Siap ‘Perang’ di Sabu Raijua – Timor Express

Timor Express

POLITIK

Siap ‘Perang’ di Sabu Raijua

Pilkada 2020
Ramai-ramai Lamar ke PDIP dan Gerindra

KUPANG, TIMEX – Sabu Raijua (Sarai) merupakan satu dari sembilan kabupaten di Provinsi NTT yang akan menggelar Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) Serentak 2020. Dari sejumlah nama yang disebut-sebut, setidaknya ada lima tokoh yang serius untuk bertarung di Sarai. Yakni, Thobias Uly, Piet Djami Rebo, Takem Radja Pono, Orient Riwu Kore dan Nikodemus Rihi Heke. Beberapa di antaranya bahkan sudah mendaftar di partai tertentu.

Rabu (2/10), Timor Express berkesempatan mewawancarai empat tokoh secara terpisah. Thobias Uly kepada media ini mengaku terpanggil untuk bertarung kembali demi sebuah tekad besar yakni membangun Sarai menjadi lebih baik.

“Saya pernah menjadi Penjabat Bupati Sarai selama dua tahun. Pembangunan di sana harus diprioritaskan pada kebutuhan dasar masyarakat, seperti air bersih, listrik, infrastruktur jalan, dan rumah layak huni. Untuk pendidikan sudah bagus dan tinggal ditingkatkan,” ujarnya.

Sejak kalah dalam Pilkada 2015 lalu, mantan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi NTT itu mengaku tetap menjaga hubungan baik dengan tim relawan, sehingga tak satu pun yang berpaling. Sebaliknya, semua relawan tetap mendukung agar dia kembali bertarung.
“Walaupun kalah, saya sering turun sehingga jalinan komunikasi dengan relawan tetap terbangun dan ada ikatan emosional yang tinggi,” katanya.

Mantan Kadis Peternakan Provinsi NTT itu menyebutkan, pada Pilkada 2015 lalu, dia maju melalui pintu PDI Perjuangan dan berpasangan dengan Don Lado. Keduanya meraih 15.700 suara, kalah dengan Paket Mandiri (Marthen Dira Tome-Nikodemus Rihi Heke) yang mendapat 20 ribuan suara.

“Setelah kembali ke Kupang, saya ditawari oleh Pak Jefri Riwu Kore untuk bergabung bersama Demokrat. Jadi saat ini saya adalah pengurus di DPD I Demokrat NTT,” terang Thobias.

Menghadapi Pilkada 2020, Thobias katakan Demokrat memprioritaskan kader sendiri untuk diusung sebagai calon bupati atau calon wakil bupati. Dan kondisi Demokrat di Sarai saat ini memang harus berkoalisi, sebab hanya mendapat tiga kursi di DPRD. “Untuk bisa mengusung calon, kita cukup tambah satu kursi. Jadi harus bangun koalisi dengan partai lain. Saat ini sedang ada penjajakan untuk koalisi dan mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah ada kejelasan,” jelasnya.

Sebagai kader Demokrat, Thobias berprinsip bahwa apapun penugasan partai, dirinya harus selalu siap, loyal dan taat. Untuk itu, jika Demokrat dan partai koalisi memutuskan untuk mengusung dia sebagai calon bupati, dia akan mensyukuri itu dan siap bertarung.
“Tapi, kalau misalnya partai koalisi perintahkan saya di posisi dua (calon wakil bupati, red), saya juga siap. Jadi apapun yang diperintahkan partai, saya siap,” tegas Thobias seraya mengaku belum mendaftar ke partai mana pun, termasuk ke PDIP dan berencana mendaftar ke Partai Nasdem.

Selanjutnya, Piter Djami Rebo mengatakan, dirinya berniat maju sebagai calon bupati Sarai karena memang ada permintaan dari partai politik. Juga permintaan dari masyarakat, baik dari kalangan mahasiswa, tokoh masyarakat maupun tokoh agama.
“Saya diminta oleh partai untuk ikut Pilkada Sarai dan melihat banyaknya permasalahan di sana. Begitu juga dengan masyarakat. Jadi itu latar belakang kenapa saya mau ke Sarai (ikut Pilkada, red),” jelas mantan Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Provinsi NTT itu.

“Karena diminta tentu saya harus siapkan diri. Saya juga pertimbangkan sejauh mana dukungan masyarakat. Kalau masyarakat dukung, saya bersyukur. kalau tidak, juga saya syukuri sembari tetap memikirkan apa yang bisa saya buat untuk kampung halaman,” sambung mantan Kadis Pekerjaan Umum Provinsi NTT itu.

Piter mengaku telah mendaftar ke PDIP pada pertengahan September lalu. Sebab partai itu juga yang pertama kali memintanya untuk ikut pilkada. Kendati demikian, dia menyerahkan seluruh proses penentuan calon yang diusung kepada partai lewat mekanisme yang sudah diatur. “Kalau survei mengatakan bahwa saya punya elektabilitas paling tinggi sehingga diakomodir oleh parpol, ya kita bersyukur. Kalaupun partai tidak mengakomodir, kita tetap akan berbuat yang terbaik untuk Sarai dan siapapun yang diakomodir pasti kita dukung,” ungkap Piter.

Selain mendaftar ke PDIP, Piter mengaku sudah membangun komunikasi dengan partai-partai lain seperti Gerindra, dan lainnya. Namun komunikasi yang dibangun hanya sebatas komunikasi secara informal.

Sementara Takem Radja Pono kepada media ini mengaku merasa terpanggil untuk membangun kampung halamannya setelah sekian lama mengabdi sebagai ASN di lingkup Pemerintah Provinsi NTT.

Selain itu, ada aspirasi masyarakat yang memintanya untuk maju. “Tekad saya untuk maju di Pilkada Sarai sudah bulat dan itu tidak datang secara tiba-tiba,” kata pria yang kini menjabat sebagai salah satu kepala bidang di Badan Penanggulanan Bencana Daerah ( BPBD) Provinsi NTT.

Mantan Kepala Rumah Tangga (Karungga) Gubernur NTT itu mengaku telah mendaftar di PDIP beberapa waktu lalu. Rencananya, dia akan mendaftar ke partai yang lain. “Untuk sementara baru PDIP yang buka pendaftaran dan saya sudah mendaftar. Kalau ada partai lain buka, saya berencana untuk daftar,” ungkap mantan Sekretaris Badan Pengelola Perbatasan Provinsi NTT itu.

Salah satu tokoh Sabu Raijua lainnya yang juga siap bertarung di Pilkada 2020 adalah Dr. Orient Riwu Kore. Kepada Timor Express via layanan Messenger, Orient menegaskan dirinya siap meninggalkan Amerika dan kembali ke Sabu Raijua untuk membangun daerah tersebut.

Ia mengatakan sudah resmi mendaftar di PDIP dan Gerindra. Selanjutnya, akan mendaftar di Partai Nasdem, PKB, Demokrat, dan parpol lainnya. “Baru daftar di PDIP dan Gerindra. Masih penjajakan partai lain,” ujar Orient.

Terkait calon wakil yang mendampinginya, pemilik tiga gelar doktor ini menyatakan wakilnya baru bisa ditentukan akhir November atau awal Desember mendatang. “Karena harus ditentukan melalui survei,” ujarnya.

Mantan anggota GMKI Cabang Kupang ini mengatakan dirinya rela meninggalkan bisnis dan pekerjaannya di Amerika untuk pulang kampung. Alasan utama adalah membangun masyarakat Sabu Raijua yang masih tertinggal dari segi ekonomi, pendidikan dan bidang-bidang lainnya. “Ini juga permintaan orangtua saya untuk pulang mengabdi di kampung,” ujarnya.

Menurutnya, saru hal yang disayangkan adalah selama 74 tahun Indonesia merdeka, masih banyak warga Sabu Raijua yang hidup dalam keterbatasan. Tidak ada listrik, kekurangan air, tidak bisa bersekolah dan berpendapatan rendah. “Yang perlu dibangun adalah infrastruktur seperti jalan, jembatan, listrik tenaga matahari, perumahan, pendidikan, kesehatan, pertanian dan pengairan juga lembaga keuangan seperti koperasi dan perbankan, tata ruang dan teknologi dan sebagainya,” kata alumnus Undana Kupang 1987 ini.

Selain keempat tokoh tersebut, sosok yang perlu diperhitungkan adalah Nikodemus Rihi Heke yang kini menjabat Bupati Sabu Raijua menggantikan bupati sebelumnya Marthen Luther Dira Tome. Nikodemus juga merupakan Ketua DPD II Partai Golkar Sabu Raijua.
(tom/sam)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!