Hilang 9 Tahun, ART Disandera Majikan – Timor Express

Timor Express

HUKUM

Hilang 9 Tahun, ART Disandera Majikan

LAPOR POLISI. Samuel Haning selaku kuasa hukum Josef Dillak saat membuat laporan polisi terkait dugaan kasus human trafficking dengan korban Maria Dillak alias Lenny yang saat ini disandera di Medan Sumatera Utara, Sabtu (28/12).

INTHO HERISON TIHU/TIMEX

Jadi Korban Trafficking, Orangtua Lapor Polisi

KUPANG, TIMEX- Kasus human trafficking kembali terkuak di Kota Kupang. Pasalnya, setelah 9 tahun lamanya menghilang dari Kota Kupang, Maria Dillak alias Lenny warga Jalan Banteng, RT 33/RW 07, Kelurahan Air Nona, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang baru diketahui keberadaannya saat ini. Diduga ia disandera majikannya di Medan Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Keberadaan Lenny saat ini terungkap lewat salah satu postingan yang viral di media sosial facebook (Fb) bahwa Lenny disandera oleh majikan dimana dirinya bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART). Lenny bahkan mendapat ancaman dan intimidasi oleh majikannya dan diduga dirinya adalah salah satu korban trafficking sejak tahun 2010 silam.

Maria Dillak alias Lenny juga diketahui saat berangkat ke Medan masih di bawah umur karena saat itu dirinya baru berusia 15 tahun. Bahkan, ketika diberangkatkan ke Medan, orangtuanya juga tak tahu.

Josef Dillak, ayah Maria Dillak alias Lenny kepada awak media usai membuat laporan polisi di SPKT Polda NTT, Sabtu (28/12) mengisahkan bahwa anaknya itu dibawa oleh Fin Josef yang merupakan warga Oesao, Kabupaten Kupang. Saat itu, korban masih berumur 15 tahun. Kepada orangtua Lenny, Fin selaku perekrut mengaku bahwa akan memperkerjakan Maria di Medan dengan gaji yang menggiurkan.

Saat itu, orangtua korban menolak dengan alasan anaknya masih di bawah umur dan tidak diizinkanbepergian jauh. Namun, setelah beberapa hari kemudian, Lenny tiba-tiba menghilang tanpa sepengetahuan orangtua. “Saya tolak karena anak saya masih di bawah umur. Tapi ibu Fin bilang anak saya sudah dewasa dan bisa kerja dengan gaji besar,” tutur ayah Lenny.

Dikatakan, Lenny merupakan anak keempat itu sejak berada di Medan, tidak pernah berkomunikasi dengan keluarganya di Kota Kupang. Lenny bahkan dilarang memegang handphone (HP) oleh majikannya yang diketahui bernama Candra Batara Simanmora yang beralamat di Jalan Gaperta, Kompleks The Piazza Residence, Blok F, Nomor 18, Helvetia, Medan.

“Lenny masih hidup dan sekarang ada di Medan. Kita tahu bahwa dia di Medan karena saat dia diminta majikannya untuk berbelanja, saat itulah ia bertemu salah satu warga NTT. Lenny pun meminta bantuan untuk menelepon kami di Kupang ,” ujarnya.

Selfi Dilak, kakak kandung koran juga menambahkan bahwa korban mengadukan nasibnya itu kepada keluarga di Kupang bahwa ia diancam dan diintimidasi majikannya. Bahkan, orangtuanya di Kupang pun turut diancam akan dibunuh jika ia berusaha kabur. “Adik saya mengaku dia dalam ancaman dan selama kerja tidak digaji. Ia malah diancam dibunuh kalau dia minta gajinya,” ujar Selfi.

Setelah mendengar kabar dari korban, orangtua korban didampinghi penasehat hukumnya, Samuel Haning langsung membuat laporan ke Mapolda NTT. Mereka melaporkan Fin Josef yang telah merekrut dan memberangkatkan korban Lenny ke Medan tanpa izin orangtua korban dengan laporan polisi Nomor: LP/B/467/VI/Res.1.15/2019/SPKT Tanggal 28 Desember 2019.

Samuel Haning mengatakan, laporannya itu terkait human trafficking yang korbannya anak bawah umur sehingga ia meminta Polda NTT segera mengamankan para pelaku dan membebaskan korban dari sanderaan majikannya di Medan. “Kita minta Polda NTT segera berkoordinasi dengan Polda Sumatera Utara untuk bebaskan korban, karena saat ini ia dalam ancaman,” tandasnya. (mg29/gat)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!