Salib Panggilan Perdamaian – Timor Express

Timor Express

OPINI

Salib Panggilan Perdamaian

(Suatu Refleksi atas fenomena kerukunan beragama di Indonesia)

Oleh: Orias Lazarus Selan

Mahasiswa S2 STAKN Kupang dan ASN Kemenag Prov. NTT

Pernyataan Ustad Somad tentang salib sangat viral di media sosial, semua orang menanggapi menurut pandagan mereka. Secara umum tanggapan mereka atas pernyataan ustad Somad terbagi atas dua yaitu tanggapan yang positif dan negatif. Bahkan ada beberapa ormas yang telah melaporkan Ustad Somad ke pihak berwajib. Tulisan ini tidak berpretensi untuk menghakimi benar tidaknya pernyataan ustad Somad tersebut. Tujuan tulisan ini adalah memberikan gambaran tentang salib sebagai simbol perdamaian. Dan mengapa dijadikan sebagai simbol perdamaian oleh orang Kristen. Sehingga pernyataan ustad Somad dapat ditempatkan dalam kerangka yang tepat.

Salib dalam bahasa Inggris cross, dalam bahasa Yunani stauros kadang – kadang disebut juga ksylon. Kedua kata ini memiliki arti yang berbeda. Kata salib dalam kata stauros artinya alat siksaan, sementara ksylon artinya kayu, alat gantung. Dengan demikian maka salib dapat didefinisikan sebagai alat untuk menghukum. Tidak penting untuk menentukan salib yang dimaksudkan oleh Kristen itu salib dalam pengertian stauros ataukah ksylon, karena keduanya mengarah pada penghukuman. Yang penting siapakah yang disalibkan, megapa ia disalibkan, apakah dampak dari penyaliban tersebut.

Sejarah mencatat bahwa salib pada masa kerajaan Romawi merupakan salah untuk menghukum seseorang karena dinilai bersalah secara hukum negara maupun secara keagamaan. Sejarah mencatat bahwa selain Yesus Kristus yang disalibkan ada juga dua orang lainnya. Orang Yahudi mengenal hukuman salib sejak tahun 88 – 83 sM, ketika Alexander Yannius menyalibkan 800 orang Yahudi. Namun hukuman itu menjadi sangat terkenal saat Palestina dijajah oleh Roma. Bentuk salib pun jelas yaitu dua buah kayu yang disilangkan. Satu horisontal dan satunya vertikal. Dofour menuliskan bahwa demi kepentingan orang – orang Roma maka salib ditambahkan bentuk horisontal yang dalam bahasa Latin di patibulum yang dapat ditempatkan pada ujung atas balok vertikal yang dalam bahasa Latin di sebut crux commissa. Selain kayu hanya ada paku, kecuali salib Tuhan Yesus Kristus yang ada sejenis keterangan mengapa Yesus Kristus di salibkan. Tulisan yang dimaksudkan adalah INRI dalam bahasa sederhana diterjemahkan sebagai Inilah raja orang Yahudi. Kayu yang digunakan untuk pembuatan salib pun dipilih kayu yang baik karena harus mampu menopang tubuh manusia yang disalibkan, bagian tertentu sangat berat. Seperti yang dialami oleh Tuhan Yesus Kristus saat memikul salib-Nya perlu dibantu oleh salah satu murid-Nya. Ketika penyaliban Yesus Kristus tidak ada satu pun suatu upacara karena Yesus di salibkan karena dipandang sangat bersalah terhadap agama Yahudi dan masyarakat Yahudi. Dengan demikian salib yang dimiliki oleh Yesus Kristus merupakan satu hukuman normalitas saja, tidak ada hal istimewah lainnya dari salib Yesus Kristus. Kalau demikian pertanyaannya mengapa salib menjadi simbol yang begitu religiusnya bagi umat Kristiani.

Salib bagi orang Kristen adalah lambang penderitakan sekaligus tanda kemenangan. Penderitaan karena Yesus Kristus harus menanggung semua beban dosa manusia dan kemenangan  Doufor menuliskan “salib Yesus harus diterima seadanya, yaitu sebagai batu sandungan yang luar biasa, namun harus dilihat pula dalam keseluruhan rencana Allah.”(Kis.13:29)Itu berarti bahwa bukan material dari salib itu tetapi rencana Allah. Rencana Allah untuk menyelamatkan manusia dari segala dosanya. Secara manusiawi hukuman salib merupakan bentuk hukuman yang tidak manusiawi, tetapi salib yang dialami Yesus Kristus justeru mengangkat manusia dari keterpurukan manusianya. Salib mengangkat manusia dari berdosa. Salib membangun kembali relasi yang tidak manusiawi.  Seperti yang dikatakan oleh Cicero bahwa “hukuman yang paling kejam dan paling hina adalah salib. Sebab hukuman itu diterapkan pada para budaya dan orang – orang yang bukan warga negara Roma.” Sehingga secara jelas salib merupakan gambaran penghinaan manusia terhadap karya Allah yang digambarkan sebagai imago Dei. Sehingga secara sederhana salib memiliki dua makna, pertama penghukuman dan makna perdamaian. Yesus Kristus menanggung semua salah dan dosa manusia atau dengan kata lain Yesus Kristus menerima hukuman yang tidak harus di terima oleh Yesus Kristus. Karena penghukuman yang diterima oleh Yesus Kristus adalah strategi yang dilaksanakan oleh orang – orang yang tidak simpatik terhadap kehadiran Yesus maka seperti yang dituliskan oleh R.T France bahwa para penguasa agama Yahudi sedang menangani urusan penting, mereka mau menyingkirkan Yesus dengan aman sebelum malam hari.” Pentingnya urusan ini maka harus diputuskan segera, tidak boleh ditunda – tunda. Sehingga keputusan yang dibuat secara jelas bersifat formalitas. Penghukuman itu sudah terlihat sejak pemeriksanaan perkara Yesus Kristus oleh Hamas, kemudian ke Sanhedrin, dilanjutkan kepada Pilatus, diteruskan lagi ke Antipas dan kembali kepada Pilatus. Terlihat bahwa pemeriksaan ini sangat hati – hati sehingga membutuhkan banyak pihak terlibat. Walaupun akhirnya putusan bulat Yesus Kristus tetap di hukum karena tuduhan – tuduhan yang terlalu harafiah.

Kelihatan sekali bahwa proses penghukuman Yesus Kristus diputuskan setelah melihat kondisi yang terjadi. Pilatus ada dalam dua posisi. Posisi pertama tidak menemukan satupun perkara yang menuntut agar Tuhan Yesus Kristus di bunuh dan posisi kedua harus menciptakan kedamaian dalam masyarakat. Bahwa pergolakkan dalam masyarakat tidak boleh terjadi. Masyarakat harus hidup damai. Untuk hidup damai, pilihan hanya dua, yaitu korban satu orang untuk kedamaian banyak orang atau selamatkan satu orang dan korbankan banyak orang. Secara matematis Pilatus memilih untuk korban satu orang demi damaian banyak orang. Jelas pilihan jatuh pada lebih baik satu orang dikorban untuk kedamaian banyak orang. Kematian Yesus di atas salib di Golgota merupakan jalan terbaik untuk menciptakan kedamaian masyarakat. Untuk itu secara historis salib Yesus Kristus memberikan simbol perdamaian. Seperti bentuknya salib memiliki dua buah kayu yaitu kayu yang berbentuk horisontal dan kayu yang berbentuk vertikal. Kayu yang berbentuk horisontal menghubungkan kembali relasi manusia dengan sesamanya dan lingkungan hidup. Sebelumnya relasi ini rusak karena sikap egoisme manusia, baik dengan sesamanya maupun dengan lingkungan hidup dimana manusia itu berada. Manusia cenderung melakukan eksploitasi yang berlebihan sehingga habitat manusia dengan alam terganggu. Dan kayu yang dipasang secara vertikal mengarah pada relasi manusia dengan Tuhan. Relasi ini rusak akibat dosa manusia. Dengan salib maka relasi ini menjadi baik kembali, seperti yang dituliskan oleh Yohanes dalam Yoh. 3:16 “ karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” Kalimat ini dapat dipahami bahwa kedamaian antara manusia dengan Allah dapat terjadi karena inisiatif Allah memberikan Yesus Kristus untuk disalibkan agar ada damai sejahtera dalam relasi Allah dengan manusia. Dosa merusak relasi manusia dengan Tuhan Allah tetapi salib menjadi bukti sejarah damai sejarah Allah terjadi.

Dengan demikian salib merupakan simbol perdamaian dunia. Karena melalui salib relasi manusia dengan manusia menjadi baik, melalui salib relasi manusia dengan Tuhan Allah menjadi baik. Kalau demikian salahkah orang Kristen menjadi salib itu sebagai simbol keagamaan. Bagi penulis tidak salah, sebab salib menjadi media bagi umat Kristen berefleksi tentang sejarah perdamaian dunia melalui Yesus Kristus. Salib menjadi pengingat bagi seluruh dunia, bahwa untuk menikmati perdamaian sekarang dan akan datang Allah telah mengorbankan anak-Nya yang tunggal. Dengan memandang salib, melihat sejarah penghukuman dan perjanjian perdamaian yang dihadapi.

Mengakhiri tulisan singkat ini, marilah kita menciptakan kerukunan hidup dengan saling menghormati dan saling menghargai termasuk dengan menghargai dan menghormati simbol – simbol agama yang ada. Merdeka…….!!!!!(*)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!