September Puncak Kekeringan, NTT Paling Parah – Timor Express

Timor Express

METRO

September Puncak Kekeringan, NTT Paling Parah

ILUSTRASI; NET

Pemerintah Drop Tangki Air

JAKARTA, TIMEX – Dampak kekeringan mulai meluas. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menghimpun laporan bahwa sudah terdapat total 40.891 hektar sawah yang menderita gagal panen (puso).

Provinsi Jawa Barat mengalami dampak terparah dengan total lahan puso mencapai 19.145 hektar sementara Jawa Timur menyusul dengan 9.063 hektar kemudian Jawa Tengah dengan 7.494 hektar.

Tujuh Provinsi di Pulau Jawa, Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara mengalami hari tanpa hujan (HTH) rata-rata di atas 60 hari bahkan di atas 100 hari untuk kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hingga kini, operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk menciptakan hujan buatan belum terlaksana. Plh. Kapusdatin dan Humas BNPB Agus Wibowo mengungkapkan “Sebenarnya peralatan sudah siap semua, hanya masih menunggu pesawat dari TNI saja,” katanya kemarin (30/8).

Agus tidak menjelaskan apa alasan pihak TNI yang masih belum menyetujui penggunaan pesawat untuk sarana menyemai awan tersebut. Saat ini opsi yang terus dijalankan oleh pemerintah adalah menyalurkan tanki tanki air ke daerah-daerah yang kekeringan. Berdasarkan data, sudah sekitar 15 ribu tanki dengan total 78 juta liter sudah didistribusikan.

Agus mengatakan, Pemerintah Daerah dan BPBD setempat yang berwenang menyalurkan tangki. “Sejauh ini belum ada yang meminta bantuan pada pemerintah pusat,” katanya.

Data menunjukkan dari 7 Provinsi yang terdampak kekeringan, meliputi 101 kabupaten/kota, 781 kecamatan serta 2.731 desa.
Agus menambahkan, puncak kemarau akan datang pada bulan September 2019. Berdasarkan prediksi dari BMKG, periode akhir Agustus sampai Spetember curah hujan terpantau rendah. Kondisi ini kata Agus, juga meningkatkan potensi Karhutla. Karena sejauh ini, hujan adalah faktor paling membantu dalam proses pemadaman. Dari pengalaman tahun tahun sebelumnya, pada saat curah hujan turun, hotspot selalu naik. “Tiga hari saja tidak hujan itu hotspot sudah dimana mana,” jelasnya. (tau/jpg/sam)

Dampak Kekeringan

– Terjadi di 7 provinsi
– 101 kabupaten/kota
– 781 kecamatan
– 2.731 desa

9 Kabupaten di NTT yang Dilanda Kekeringan:
Nagekeo, Ende, Sikka, Flores Timur, Lembata, Sumba Timur, Sabu Raijua, Rote Ndao dan Kota Kupang.

Wilayah-wilayah yang masuk kategori kekeringan ekstrem:
– Kabupaten Nagekeo (sekitar Danga), Kabupaten Ende (sekitar Nanganio)
– Kabupaten Sikka (sekitar Magepanda dan Waigate)
– Kabupaten Flores Timur (sekitar Konga)
– Kabupaten Lembata (sekitar Lewoleba, Wairiang, Waipukang dan Wulandoni)
– Kabupaten Sumba Timur (sekitar Melolo, Temu/Kanatang, Lambanapu, Rambangaru, dan Kamanggih)
– Kabupaten Sabu Raijua (sekitar Daieko)
– Kabupaten Rote Ndao (sekitar Papela dan Busalangga)
– Kota Kupang (sekitar Stamet El Tari, Sikumana, Bakunase, Oepoi dan Mapoli)
– Kabupaten Kupang (sekitar Oekabiti, Lelogama, Oenesu, Oelnasi dan Sulamu)
– Kabupaten Belu (sekitar Atambua, Fatubenao, Fatukmetan, Wedomu dan Haekesak)

Hari tanpa hujan terpanjang:
Wilayah Rambangaru, Kabupaten Sumba Timur (116 hari), Wairiang, Kabupaten Lembata (105 hari), dan Oepoi, Kota Kupang (100 hari)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!