Ada 650 Kasus, 8 Pasien Meninggal – Timor Express

Timor Express

KUPANG METRO

Ada 650 Kasus, 8 Pasien Meninggal

Kasus DBD Selama Tahun 2019 di Kota Kupang 

KUPANG, TIMEX – Selama tahun 2019, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang terjadi di Kota Kupang sebanyak 650 kasus, dan tercatat ada delapan korban meninggal dunia.

Data ini diperoleh dari Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Kupang.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, drg Retnowati, mengatakan, pihaknya mendata sudah 20 kasus DBD terjadi di Kota Kupang selama bulan Desember 2019, dan dua pasien diantaranya meninggal dunia.

Dua pasien meninggal adalah warga Kelurahan Manutapen dan Kelurahan Tuak Daun Merah (TDM).

Retnowati menjelaskan, trend kasus DBD memang terjadi di Kota Kupang mulai bulan Oktober sampai Maret atau April, dimana pada bulan-bulan ini, curah hujan di Kota Kupang meningkat.

“Berbagai upaya telah kami lakukan sejak awal, dengan sosialisasi di masyarakat, pemberantasan sarang nyamuk atau yang disebut PSN, pembagian abate dan imbauan untuk membersihkan lingkungan. Kami dari tim Puskesmas juga turun untuk membantu memberantas sarang nyamuk dengan tim pemantau jentik nyamuk,” kata Retnowati.

Dia mengaku, dua pasien DBD yang meninggal dunia merupakan anak-anak usia 6 sampai 10 tahun. Satu pasien meninggal di RSUD W.Z. Johannes Kupang yang merupakan pasien rujukan dari RS Leona,  dan satu pasien lagi di RSU Leona dan dirujukan dari Rumah Sakit TNI Angkatan Laut.

“Jadi sekarang bagaimana kita berkomitmen bersama untuk menjaga kebersihan lingkungan, karena walaupun dalam rumah kita sudah bersih, namun jika di lingkungan sekitar tidak bersih, maka sama saja, karena nyamuk DBD bisa terbang dengan radius 200 meter,” ungkapnya.

Untuk penindakan fogging kata Retnowati, Dinas Kesehatan telah melakukan fogging d Kelurahan Manutapen dimana ada korban DBD,  selanjutnya akan dilakukan fogging di Kelurahan TDM.

“Fogging memang bukan cara yang efektif karena hanya dapat membunuh nyamuk dewasa saja. Sementara jentik nyamuk hanya dapat dibersihkan dengan lingkungan yang bersih dan sehat. Nah masyarakat harus berperan aktif membersihkan lingkungannya masing-masing,” sebut Retnowati.

Dia juga mengimbau masyarakat agar dapat mengambil abate di puskesmas setempat dan didapatkan secara gratis.

“Sekali lagi, masalah DBD dapat diberantas dengan 3M plus,  yaitu mengubur barang bekas, menguras bak mandi, dan menutup tempat penampungan air, serta dapat menggunakan obat anti nyamuk baik itu cair maupun batangan,” imbuhnya.

Retnowati mengaku, tim pemantau jentik juga terus berupaya turun di masyarakat untuk terus memantau perkembangbiakan nyamuk DBD,  sekaligus untuk mengedukasi masyarakat, agar dapat membersihkan lingkungan dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Sementara itu, anggota Komisi IV DPRD Kota Kupang, Diana Bire, mengatakan, Dinas Kesehatan harus segera mengambil tindakan dan menjadikan hal ini sebagai hal yang serius.

“Jangan tunggu sampai ada korban berikutnya lagi. Dinas Kesehatan segera ambil tindakan serius. Tahun lalu DBD ditetapkan sebagai KLB, jangan lagi terulang tahun ini. Kita harus belajar dari pengalaman, menjaga anak-anak kita dari bahaya DBD,” ungkapnya.

Diana Bire juga meminta Dinas Kesehatan Kota Kupang agar dapat bekerja sama dengan sekolah-sekolah, karena sebagian waktu anak dihabiskan di sekolah, sehingga perlu pengawasan serius dari pihak sekolah agar dapat menjaga lingkungan sekolah.

“Menjaga anak-anak kita dari bahaya DBD merupakan tugas bersama semua pihak. Jangan sampai hanya dibebankan kepada satu pihak saja. Masyarakat terutama para orangtua juga harus peka terhadap kondisi anak, dan segera memeriksa di fasilitas kesehatan,” ungkapnya.

Menurut Diana, upaya fogging juga perlu dilakukan di daerah-daerah yang banyak terjadi kasus, atau berpotensi terjadi banyak kasus. Selain fogging upaya pemberantasan sarang nyamuk juga perlu terus dilakukan. (mg25/joo)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!