Jefry di Balik Layar Proyek Bermasalah – Timor Express

Timor Express

KUPANG METRO

Jefry di Balik Layar Proyek Bermasalah

DITAHAN. Jefri Unbanunaek (rompi merah) hendak masuk ke mobil tahanan di Kantor Kejati NTT, Selasa (3/9). Jefri ditahan di tahanan Kejari SoE, pukul 19.00 malam tadi.

OBED GERIMU/TIMEX

Mantan Anggota DPRD NTT Diduga Terlibat Korupsi

Langsung Ditahan di Kejari TTS
Novan: Jefri Tak Nikmati Sepeser Pun

KUPANG, TIMEX – Penyidik Kejari TTS dibantu pihak Kejati NTT melakukan penangkapan terhadap Jefri Un Banunaek (JUB) selaku tersangka perkara dugaan korupsi proyek pembangunan embung Mnelalete pada Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten TTS Tahun Anggaran (TA) 2015.

Jefri ditangkap usai mengikuti seremoni pelantikan anggota DPRD Provinsi NTT periode 2019-2024 yang berlangsung di ruang sidang utama gedung DPRD NTT, Selasa (3/9) siang.

Jefri yang juga mantan anggota DPRD NTT periode 2014-2019 itu tidak melakukan perlawanan saat hendak ditangkap sekira pukul 12.00.

Dia kooperatif mengikuti tim Kejaksaan yang langsung membawanya ke kantor Kejati NTT. Jefri sempat meminta ke penyidik agar diperbolehkan membawa mobilnya sendiri dan mengganti pakaian, namun permintaan tersebut tidak dikabulkan tim yang dipimpin Kasi Pidsus Kejari TTS Khusnul Fuad didampingi Kasi Intel Kejari TTS Mourist Kolobana dan jaksa fungsional Prima Wibowo.
Di kantor Kejati NTT, Jefri yang juga kader PKPI itu langsung menjalani pemeriksaan. Kajari TTS Fahrizal, SH., yang dikonfirmasi wartawan di kantor Kejati NTT, mengatakan pihaknya telah dua kali melakukan pemanggilan secara patut terhadap tersangka Jefri Unbanunaek namun yang bersangkutan selalu mangkir.

“Terakhir kita panggil tanggal 10 Agustus, dan yang bersangkutan minta tunda sampai tanggal 6 September. Namun kami juga sudah menyampaikan imbauan agar dengan kesadaran hukumnya bisa datang untuk memberikan keterangan sebagai tersangka, tapi tidak ada respon,” kata Kajari.

“Ya sudah, karena proses hukum ini harus kita laksanakan dengan cepat untuk menuju kepastian hukum. Sebelumnya empat tersangka sudah ditahan dan saat ini sudah hampir mencapai rampung penghitungan kerugian negara yang dibantu oleh BPKP,” lanjut dia.

Kajari sampaikan, Jefri Unbanunaek merupakan pihak di ‘balik layar’ pekerjaan proyek ini.
Jefri disebutkan sebagai pihak yang membiayai hingga menerima pembayaran pekerjaan itu, dimana ada dana yang masuk ke rekening Jefri senilai Rp 700 juta lebih atau senilai pekerjaan dimaksud.

Masih menurut Kajari, sesuai fakta dalam fisik pekerjaan tersebut juga ada kekurangan volume, termasuk dari sisi mutu yang kurang. “Nanti kita akan lihat hasil penghitungan kerugian negara, apa yang dinyatakan sebagai kerugian negara, nilai itu yang akan kita ajukan ke persidangan,” imbuh Kajari.

Mengenai penangkapan yang bertepatan dengan momen pelantikan anggota DPRD NTT, Kajari sampaikan,
“Saya kira harus kita bedakan, pelantikan beberapa waktu sebelumnya, jika yang baru telah diambil sumpah, maka yang lama otomatis sudah selesai dan statusnya bukan anggota DPRD lagi. Dia sudah masyarakat biasa,” katanya.

Kajari menambahkan, pihaknya mempunyai waktu 1×24 jam untuk melakukan pemeriksaan terhadap tersangka.
“Mudah-mudahan penasihat hukumnya hadir sehingga proses ini bisa lancar,” kata Kajari lagi.

Terpisah, Kasi Penkum Kejati NTT Abdul Hakim kepada wartawan di kantornya, mengatakan, penangkapan terhadap JUB dilakukan di halaman Kantor DPRD Provinsi NTT, Selasa (3/9).

Jefri selaku tersangka kasus dugaan penyimpangan kegiatan pekerjaan pembuatan embung senilai Rp 800 juta ditangkap Tim Intelijen Kejati NTT bersama dengan Tim Penyidik Kejari TTS.

Penangkapan berdasarkan Surat Perintah Penangkapan Nomor 98/N.3.11/Fd.1/09/2019 tanggal 03 September 2019.
Dijelaskan, Jefri tersangkut perkara korupsi telah dipanggil secara patut sebanyak tiga kali untuk diperiksa setelah ditetapkan sebagai tersangka, namun yang bersangkutan tidak menghiraukan panggilan penyidik tersebut dengan berbagai alasan. “Sebelumnya rekan tersangka lainnya telah dilakukan penahanan oleh penyidik Kejari TTS,” sebut Kasi Penkum.

Tersangka Jefri diduga melanggar primair Pasal 2 ayat (1) jo. Pasal 18 UU No. 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Subsidiair Pasal 3 jo. Pasal 18 UU No. 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Setelah dilakukan pemeriksaan tersangka Jefri, selanjutnya dilakukan penahanan berdasarkan Surat Perintah Penahanan Nomor 99/N.3.11/Fd.1/09/2019 tanggal 3 September 2019 di Rutan SoE.

“Penahanan dilakukan penyidik Kejari TTS setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan tersangka oleh tim dokter yang dihadirkan ke kantor Kejati,” imbuh Abdul Hakim.

Jefri Unbanunaek dengan mengenakan rompi tahanan Kejaksaan langsung dibawa dengan mobil tahanan ke SoE sekira pukul 17.00 untuk menjalani penahanan di Rutan SoE dan proses hukum selanjutnya di Kejari TTS.

Sementara itu, Novan Manafe selaku kuasa hukum Jefri, menyatakan kliennya selama ini sangat kooperatif menjalani proses hukum di Kejari TTS.

Dia sampaikan, pemeriksaan terhadap kliennya sudah sesuai koordinasi dengan penyidik.
“Dari awal kita memang selalu proaktif untuk menyelesaikan persoalan ini. Selama ini, koordinasi sudah dilakukan secara baik. Penundaan pemeriksaan dan hari ini baru dilakukan, itu juga karena dibicarakan dengan baik,” sebut Novan.

Menurut dia, pemeriksaan kliennya baru dilakukan karena pihaknya secara resmi mengajukan penundaan pemeriksaan. “Jadi secara resmi kita mengajukan surat ke Kejari TTS. Memang dijadwalkan tanggal 6 September sesuai dengan permintaan kita. Tapi hari ini dipercepat,” sebut dia.

Pihaknya sangat penasaran untuk melihat tanggung jawab dan peranan kliennya dalam perkara dimaksud.
Novan sampaikan, kliennya telah menjalani pemeriksaan sebagai tersangka di Kejati NTT. Dalam pemeriksaan awal itu, kliennya dicecar dengan 12 pertanyaan seputar peranan dan tupoksinya.

Dalam pemeriksaan itu, menurut Novan, kliennya sudah menjelaskan mengenai hubungan kemitraan DPRD dan pemerintah.
Dan sebagai anggota DPRD Provinsi NTT, Jefri telah menerangkan bahwa dirinya memiliki kemitraan sejajar dengan Pemprov NTT.
Sementara tanggung jawab dia ke daerah pemilihan itu sifatnya koordinasi untuk memperjuangkan anggaran. Sedangkan pekerjaan embung tersebut murni dibahas di DPRD dan menggunakan APBD Kabupaten TTS.

Menyangkut peranan Jefri, Novan jelaskan, dalam proyek dimaksud ada saudara kandung kliennya yaitu Jimmy Unbanunaek, dimana dalam perjalanan pekerjaan, mereka meminta tolong ke Jefri untuk mengkoordinasikan hal-hal yang mereka butuhkan.
“Menyangkut peranan, karena ada dua orang yang merupakan saudara klien kami dan bekerja di situ, sehingga dalam perjalanan kemudian mereka minta tolong mengkoordinasikan hal-hal yang dibutuhkan. Salah satu adalah permintaan alat, karena mereka kesulitan saat mau memulai pekerjaan. Lalu klien kami juga karena pernah berpengalaman sebagai kontraktor tentunya juga punya rekan-rekan. Atas dasar itu pak Jefri menghubungi Toko Aimi dan meminta tiga jenis alat berat, berupa ekskavator dan fibro. Toko Aimi pun menyampaikan alat berat yang dibutuhkan ada dan bersedia untuk digunakan,” urai Novan.

Kemudian dalam perjalanan, setelah pekerjaan selesai, dana proyek ini tidak dicairkan sekira 6-7 bulan, dan dari perusahaan meminta mengajukan pencairan dana karena sudah lewat waktu.

Karena melalui dinas, sehingga direktur perusahaan Yohanis Fanggidae mengajukan pencairan, dan dana tersebut cair ke rekening perusahaan.

Setelah dana cair ke rekening perusahaan, karena sudah sekian lama waktunya, maka pemilik alat berat mengajukan pembayaran dengan menghubungi Jefri. Selanjutnya Jefri menginformasikan ke Jimmy Unbanunaek.

Karena sudah ada dana di rekening perusahaan, sehingga mereka meminta dicairkan untuk pembayaran utang-utang, seperti biaya sewa alat berat, termasuk material yang dipakai pada saat menuntaskan pekerjaan itu.

Kemudian mereka bersepakat di hari tertentu di bulan Desember, dimana direktur perusahan bersedia untuk mencairkan uang. Pencairannya dilakukan pada Bank NTT Cabang Utama di Kupang.

Jimmy Unbanunaek yang berhalangan ke Kupang, kemudian menghubungi Jefri agar bisa mewakili mereka mengambil uang tersebut. “Jimmy kasih nomor kontak direktur perusahaan, sehingga klien kami lalu kontak direktur perusaahaan itu, lalu mereka bertemu dan ke bank. Pada saat melakukan penarikan itu, mereka lakukan penarikan sekaligus uang yang sudah masuk Rp 600 juta lebih, tapi karena pada saat itu tidak bisa dicairkan secara tunai uang tersebut, maka kemudian hanya dicairkan Rp 300 juta dan diserahkan ke Jefri. Sisanya kemudian diminta Jefri memberikan nomor rekening lalu ditranfer bank,” jelas Novan.

Keesokan harinya, Jimmy Unbanunaek datang ke Kupang menjemput uang tunai Rp 300 juta dari tangan Jefri, dan sisa Rp 300 itu dipakai untuk membayar utang sewa alat berat dan material bahan bangunan.

“Mereka menghitung total pembayaran sewa alat berat lalu diminta Jefri untuk harus mentransfer tunai, dan sisanya kemudian ditarik dan Jimmy bawa ke SoE,” beber Novan.

Jefri Unbanunaek juga sudah diminta memberikan print out rekening koran dan sudah dijadikan barang bukti oleh penyidik. “Jadi faktanya memang tidak ada uang yang tersimpan di situ, karena semuanya sudah ditranfer ke nomor rekening. Jadi dia tidak menikmati sepeser pun dari uang proyek itu,” pungkas Novan Manafe yang mengaku siap mendampingi kliennya dan tidak mengajukan penangguhan penahanan. (joo/sam)

Ditempatkan Sendiri di Mapenaling

Mantan Anggota DPRD Provinsi NTT, Jefri Unbanunaek resmi ditahan Kejaksaan Negeri SoE, Selasa (3/9). Jefri dijebloskan ke tahanan sekira pukul 19.40.
Ia menempati ruang isolasi yang sering disebut ruangan pengenalan lingkungan (Mapenaling). Ruangan berukuran 4×5 meter ini dikhususnya bagi tahanan baru. Setiap tahanan baru akan menghuni ruang sempit ini selama 7×24 jam. Satu-satunya fasilitas yang ada di ruangan ini adalah satu buah tempat tidur tanpa kasur. “Kami tempatkan dia (Jefri Unbanunaek, red) sendiri di ruang Mapenaling,” kata Kepala Rutan SoE, Lukas Frans kepada Timor Express, malam tadi.
Lukas mengatakan hal ini berdasarkan prosedur tetap (Protap) yang berlaku di semua Rutan. Selama masa pengenalan lingkungan Rutan, para tahanan yang menghuni kamar Mapenaling hanya disediakan tempat tidur tanpa kasur. “Ini berlaku untuk semua tahanan yang menghuni kamar Mapenaling. Namun jika ada pihak keluarga yang hendak membawa kasur atau busa, maka harus seizin petugas,” katanya.
Kasi Pidsus Kejari TTS, Khusnul Fuad juga membenarkan Jefri Unbanunaek telah dimasukkan ke Rutan SoE, Selasa (3/9) sekira pukul 19.40.
Untuk diketahui, Jefri merupakan salah satu tersangka dugaan penyimpangan kegiatan pekerjaan pembuatan embung Mnelalete pada Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). (yop/sam)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!