Melkisidek Taneo Dekan FKIP Undana – Timor Express

Timor Express

PENDIDIKAN

Melkisidek Taneo Dekan FKIP Undana

PILIH DEKAN. Suasana pemilihan Dekan FKIP Undana Kupang di Lantai Dua Kantor FKIP Undana, Selasa (20/8)

INTHO HERISON TIHU/TIMEX

KUPANG, TIMEX – Dr. Melkisedek Taneo, M.Si meraih suara terbanyak dalam Rapat Senat pemilihan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Undana Kupang yang digelar di Lantai Dua Kantor FKIP Undana, Selasa (20/8).

Pemilihan yang dipimpin langsung Ketua Senat FKIP, Dr.Petrus Ly, M.Si itu dihadiri 28 anggota senat. Hadir pada kesempatan itu Rektor Undana, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si, Ph.D yang memiliki hak suara sebanyak 35 persen.

Melkisedek yang saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan itu, memperoleh 28 suara, mengungguli empat calon lainnya.

Dari total 43 suara yang terdiri dari 28 suara senat dan 15 suara Rektor Undana, Melkisedek berhasil mendapat 28 suara. Sementara, Dr. Labu Juli mendapat empat suara, Dr. Wara Sabon Dominikus memperoleh dua suara, Prof. Simon Sabon Ola mendapat tiga suara dan Dr.Paul Gabriel Tamelan memperoleh satu suara. Sementara lima suara tidak sah.

Dr. Petrus Ly, M.Si, Dekan FKIP Undana Kupang saat dikonfirmasi Timor Express usai pemelihan itu mengatakan, hasil itu akan di kirim ke rektor dalam bentuk berita acara pemilihan anggota senat.

Sesuai surat keputusan rektor, siapa yang terpilih dialah yang akan dilantik, karena tidak ada ruang lagi untuk menentukan siapa yang akan dilantik.

Dekan FKIP dua periode itu menyebut, masa jabatannya akan berakhir 7 September 2019 mendatang. Karena itu, hasil pemilihan itu akan diserahkan kepada Rektor Undana untuk langkah selanjutnya.

Dekan FKIP Undana terpilih, Dr. Melkisedek Taneo, M. Si menyampaikan ucapan terima kasih karena rapat senat FKIP dengan agenda pemilihan dekan berlangsung lancar atas kerja keras panitia dan seluruh pihak terkait.

Dikatakan, dirinya mendulang suara terbanyak adalah sebuah amanah dan tanggungjawab yang harus dijaga dan dilaksanakan jika ia dipercaya dan dilantik oleh Rektor Undana. “Tanggung jawab ini yang pastinya saya akan tunjukan melalui program dan pekerjaan yang ada di FKIP. Namun semuanya akan dibahas bersama dengan semua civitas akademika di FKIP Undana,” ujarnya.

Wakil Dekan III FKIP Undana ini mengakui, sejak dipimpin dekan saat ini, FKIP mengalami perubahan positif dari tahun ke tahun. “Hal positif ini pasti saya akan lanjutkan dan akan melengkapi apa yang masih kurang agar FKIP Undana lebih baik lagi ke depan,” ungkapnya.

Dia juga menyebut FKIP Undana adalah rumah bersama. Maka semua yang ada di FKIP harus berkarya dalam kekeluargaan, kebersamaan, persaudaraan agar bisa merasa aman dan nyaman. “Saya tidak mungkin berjalan sendiri namun membutuhkan dukungan dari semua pihak. Mulai dari para dosen, pegawai dan mahasiswa. Karena tidak ada arti jika jabatan ini tidak didukung oleh semua civitas akademika,” katanya.

Melkisedek menyinggung program yang akan dilakukan, yakni mendatangani kontrak kerja. Namun belum dipastikan kontrak kerja di bidang mana, sehingga akan dibahas bersama untuk menentukan bidang kerja mana yang akan ada kontrak kerja. “Semua program kerja dan hal-hal lain akan diidentifikasi lalu diputuskan bersama. Jika rektor memberikan kepercayaan dan dilantik,” tandasnya.

Sementara Anggota Senat FKIP, Prof. Fransiskus Bustan, M.Lib saat dimintai komentarnya terkait sistim pemilihan yang menitikberatkan pada suara rektor, yakni sebesar 35 persen dari total suara yang ada menuturkan, hal itu merupakan bagian dari pemandulan hak demokrasi.

“Dengan 35 persen yang dimiliki Pak Rektor, itu sama dengan pemandulan terhadap hak demokrasi di fakultas. Ini sebenarnya kita sedang digiring oleh suara terbanyak 35 persen. Berarti kita hanya mengejar 65 persen,” ujarnya.

Prof. Fransiskus menyebut, ia tidak mempersoalkan hasil pemilihan dekan FKIP. Namun aturan pemilihan yang demikian, telah menciderai hak suara dari mayoritas anggota senat FKIP.

“Meskipun itu aturan Menristekdikti, tetapi sebenarnya ini hak demokrasi. Rektor hanya mengangkat saja. Ini kan ranah fakultas, jadi kita diberi kewenangan itu untuk memilih siapa. Kelihatannya kita digiring oleh suara terbanyak 35 persen,” tandasnya.

Lanjutnya, jika mengacu pada prinsip demokrasi, harusnya satu orang satu pilihan. Rektor hanya berhak menyetujui kemudian melantik hasil pemilihan yang dilakukan di tingkat fakultas.

“Seharusnya one man one vote. Jadi aturan ini perlu ditinjau kembali dalam pemilihan dekan di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Ini sekadar catatan. Tidak penting siapa yang menang dan siapa yang kalah,” ungkapnya. (mg29/cel)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!