Rokok Dalam Prioritas Pengeluaran Penduduk Miskin – Timor Express

Timor Express

OPINI

Rokok Dalam Prioritas Pengeluaran Penduduk Miskin

Oleh: Putri Pamungkasih

Statistisi BPS Provinsi NTT

Kemiskinan adalah suatu permasalahan sosial yang menjadi perhatian para pemimpin dunia. Dalam Sustainable Development Goals atau disingkat SDGs, pengentasan segala bentuk kemiskinan di semua tempat menjadi salah satu tujuan dari 17 tujuan yang ingin dicapai oleh semua negara. Kemiskinan adalah suatu kondisi ketidakmampuan seseorang secara ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan diukur dari sisi pengeluaran.

Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan dikategorikan sebagai penduduk miskin. Garis Kemiskinan (GK) merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2.100 kilo kalori perkapita perhari. Garis Kemiskinan Non Makanan (GKMN) adalah kebutuhan minimum untuk kebutuhan perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk miskin di Indonesia mengalami penurunan dari 25,67 juta jiwa (9,66 persen)  pada bulan September 2018 menjadi 25,14 juta jiwa (9,41 persen) pada bulan Maret 2019.  Apabila dirinci berdasarkan daerah, kemiskinan di perkotaan turun dari 6,89 persen menjadi 6,69 persen.  Sedangkan untuk tingkat perdesaan, persentase penduduk miskinnya juga mengalami penurunan dari 13,10 persen menjadi 12,85 persen.

Fenomena tersebut ternyata tidak terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur, dimana secara umum kemiskinan di Provinsi Nusa Tenggara Timur mengalami peningkatan dari 21,03 persen pada September 2018 menjadi 21,09 persen pada Maret 2019.  Jika dilihat menurut wilayah, persentase penduduk miskin di perkotaan mengalami penurunan sementara di perdesaan mengalami peningkatan. Persentase penduduk miskin di perkotaan mengalami penurunan dari September 2018 sebesar 9,09 persen menjadi sebesar 8,84 persen pada Maret 2019.  Sementara di perdesaan, persentase penduduk miskin mengalami peningkatan dari 24,65 pada September 2018 menjadi 24,91 persen pada Maret 2019.

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan di NTT periode September 2018 hingga Maret 2019 adalah tingkat kesejahteraan petani yang cenderung menurun pada Maret 2019.  Hal ini tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) NTT pada Maret 2019 sebesar 105,63 turun 1,60 persen jika dibandingkan periode September 2018 yang sebesar 107,35. Penurunan ini disebabkan oleh harga produksi pertanian menurun, sedangkan harga konsumsi petani meningkat. Selain itu, inflasi pedesaan pada periode September 2018–Maret 2019 menunjukkan angka yang cukup tinggi yaitu 2,19 persen.  Ekonomi NTT pada triwulan I 2019 dibandingkan triwulan IV 2018 mengalami konstraksi sebesar -5,62 persen.

Faktor lainnya adalah rata-rata pengeluaran per kapita per bulan untuk penduduk yang berada di 40 persen lapisan terbawah selama periode September 2018–Maret 2019 tumbuh 2,15 persen, namun masih lebih rendah dibandingkan kenaikan Garis Kemiskinan pada periode yang sama sebesar 3,85 persen.

Rokok dan Kemiskinan

Garis kemiskinan di perkotaan didominasi oleh pengeluaran untuk komoditas makanan berupa beras, rokok kretek filter, ikan tongkol/tuna/cakalang, gula pasir, ikan kembung, telur ayam ras, kopi bubuk dan kopi instan (sachet), daging babi, roti, dan kue basah.  Sedangkan untuk daerah perdesaan, garis kemiskinan didominasi oleh beras, rokok kretek filter, gula pasir, jagung pipilan/beras jagung, daging babi, kopi bubuk dan kopi instan (sachet), daging ayam kampung, daun ketela pohon, roti, dan ikan tongkol/tuna/cakalang.  Baik di perkotaan maupun perdesaan dua komoditas terbesar makanan sama, yaitu beras dan rokok kretek filter.

Ada fenomena menarik yang layak dicermati dari pengeluaran penduduk miskin di perkotaan maupun perdesaan di Nusa Tenggara Timur yaitu adanya pengeluaran untuk rokok kretek filter yang menempati urutan kedua terbesar.  Hal ini sangat disayangkan, terlebih bagi penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan mengeluarkan uangnya hanya untuk membeli rokok, yang tidak memberikan nilai gizi. Seandainya pengeluaran untuk rokok tersebut digantikan dengan komoditas lain yang lebih bernilai gizi tentu akan dapat meningkatkan kesehatan dan produktifitas penduduk.  Melihat fenomena tersebut maka diperlukan edukasi kepada penduduk miskin agar lebih bijak membelanjakan pendapatannya, agar lebih memprioritaskan pengeluaran untuk komoditas yang lebih bergizi dan dapat meningkatkan kesehatan.

Kemiskinan memang merupakan permasalahan bersama yang harus dicari akar masalah dan solusinya. Bagi Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur yang sudah berhasil menurunkan tingkat kemiskinan di tingkat Provinsi, maka ini menjadi hal yang sangat menggembirakan. Tapi jika dilihat secara nasional, Provinsi NTT masih berada di ranking ketiga provinsi termiskin setelah Papua dan Papua Barat. Tentu ini menjadi PR selanjutnya bagi pemerintah Provinsi NTT saat ini bagaimana menurunkan angka kemiskinan NTT. Diperlukan program dan kerja nyata yang mampu memberantas kemiskinan sehingga tercapai masyarakat NTT yang maju dan sejahtera. (*)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!