Polisi Dalami Keterangan Para Saksi – Timor Express

Timor Express

KUPANG METRO

Polisi Dalami Keterangan Para Saksi

PENUHI PANGGILAN. Hengki Go (tengah) didampingi dua saksi lainnya saat memenuhi panggilan penyidik Unit Pidum Satreskrim Polres Kupang Kota untuk dikonfrontir, belum lama ini.

IST

Penyidikan Perkara Pemilik Wedding Shop

KUPANG, TIMEX – Penyidik Unit Pidum Satuan Reskrim Polres Kupang Kota terus mengembangkan penyidikan perkara dugaan penipuan dan penggelapan yang dilaporkan Hengki Go dengan terlapor pemilik Wedding Shop Kupang, Dessy Carolina Chandra Jaya.

Pemeriksaan saksi terus dilakukan penyidik Subnit III Brigpol Marlon Tanamal.

Salah satu saksi yang juga dimintai keterangan adalah Edi Purwanto.

Menurut Edi Purwanto, pemborong yang berbeda, terlapor Dessy tidak membayar upah pekerjaan mereka di obyek rumah yang sama yaitu di Jalan Prof W.Z. Johanes Nomor 20 BC.

Menurut Edi, dirinya bersama Suwarno sudah di-BAP di Polres Kupang Kota.

“Koq Dessy belum dijadikan tersangka. Saya curiga jangan sampai Dessy punya beking polisi yang melindungi dia. Soalnya pada saat saya menagih uang kerjaan ke Dessy, bukan dibayar malah calon suami Dessy nantang duel sambil membawa seorang berpakaian biasa. Lantas saya menelpon Pak Riken untuk datang juga menyaksikan bahwa saya menagih uang angkutannya pada Dessy,” kata Edi Purwanto.

Dijelaskan, pada saat Riken yang juga seorang anggota polisi datang menemuinya, Riken lalu memberitahukan kepadanya bahwa di sebelah Dessy itu adalah angota polisi.

“Di situ baru saya tahu. Riken juga tidak dibayar angkutannya oleh Dessy sebesar Rp 2,1 juta,” ungkap Edi Purwanto.

Sementara itu, saksi lainnya, Debora juga merasa kecewa dengan pelayanan Wedding Shop.

Menurut Debora, sebelum terima uang, Dessy menjanjikan pelayanan yang bagus. Tapi kenyataan pada saat sudah terima uang pelayanannya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Menurut Debora, pada saat merias dirinya meminta untuk benahi riasnya, namun Dessy seperti tidak menghiraukan.

“Akhirnya anak mantu saya complain, tapi malah dia balik marah. Kami berpikir kami tidak mau ribut di tempat orang. Dan akhirnya kami memilih ke salon lain untuk perbaiki make up nya. Ada beberapa hal juga yang tidak sesuai, tapi mengingat pernikahan itu hari bahagia bagi keluarga sehingga kami abaikan itu semua,” kata Debora.

Sementara, Hengki Go menambahkan, barang bukti yang sudah terpasang di rumah Dessy, seharusnya Dessy tidak boleh merubah, memindahkan, atau menghilangkan sebelum putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap.

“Karena seperti yang saya tahu, bahwa barang siapa merubah, memindahkan, atau menghilangkan barang bukti tersebut dia telah melakukan perbuatan pidana,” sebut Hengki.

Pada saat konfrontir menurut Hengki, Dessy mengaku di hadapan penyidik bahwa gugatannya yang ditolak, dan memaksa penyidik untuk membaca penetapan putusan perkara perdata No.297/PDT.G/2018/PN.KPG.

Menurut Hengki, Dessy diduga sengaja mau membodohi penyidik. Dimana di hadapan penyidik, Hengki menjelaskan penetapan putusan tersebut bahwa bukan gugatannya yang ditolak melainkan eksepsi Dessy yang ditolak.

Dalam penetapan putusan tersebut, di halaman 32 dijelaskan: menimbang bahwa terdapat dalil eksepsi tergugat tentang gugatan penggugat kabur.

Sedangkan penjelasan berikutnya di halaman 33: majelis hakim menilai posita gugatan penggugat telah diuraikan berdasar pada Pasal 1243 KUHPerdata serta fakta atau alasan-alasan menurut penggugat yang menjadi dasar ganti rugi sebagai akibat dari perbuatan wanprestasi yang dilakukan tergugat telah cukup jelas dan terang.

Sehingga dari uraian tersebut di atas, menurut Hengki Go, maka majelis hakim berpendapat bahwa dalil eksepsi tentang gugatan kabur tersebut tidak beralasan hukum dan patut untuk ditolak.

Menurut Hengki, Dessy juga mengatakan kepada penyidik bahwa di termin ke-2 ada pekerjaan yang belum diselesaikan oleh dirinya.

Hengki mengaku telah menerangkan kepada penyidik, bahwa pekerjaan sisa yang belum diselesaikan di termin ke-2 atas permintaan Dessy sendiri untuk mengistirahatkan pekerjaan instalasi air.

“Oleh karena itu sisa granit dan keramik yang menyangkut dengan instalasi air kami hentikan. Jadi kalau Dessy mengatakan kepada penyidik bahwa ada pekerjaan di termin ke-2 yang belum selesai, pekerjaan itu tidak selesai atas kehendak dia sendiri,” tandas Hengki Go.

Dia melanjutkan, di penetapan putusan dijelaskan di halaman 31 bahwa untuk mengetahui keberadaan obyek yang disengketakan, maka majelis hakim pada Jumat, 29 Maret 2019 telah melakukan sidang pemeriksaan setempat dengan dihadiri oleh para pihak.

Majelis hakim menurut Hengki, telah melihat sendiri pekerjaan yang sudah diselesaikan dan sisa pekerjaan yang belum dikerjakan.

“Kalau Dessy hanya mempersoalkan ke penyidik sisa pekerjaan yang belum dikerjakan di termin ke-2, cara menghitung pekerjaan seperti Dessy itu salah. Saya tampilkan lebih sempurna, yaitu pekerjaan sisa termin ke-2 dan pekerjaan sisa di termin ke-3, menurut saya Dessy sengaja lupa bahwa revisi perjanjian termin tanggal 14 September 2018 yang ada item pekerjaannya di situ dijelaskan termin ke-4 serah terima kunci rumah terima uang Rp 75 juta, termin ke-4 sama sekali tidak ada pekerjaannya,” jelas dia.

Sedangkan termin ke-3 ada beberapa item pekerjaan yang sudah diselesaikan yaitu pemasangan pintu kamar, pintu kamar mandi dan jendela.

Termin ke-3 uang sebesar Rp 50 juta ditambah termin ke-4 Rp 75 juta sehingga totalnya Rp 125 juta, dipotong sisa pekerjaan yang belum dikerjakan di termin ke-2 dan sisa pekerjaan di termin ke-3 berikut dengan jasa pekerjaannya di termin ke-2 dan termin ke-3 senilai Rp 61.577.500.

“Jadi Dessy harus membayar ke saya sebesar Rp 63.422.500. Lihat penetapan putusan di halaman 6a sampai dengan halaman 8a dan baca di penetapan putusan halaman 33: fakta atau alasan-alasan menurut penggugat yang menjadi dasar ganti rugi sebagai akibat dari perbuatan wanprestasi yang dilakukan tergugat telah cukup jelas dan terang,” ungkap Hengki Go.

“Penyidik menyampaikan kepada saya bahwa polisi akan menghadirkan ahli perdata dan ahli pidana. Saya yakin para ahli itu orang pintar dan mereka pasti akan melihat putusan perkara perdata No.297/PDT.G/2018/PN.KPG. Pasti mereka akan ke TKP untuk melihat barang bukti sudah berubah, dipindahkan, dan ada yang dihilangkan oleh Dessy, dan 1 buah pintu yang hilang tersebut di hadapan penyidik Dessy mengakui bahwa 1 buah pintu tersebut dia beli dari Widodo Mebel. Tetapi saat Widodo ditanya oleh penyidik, Widodo membantah keterangan Dessy tersebut. Kami para korban harapkan tidak ada intervensi dari pihak manapun terhadap Kapolres Kupang Kota dan kami para korban minta supaya polisi cepat menetapkan Dessy sebagai tersangka sebab bukti penggelapannya sudah sangat jelas,” tutup Hengki Go.

Sementara itu, Dessy Carolina Chandra Jaya yang dihubungi wartawan via ponsel, menolak memberikan konfirmasi terkait perkara dimaksud. “Saya tidak mau komentar. Saya tidak tahu,” singkat Dessy. (joo)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!