Latih Istri Nelayan Olah Ikan Asap – Timor Express

Timor Express

PENDIDIKAN

Latih Istri Nelayan Olah Ikan Asap

SOSIALISASI.Ketua Tim PKM Dr.Ayub Meko memberikan sosialisasi kepada kelompok Dalek Esa yang merupakan istri para nelayan di Desa Tanah Merah, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang di Gedung Gereja GMIT Siloam Oebelo Kecil, Selasa (27/8).

INTHO HERISON TIHU/TIMEX

Dosen UKAW Kupang

KUPANG, TIMEX – Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) dan Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, memberikan penyuluhan dan pelatihan bagi kelompok Dalek Esa yang merupakan ibu-ibu nelayan kecil di Desa Tanah Merah, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Selasa (27/8).

Pelatihan tersebut tentang pengolahan ikan asap yang diproses dengan asap cair dan pengasapan tradisional serta produk turunannya berupa pampis ikan asap dan sambal julung-julung asap.

Pelatihan dipimpin Dr. Ayub Meko bersama dosen program studi THPi dan Program Studi Akuntansi FE bersama mahasiswa. Bertempat di Gedung Gereja GMIT Siloam Oebelo Kecil pada 27-30 Agustus 2019.

Ketua LPM UKAW, Hengky Ndolu dalam kegiatan yang dihadiri majelis jemaat setempat dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dari FPIK dan FE UKAW yang membagikan pengetahuan dan keterampilan mengolah produk hasil tangkapan ikan keluarga nelayan kecil, untuk meningkatkan pendapatan sekaligus memperbaiki taraf hidupnya.

Kegiatan ini merupakan kerja sama Kemenristekdikti melalui DRPM dengan UKAW melalui FPIK dan FE. “Diharapkan peserta yang merupakan istri dari nelayan kecil di pesisir pantai Desa Tanah Merah ini, aktif mengikuti semua kegiatan dengan baik dan mengembangkannya sebagai usaha yang memberikan manfaat bagi kehidupannya,” katanya.

Ketua Tim PKM Ayub Meko kepada Timor Express, Rabu (11/9) menjelaskan, kegiatan ini dibagi atas dua bagian. Pertama, penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman kelompok dalam memaknai berkat Tuhan berupa ikan dan olahannya. Mengenal potensi ikan dan permasalahannya serta tehnik penanganan, pengolahan dan penjualannya guna memperpanjang masa simpan dan meningkatkan nilai jualnya.

Kedua, pelatihan penanganan ikan, pembuatan produk, pengemasan produk, tehnik pemajangan produk dan analisis usaha ikan asap dan produk turunannya. “Pelatihan ini bertujuan meningkatkan keterampilan dan kemampuan mengelola hambatan dalam proses berproduksi dan berbisnis olahan ikan,” ujarnya.

Ditambahkan materi penyuluhan dan pelatihan ini diberikan oleh Ketua Majelis Jemaat Siloam Oebelo Kecil, bersama dosen program studi THPi dan Akuntansi dari FPIK dan FE UKAW dan didampingi sepuluh mahasiswa FPIK.

Ketua majelis Jemaat Siloam Oebelo Kecil Pdt.Medi Oematan-Rafael membawakan materi tentang hasil tangkapan ikan dan hidup berkelompok (berjejaring) dalam berusaha sebagai berkat Tuhan dalam menghadirkan sukacita secara berjemaat. “Meningkatkan pemahaman para peserta pelatihan dalam prospektif iman kristiani tentang berkat dan mengusahakan berkat,” katanya.

Menurut Ayub Meko yang juga Rektor UKAW Kupang ini, ikan yang didapat oleh keluarga nelayan diolah dengan benar dan dijual dengan harga yang layak agar dapat dinikmati oleh orang lain, merupakan tanggung jawab pihaknya dalam memelihara hidup yang dianugerahkan Tuhan.

Lanjutnya, bekerja secara kelompok merupakan kesempatan untuk memelihara kebersamaan (berjejaring) sekaligus saling melengkapi dalam hal pengetahuan, keterampilan dan menguatkan hubungan sosial sebagai ciptaan Tuhan.

“Tugas kita sebagai manusia mengusahakan berkat Tuhan yang ada secara benar guna mendatangkan sukacita bagi banyak orang. Semua peserta sangat antusias mengikuti pelatihan dan penyuluhan ini,” imbuhnya.

Ketua kelompok Dalek Esa, Novi Mesakh mengatakan ia bersama anggota kelompok lainnya yang berjumlah 12 orang sangat senang karena bisa mengikuti kegiatan ini. “Kami mendapat pengetahuan dan keterampilan baru yang bisa dipakai untuk mengembangan usaha,” ungkapnya.

Selama ini ikan yang didapat langsung dijual dan jika tidak laku, hanya dibuat ikan asin kering. Menurutnya ikan asap dan olahannya menarik untuk dikembangkan. “Kami juga senang karena langsung praktek dan mengetahui kelebihan dan kekurangan kami dalam mengolah hasil ikan asap, terutama pengepakan dan analisis usaha dan pengembangannya,” tambahnya.

Hasil olahan berupa se’i ikan dan pampis ikan asap serta ikan nipi asap dan sambal ikan nipi asap. Selain dibawa untuk dinikmati bersama keluarga, sebagian langsung dijual dengan harga per bungkus Rp 25.000 sampai Rp 50.000. Hasil penjualn selama praktek pembuatan produk langsung dipakai sebagai modal untuk pembuatan produk lanjutan.(mg29/cel)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!