Johny Plate dan VBL Paling Berpeluang – Timor Express

Timor Express

METRO

Johny Plate dan VBL Paling Berpeluang

Masuk Kabinet Kerja Jilid II

KUPANG, TIMEX – Menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Oktober mendatang, mulai santer nama-nama tokoh yang diangkat jadi menteri. Tak terkecuali dari NTT.

Beberapa tokoh NTT mulai disebut-sebut berpeluang mengisi pos kementerian di Kabinet Kerja Jilid II nanti. Sebut saja ada nama Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat, Rektor Undana Prof. Frederik Benu, Sekjen Partai Nasdem yang juga Ketua Fraksi Nasdem DPR RI Johny G. Plate, anggota DPR RI dari PDIP Andreas Hugo Parera hingga mantan Gubernur NTT Frans Lebu Raya.

Terkait nama-nama tersebut, pengamat politik dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, Mikhael Rajamuda Bataona kepada Timor Express, Rabu (11/9) di Kupang mengatakan kali ini tokoh NTT sangat berpeluang masuk kabinet. Pasalnya, secara politis NTT merupakan salah satu daerah penyumbang suara terbesar untuk pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin di Pilpres 2019.

Dan, jika demikian, maka yang berpeluang adalah tokoh-tokoh PDIP dan Nasdem. “Masalahnya adalah memilih calon yang bisa mewakili aspek profesionalitas untuk menjawab semangat pembentukan kabinet dengan model Saken Kabinet adalah tidak mudah.

Jokowi harus memilih putra-putri NTT yang memang dari aspek kompetensi, integritas, rekam jejak dan track record memang mumpuni,” ujarnya.

Menurutnya, jika hanya memilih tokoh NTT demi memenuhi unsur keterwakilan wilayah, maka itu kontraproduktif. Kabinet akan seret kinerjanya dan tentu saja buruk bagi kebaikan bangsa.

Mikhael menilai nama-nama yang santer disebut publik mempunyai peluang untuk dipilih Jokowi. Semuanya punya basis legitimasi dari rakyat NTT. “Hanya saja variabel partai politik juga akan sangat dominan bermain,” ujarnya.

Ia mencontohkan, PDIP mengajukan nama Andreas Hugo Parera atau Frans Lebu Raya, maka nama politisi NTT dari wilayah lain dan sektor lain akan berkurang. Atau bisa saja PDIP tidak mengajukan calon dari NTT, karena komposisi kepengurusan DPP partai hasil kongres di Bali tidak ada kader NTT. Sementara dari jalur profesional, nama Rektor Undana Fred Benu bisa dijagokan. Namun, pertimbangan lain adalah cukup banyak orang kampus di lingkaran Jokowi. Seperti Pratikno dan Amran Sulaiman dan sebagainya. “Sebagai seorang ilmuwan Fred memang berpeluang karena NTT pasti mendapat jatah menteri. Hanya saja dari jalur politik mana yang mengajukan juga penting. Karena negosiasi nanti akan berkaitan dengan keterwakilan wilayah, juga politik,” ujar Mikhael.

Sementara terkait Partai Nasdem, Mikhael menguraikan, ada dua nama paling berpeluang, yakni Johny Plate dan Viktor Bungtilu Laiskodat. Alasannya, karena Partai Nasdem selain akan mendapat beberapa jatah menteri, peluang Johny sangat besar karena dia menjabat Sekjen Partai Nasdem.

Sebagai Sekjen, Johny terlibat sangat total dan berdarah-darah dalam pemenangan Jokowi. Bahkan, boleh dikatakan Johny adalah salah satu jubir terbaik dari kubu Jokowi-Amin. “Tampilannya yang rasional, cerdas dan terukur membuat dia punya semua kualifikasi yang dibutuhkan untuk menjadi menteri,” ujar Mikhael.

Selain karena berlatar pengusaha dan politisi, Johny juga profesional. Meski demikian, nama lain yang juga sangat berpeluang adalah Viktor Laiskodat. “Menurut saya, secara geopolitik, selain untuk NTT, nama tokoh NTT yang paling branded secara nasional seperti Johny Plate adalah Viktor. Dia sudah dikenal secara luas karena sepak terjangnya di kancah politik nasional. Dia juga pengusaha dan politisi handal. Kinerjanya sudah terbukti di Nasdem dan sedang bisa diukur di NTT,” jelas Mikhael.

Satu hal penting, kata Mikhael, Jokowi sedang melihat kinerja VBL-sapaan karib gubernur NTT, soal gebrakan di bidang kelautan, khususnya garam.

Lebih lanjut, Viktor dengan posisinya sebagai Gubernur NTT saat ini, sudah bertransformasi menjadi tokoh yang melampaui partai dan golongan. Artinya, dengan memilih Viktor, maka Jokowi tidak perlu lagi memikirkan utang budi politik ke rakyat NTT. Karena Viktor saat ini sudah menjadi simbol NTT. “Memilih Viktor adalah memeluk NTT langsung pada simbol terkuatnya saat ini yaitu gubernurnya,” kata Mikhael.

Hanya saja ada risikonya jika memilih VBL. Menurut Mikhael, Jokowi harus mempertimbangkan faktor psikologis masyarakat NTT yang sedang menanti kerja-kerja VBL di NTT. Gebrakan-gebrakan VBL belum nampak hasilnya, karena justru angka kemiskinan NTT semester ini naik.

Menurutnya, VBL butuh waktu untuk menerobos mitos kemiskinan itu dengan perubahan besar-besaran di segala lini. Dan sayang jika kerja-kerja besar yang sedang digalakkan itu harus ditinggalkannya. Disebutkan, VBL punya ambisi menjadikan NTT suplayer 1,5 juta metrik ton garam nasional hingga program revolusi hijau lewat kelor, komodo, pariwisata sebagai prime mover pembangunan dan ikan kerapu, juga masalah stunting.

Secara psikologis, kata Mikhael, VBL masih sangat dibutuhkan rakyat karena kehadirannya dengan intensitas kerja-kerja nyata ke lapangan bisa memberi efek domino kebangkitan rakyat dan aparat birokrasi di segala level. Jadi sangat disayangkan jika VBL yang sudah mendapat legitimasi yang sangat kuat dalam Pilgub setahun silam untuk menjadi Gubernur harus meninggalkan ide-ide revolusionernya yang luar biasa demi kebangkitan NTT hanya untuk menjadi menteri.

Dijelaskan, sebagai panglima perang yang sudah membuka isolasi dan mitos soal izin yang rumit dan ruwet dalam industri garam di NTT, VBL harus menyelesaikan misi besarnya tersebut. Tetapi, apabila VBL memang mau untuk dipilih menjadi menteri, maka akan menjadi karir yang juga luar biasa. “Terlepas dari penilaian miring masyarakat bahwa dia adalah petualang politik yang hanya mencari kekuasaan, sebagai politisi Viktor pasti sudah siap dengan kritik dan opini miring. Tapi akan menjadi catatan sejarah dalam karirnya bahwa dia bisa menjadi gubernur lalu menjadi menteri. Karena peluang hanya datang satu kali. Saya kira Viktor pasti mempertimbangkan dengan sangat serius soal ini,” kata Mikhael.

Sebelumnya, terkait kursi menteri dari NTT, Sekjen Partai Nasdem, Johny Plate yang dikonfirmasi enggan berkomentar lebih jauh. Ia mengatakan Nasdem menyerahkan sepenuhnya kepada presiden. “Itu hak prerogatif presiden. Kita menunggu saja,” kata Johny.
Hal senada juga disampaikan Andreas Hugo Parera. Ia tak mau berkomentar soal jatah kursi menteri dari NTT. “Kita menunggu saja, karena semua itu kewenangan presiden,” kata Andreas yang kembali terpilih menjadi anggota DPR RI dari Dapil NTT I pada Pemilu 17 April 2019 lalu. (gat/sam)

Sejumlah Nama yang Disebut-sebut Masuk Kabinet Kerja Jilid II

Nama Jabatan

Viktor Bungtilu Laiskodat Gubernur NTT
Andreas Hugo Parera Anggota DPR RI
Johny Plate Anggota DPR RI
Frans Lebu Raya Mantan Gubernur NTT
Fred Benu Rektor Undana

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!