Ormas Ramai-ramai Laporkan Abdul Somad – Timor Express

Timor Express

HUKUM

Ormas Ramai-ramai Laporkan Abdul Somad

LAPOR. Ketua Brigade Meo NTT, Mercy Seubelan dan kuasa hukum didampingi anggota membuat laporan polisi di SPKT Polda NTT, Senin (19/8).

INTHO HERISON TIHU/TIMEX

Diduga Menista Agama

KUPANG, TIMEX – Ustaz Abdul Somad (UAS) dilaporkan oleh ormas Brigade Meo NTT ke Kepolisian Daerah (Polda) NTT, Senin (19/8). UAS diduga menista agama melalui videonya yang viral beberapa hari terakhir ini.

Anggota dan pengurus Brigade Meo NTT yang berjumlah belasan orang tiba di SPKT Polda NTT, sekitar pukul 12.00. Rombongan Brigade Meo didampingi tiga penasehat hukumnya yakni Hangri Herman Beltasar Pah, SH, Margaret Angelin Putri Lestari Meni, SH dan Yakoba Yanthy Susanti Seubelan.

Dijelaskan kejadian tersebut berawal saat saksi atas nama Zweng Lee Faley melihat video di chanel Youtube yang berjudul “Ustad Abdul Somad hina agama Kristen.” Dalam video UAS mengatakan di salib ada setan atau jin. Oleh karena itu, menurut saksi dan para pelapor bahwa terlapor (UAS) telah menghina simbol salib dan patung.

Terlapor juga mengucapkan kata “Haleluya” dengan nada mengejek, seolah-olah jin yang memanggil dengan kata haleluya.
Ketua Brigade Meo, Mercy Seubelan mengatakan terlapor dalam dugaan kasus penistaan agama ini adalah Ustaz Abdul Somad (UAS). “Ceramahnya yang melecehkan dan mencederai umat Kristen dan Katolik. Padahal kita baru merayakan HUT RI dan memiliki hak yang sama dalam beragama,” ungkap Mercy.

Ia menambahkan tidak ada permusuhan dengan UAS namun karena dalam ceramahnya telah memprovokasi dan mencederai umat Kristen dan Katolik di Indonesia, khususnya di NTT. Untuk itu, UAS dinilai harus mempertanggungjawabkan pernyataannya tersebut.
Dia meminta UAS bisa memberikan klarifikasi dan permohonan maaf kepada umat Kristen dan Katolik. “Kami laporkan Ustaz Abdul Somad sebagai pribadi. Tak ada kaitannya dengan umat muslim. Jika ustaz keliru, maka kami harap ada permohonan maaf dan klarifikasi serta menjadikan persoalan ini sebagai efek jera bagi masyarakat lainnya,” katanya.

Sementara itu, Yakoba Yanthy Susanti Seubelan usai melapor mengatakan pihaknya menyerahkan sepenuhnya persoalan ini kepada pihak kepolisian. “Ini sebagai edukasi hukum untuk masyarakat lainnya agar bisa saling menghargai antarumat beragama,” katanya.
Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol. Jules Abraham Abast secara terpisah membenarkan adanya laporan ormas Brigade Meo NTT. Pihaknya akan menindaklanjuti laporan tersebut. Penanganan selanjutnya akan dilakukan penyelidikan terlebih dahulu hingga penyidikan. “Kita akan berkoordinasi dengan Polres sejajaran Polda NTT yang kemungkinan menerima laporan polisi yang sama dengan pelaporan Brigade Meo,” ujarnya.

Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Mabes Polri terkait laporan polisi dengan kejadian atau peristiwa tersebut yang berada pada wilayah hukum di luar Polda NTT. “Kami mengimbau agar masyarakat tidak terprovokasi oleh berita-berita atau konten berbau SARA yang berusaha mengadu domba masyarakat dan bilamana mendapatkan video seperti itu tidak menyebarkannya lagi. “Mari jaga persatuan dan kesatuan bangsa. Tetap pelihara situasi Kamtibmas yang aman dan damai guna mewujudkan Indonesia Maju dan Sejahtera,” imbuhnya.

Untuk diketahui, laporan polisi yang disampaikan Brigade Meo bernomor: STTL/B/129/VIII/Res.1.24/2019/SPKT tertanggal 19 Agustus 2019 yang diterima oleh Brigpol. Ricky Henuk. Bukti yang dibawakan untuk membuat laporan tersebut yakni slide video yang diposting oleh akun Youtube milik Hombink Siltor. Pasal yang dikenakan pada laporan tersebut yakni pasal 156 a dan pasal 28 tentang Undang-Undang ITE.

Sebelumnya, Sabtu (17/8), Ustad Abdul Somad juga dilaporkan DPC PMKRI Maumere dalam kasus yang sama. Senin kemarin, aktivis PMKRI Cabang Maumere melakukan aksi di depan Mapolres Sikka menuntut Polres Sikka segera memproses laporan tersebut.

UAS Juga Dilaporkan ke Bareskrim

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) juga melaporkan UAS atas dugaan penistaan agama. Pernyataan UAS di pengajian itu dinilai merugikan.

Ketua GMKI Korneles Jalanjinjinay menjelaskan, dalam video tersebut UAS menyatakan bahwa simbol agama itu tertentu seperti setan. Tentunya, hal tersebut sangat merugikan. “Maka, kami melaporkannya, ini menyangkut kepentingan bangsa dan negara,” ujarnya.

Dengan laporan ini, diharapkan UAS bisa segera diperiksa dan menjelaskan pernyataannya. Sehingga, bisa diketahui posisi hukumnya seperti apa. “Seharusnya, semua menghargai dan menghormati agama masing-masing,” terangnya.

Menurutnya, pihaknya baru mengetahui video itu pada Sabtu lalu (17/8). Serta, saat ini GMKI semua cabang juga akan melaporkan ke tiap polres di kota masing-masing. “Kalau ditanya mau bertemu, silakan. Tapi, ini negara hukum, jadi mau ketemu atau berdamai, tapi proses harus jalan,” urainya.

Sementara Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi mengungkapkan keprihatinan dan menyesalkan beredarnya video tersebut sehingga menimbulkan polemik yang dapat mengganggu harmoni kehidupan umat beragama di Indonesia. “MUI meminta kepada aparat kepolisian untuk mengusut pengunggah pertama video yang diduga mengandung konten SARA tersebut untuk mengetahui motif, maksud dan tujuan dari pelakunya,” kata Zainut kemarin (20/8).

Ia juga mengimbau kepada semua pihak untuk dapat menahan diri, tidak terpancing dan terprovokasi oleh pihak-pihak yang sengaja ingin menciptakan keresahan di masyarakat dengan cara mengadu domba antarumat beragama. “Hati-hati dan dewasa dalam menyikapi masalah tersebut agar tidak menimbulkan kegaduhan dan membuat masalahnya menjadi semakin besar dan melebar kemana-mana,” jelasnya.

Zainut menjelaskan, MUI memahami masalah keyakinan terhadap ajaran agama adalah sesuatu yang bersifat sakral, suci dan sensitif bagi pemeluknya. Sehingga hendaknya semua pihak menghormati dan menghargai keyakinan agama tersebut.
Oleh karenanya, menurut Zainut, penting bagi semua tokoh agama khususnya umat Islam untuk bersikap arif dan bijaksana dalam menyampaikan pesan-pesan agama, menghindarkan diri dari ucapan yang bernada  menghina, melecehkan dan merendahkan simbol-simbol agama lain. “Selain dapat melukai perasaan hati umat beragama, juga tidak dibenarkan baik menurut hukum maupun ajaran agama,” jelasnya.

Terhadap masalah yang menimpa Ustadz Abdul Somad, Zainut menyarankan agar para pihak menempuh jalur musyawarah dengan mengedepankan semangat kekeluargaan dan persaudaraan. “Jika jalur musyawarah/kekeluargaan tidak dapat dicapai kata mufakat, sebagai negara yang menjunjung tinggi hukum maka jalur hukum adalah pilihan yang paling terhormat,” pungkasnya. (idr/tau/mg29/sam)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!