Cukai Rokok Pasti Naik, Vape Masih Dibahas – Timor Express

Timor Express

EKONOMI

Cukai Rokok Pasti Naik, Vape Masih Dibahas

ILUSTRASI/NET

JAKARTA, TIMEX-Pemerintah memastikan aturan kenaikan cukai rokok akan naik per hari ini. Kenaikan cukai rokok tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuanan (PMK) 152/PMK.010/2019 tentang perubahan kedua atas PMK 146/PMK.010/2017 tentang tarif cukai hasil tembakau. Dalam PMK tersebut, diputuskan kenaikan tariff cukai rokok rata-rata 23 persen. Selain itu, Harga Jual Eceran (HJE) juga naik hingga 35 persen, sebagai kompensasi tidak adanya kebijakan tersebut pada tahun lalu. Otomatis, harga rokok di pasaran pun akan terkerek naik.

“Insya Allah pasti (naik). Untuk kelengkapan yang 1 Januari 2020 yang baru, yang produksi baru,”ujar Kepala Sub Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Deni Surjantoro kepada Jawa Pos, kemarin (31/12). Sedangkan untuk rokok dengan pita cukai keluaran tahun 2019, masih akan diperbolehkan dipasarkan tahun depan. “Untuk rokok lama dengan pita cukai lama, itu masih boleh beredar,” tambahnya.

Deni menuturkan, kenaikan cukai rokok tersebut sudah melalui berbagai diskusi dan pembahasan baik dengan anggota dewan, maupun asosiasi, termasuk pelaku usaha. Sejauh ini, tidak ada keberatan dari sejumlah pihak terkait. “Kita sudah komunikasikan dengan asosiasi dan pelaku usaha lainnya soal kenaikan cukai rokok ini,”tuturnya.

Kenaikan cukai rokok tersebut, lanjut Deni, tidak berlaku pada semua jenis rokok. Kenaikan cukai rokok teresbut berlaku pada beberapa jenis rokok seperti CHT Sigaret Kretek Mesin (SKM) dengan kenaikan tariff sebesar 23,29 persen, Sigaret Putih Mesin (SPM) naik 29,95 persen, dan Sigaret Kretek Tangan (SKT) atau Sigaret Putih Tangan naik 12,84 persen. Sedangkan, jenis produk tembakau iris, rokok daun, sigaret kelembek kemenyan, dan cerutu tidak mengalami kenaikan tariff.

Sementara untuk kenaikan cukai vape, Deni menuturkan, hal tersebut masih dalam tahap pembahasan. Belum ada kepastian kenaikan tariff cukai rokok elektrik tersebut di tahun 2020. “Untuk vape masih dalam pembahasan ya,”katanya. Sebelumnya, pemerintah telah menyatakan akan menaikkan cukai untuk cairan rokok elektrik (vape) mulai 1 Januari 2020. Berdasarkan PMK Nomor 152/PMK.010/2019, cukai vape akan naik sebesar 25 persen dari harga yang berlaku sekarang. Saat ini, tarif cukai cairan vape dikenakan sebesar 57 persen dari harga jualnya.

Sementara itu, menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto, kenaikan cukai rokok yang nantinya berujung pada kenaikan harga rokok, dipastikan akan menyumbang inflasi di 2020. Dia menguraikan, setiap bulan ada sumbangan inflasi untuk rokok kretek filter sebesar 0,01 persen. “Jadi nanti kita lihat bulan Januari kalau dia (rokok) naik 35 persen seperti apa? Kalau (kenaikan) nggak seketika, nyebar ke bulan-bulan dan naiknya halus, tentu dampaknya semakin akan kecil,” paparnya.

Menurut Pengamat Ekonomi INDEF Bhima Yudhistira, kenaikan tariff cukai rokok akan lebih banyak dampak negatifnya karena, kenaikan cukai relatif tinggi dibandingkan kenaikan pendapatan masyarakat. Upah minimum naik 8,51 persen sementara harga rokok naiknya 35 persen. Hal ini nantinya akan berdampak ke penurunan daya beli masyarakat khususnya masyarakat rentan miskin dan miskin karena sebagian besar konsumen rokok ada dikelompok ini.

“Sementara vape sbagai alternatif rokok kan masih kecil share nya, tapi sudah dibebani dengan cukai yang kelewat tinggi. Ujungnya orang tetap beralih mengkonsumsi rokok yang resiko nya lebih tinggi meski harga nya sama sama naik,”paparnya saat dihubungi, kemarin.

Terpisah, keputusan pemerintah menaikkan tarif cukai rokok tahun depan dinilai cukup memberatkan pelaku usaha. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Rokok Putih Indonesia (Gaprindo) Muhaimin Moeftie mengatakan bahwa industri rokok mengalami tren yang stagnan bahkan cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan produksi sejak 2016 adalah negatif setiap tahunnya dengan kisaran minus 1 hingga 2 persen. Menurut dia, pada 2018 hanya tersisa 456 pabrikan dari 1.000 pabrik rokok yang ada di 2012. “Kami melihat kecenderungan pasar yang kian sensitif terhadap harga, di mana mayoritas konsumen lebih memilih rokok-rokok value for money dengan kisaran harga Rp 15.000-20.000,” ujarnya.

Menurut Muhaimin, kenaikan cukai rokok sebesar 23 persen dan Harga Jual Eceran (HJE) 35 persen di tahun 2020 akan kian menghimpit kondisi industri rokok nasional. Pelaku industri, lanjut dia, tidak akan memiliki ruang bergerak yang cukup untuk menciptakan inovasi produk yang diperlukan untuk menghidupkan industri ini. Akibatnya, rokok ilegal berpotensi besar naik kembali. “Hal ini telah terjadi pada negara tetangga kita Malaysia di mana pada tahun 2015 pemerintah menaikkan cukai rokok sekitar 43 persen akibatnya rokok illegal meningkat drastis menjadi lebih kurang 60 persen. Akibatnya, penerimaan menurun karena jumlah pembelian pita cukai merosot tajam,” tambahnya,

Hal lain yang harus menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam menaikkan tarif cukai, lanjut Muhaimin, adalah penghidupan petani tembakau, petani cengkeh, dan para pekerja di industri ini yang jumlahnya mencapai jutaan orang. Bagi petani, cukai yang kian tinggi dan penjualan yang menurun menyebabkan kebutuhan bahan baku berkurang. Akibatnya, para petani akan merugi karena tembakau serta cengkeh yang mereka hasilkan tidak terserap. Bagi para pekerja, penurunan volume produksi berarti potensi PHK.

Di sisi lain, Muhaimin berpendapat kenaikan tarif cukai dan HJE secara drastis belum tentu memiliki dampak terhadap tujuan yang ingin dicapai, yaitu penurunan prevalensi perokok, terutama kalangan anak dan perempuan. “Kami berharap pemerintah mau berdiskusi lebih lanjut tentang upaya bersama untuk mendorong pengendalian konsumsi sesuai aturan yang berlaku. Namun, hendaknya hal ini dapat dilakukan tanpa melakukan langkah ekstrem yang dapat mengancam keberlangsungan industri IHT,” urainya.(ken/agf/jpg/cel)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!