200.000 km2 (diluar ZEEI). Di dalamnya memiliki sumberdaya kelautan dan perikanan yang dapat dikembangkan untuk kepentingan masyarakat dan mengoptimalisasikan pemanfaatan sumberdaya kelautan dengan tetap mempertahankan daya dukung linkungan pesisir laut bagi kepentingan masyarakat serta menambah devisa bagi daerah NTT ( Risamasu, 2014).

Kota kupang adalah ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur dan merupakan kota terbesar di bagian barat laut Pulau Timor. Kota Kupang pada tahun 2007 menyebutkan bahwa secara administrasi berfungsi sebagai pusat pemerintahan Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Kota Kupang. Pantai Pasir Panjang merupakan salah satu kawasan yang termasuk dalam lingkup taman wisata alam laut Kota Kupang. Dinamakan Pantai Pasir Panjang karena memiliki hamparan pasir yang memanjang di sisi pantai. Pantai ini sangat indah dan menjadi tempat favorit untuk menghabiskan waktu saat senja tiba.

Pada lokasi ini salah satu sektor yang cukup berkembang adalah perhotelan, tentu bukan tanpa alasan para investor memilih lokasi ini. Namun hotel-hotel di pesisir Pasir Panjang ini sebagian besar membuang efluen limbah cairnya ke laut. Kondisi ini akan berpengaruh terhadap kualitas air laut dan berdampak pada kelangsungan hidup biota dan mikroorganisme laut.

Limbah cair yang dihasilkan memerlukan pengolahan terlebih dahulu sebelum dibuang ke badan air agar tidak menimbulkan pencemaran pada badan air. Sebagian besar hotel di pesisir Kota Kupang membuang limbah cairnya ke perairan terdekat. Limbah cair yang dibuang tersebut ada yang melalui pengolahan namun ada pula yang tidak melalui pengolahan terlebih dahulu. Unit pengolahan limbah cair yang dimiliki beberapa hotel di pesisir Kota Kupang belum memenuhi standar  pengolahan limbah cair hotel. Hal ini dapat menyebabkan kualitas efluen yang dihasilkan juga tidak memenuhi baku mutu limbah cair perhotelan, akibatnya efluen yang dibuang ke perairan dapat berpengaruh terhadap status mutu air laut yang berhadapan dengan hotel-hotel tersebut, dan menyebabkan kekacauan bagi biota laut dan habitatnya (Megarini, 2015).

Hasil penelitian (Ndun, 2019) tentang Uji Kualitas Air Laut di Pantai Pasir Panjang, Kota Kupang, NTT, bahwa dari tiga parameter yang terdiri dari 7 indikator yaitu parameter fisik (suhu, sampah, kebauan dan kecerahan), kimia (pH dan salinitas), mikrobiologi (total bakteri coliform). Indikator yang tidak memenuhi baku mutu air laut adalah sampah (5 kg/m3, kebauan, dan total coliform 1100 sel). Banyaknya volume sampah di perairan disebabkan oleh kebiasaan masyarakat yang membuang sampah secara langsung ke badan air laut baik berupa sampah organik maupun anorganik. Sampah-sampah ini menjadi penyebab mengapa air laut itu berbau dan juga dapat meningkatkan tingginya kehadiran bakteri coliform.

Sampah plastik merupakan komponen yang paling sulit diurai proses alam sehingga berbahaya bagi ekosistem perairan dan kesehatan manusia di daratan. Membahayakan kesehatan manusia karena akibat pencemaran plastik di laut telah ditemukan plastik. Ikan di laut bisa saja menelan plastik tersebut, ditangkap oleh nelayan dan dibawa ke daratan dan dikonsumsi, tentu saja kesehatan manusia terganggu bahkan bisa menimbuulkan penyakit seperti kanker.

Perlu kesadaran bersama dari masyarakat dan pemerintah untuk mengatasi pencemaran sampah khususnya di Pantai Pasir Panjang. Sebab lebih dari 80% sampah di lautan berasal dari aktivitas manusia di daratan. Sudah saatnya pemerintah lebih tegas menetapkan aturan larangan membuang sampah di laut mumgkin berupa kurungan badan atau denda bagi siapa saja pelaku pembuangan sampah ke laut. Pemerintah juga perlu mengedukasi masyarakat bagaimana mengelola sampah domestiknya agar tidak seluruhnya dibuang. Misalnya sampah organik dari sisa-sisa sayuran dan bumbu yang diolah menjadi pupuk kompos atau mengelola sampah anorganik yang bisa dimanfaatkan kembali, seperti kaleng susu bayi yang sudah tidak terpakai dimanfaatkan sebgai celengan atau tempat pensil. Sederhana namun apabila kesadaran ada pada masyarakat maka hasilnya sampah bisa berkurang dan lingkungan sekitar pun menjadi bersih, terutama daerah pesisir pantai. (*)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!