Usai Natalan, 53 Warga Keracunan – Timor Express

Timor Express

METRO

Usai Natalan, 53 Warga Keracunan

KERACUNAN. Para warga Desa Oeekam, Kecamatan Noebeba yang mengalami keracunan makanan saat mendapat perawatan dari tim medis.

IST

Di Desa OeEkam, TTS

SOE, TIMEX – Beberapa waktu belakangan sering terjadi kasus keracunan di Kabupaten TTS. Terakhir pada Senin (30/12) malam, sebanyak 53 warga TTS kembali mengalami keracunan. Kali ini terjadi di Desa OeEkam, Kecamatan Noebeba.
Para warga ini dinyatakan positif keracunan setelah diobservasi tim medis. dari hasil ibservasi itu, sebanyak 11 orang dinyatakan kondisinya buruk sehingga mendapatkan pelayanan kesehatan di Puskesmas Noebeba secara intensif. Sementara korban lainnya mendapat rawat jalan.

Kepala Puskesmas Noebeba, Niczon Atopah kepada wartawan di SoE, Rabu (1/1) mengatakan kasus ini bermula ketika para korban mengikuti kebaktian natal bersama Kaum Bapak, Perempuan GMIT dan Pemuda Gereja Fatububut, Senin (30/12) malam. Saat itu, setelah kebaktian selesai, jemaat yang hadir dipersilakan makan malam bersama. Makanan yang disajikan sesuai hasil pemeriksaan terdiri dari nasi, mie, kerupuk maupun daging babi kecap.

Beberapa bahan makanan itu telah diperiksa. Bahan makanan yang dibeli dari toko belum kedaluwarsa. Kasus seperti ini sudah pernah terjadi November lalu di desa ini. Oleh karena itu, pihak panitia telah bekerja sama dengan puskesmas setempat untuk memeriksa bahan makanan yang akan diolah dan dikonsumsi. “Semua bahan makanan kami sudah periksa dan semuanya layak makan, karena bahan makanan belum kadaluarsa. Jadi dugaan saya, mungkin ini terjadi karena cara pengelolaan makanan yang kurang baik,” ujar Niczon.

Bupati TTS, Egusem Pieter Tahun kepada wartawan mengatakan saat ia mendapatkan laporan kasus itu, ia langaung memerintahkan Dinas Kesehatan TTS untuk terjun ke lokasi. Mereka membantu tim medis di Puskesmas Noebeba untuk melakukan tindakan penanganan medis terhadap para korban serta melakukan penyelidikan terhadap penyebab keracunan dengan mengumpulkan sisa makanan yang dikonsumsi agar dilakukan pengujian untuk mengetahui sumber penyebab keracunan. “Saya sudah perintahkan tim medis dari Dinkes untuk turun ke lokasi guna bantu pengobatan terhadap para korban dan juga mengumpulkan sisa makanan yang dikonsumsi,” tutur Egusem.

Selain itu, ia juga meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten TTS untuk ikut turun ke lokasi kejadian untuk ikut membantu Dinkes TTS dan juga tim medis di Puskesmas Noebaba untuk melakukan penganan terhadap para korban keracunan. Bagi korban yang setelah diobservasi secara medis dan dinyatakan kondisinya pulih dikembalikan ke rumah masing-masing, namun tetap dipantau agar jika kondisinya kembali memburuk segera dilarikan ke Puskesmas untuk mendapatkan penanganan medis. “BPBD juga saya telah perintahkan untuk turun ke lokasi kejadian, untuk ikut membantu tenaga kesehatan di sana guna menangani para korban,” kata dia.

Anggota DPRD TTS, Roy Babys mengatakan kasus keracunan yang sering terjadi di Kabupaten TTS seyogianya menjadi perhatian Pemda TTS. Bahkan tidak hanya marak, melainkan kasus keracunan itu telah memakan korban jiwa. Maka dari itu, semestinya Pemda TTS melalui dinas teknis yakni Dinas Kesehatan, seharusnya segera merilis hasil kajian terhadap penyebab keracunan yang terjadi di Kabupaten TTS. Menurut ketua Komisi III DPRD TTS itu, hasil kajian sumber racun sangat urgen dirilis Dinkes TTS agar baik Pemda TTS dan juga DPRD TTS bersama merumuskan langkah penanganan. Namun hingga saat ini, ia belum mendapatkan informasi dari Dinkes TTS terkait penyebab terjadinya kasus-kasus keracunan yang terjadi di TTS. “Ini sudah seharusnya menjadi fokus perhatian Pemda TTS, karena kasus keracunan makanan ini sudah sering kali terjadi di TTS, bahkan ada yang meninggal. Tapi sampai saat ini, saya belum dapat informasi terkait hasil kajian dari Dinkes TTS, terkait apa penyebabnya. Kalau seperti ini bagaimana kita mau rumuskan langkah penanganan,” kata Roy.

Menurutnya, jika Dinkes TTS merilis penyebab terjadinya kasus keracunan di TTS, maka tidak hanya Pemda dan DPRD TTS merumuskan langkah pencegahan, melainkan juga dapat diinformasikan kepada seluruh masyarakat TTS terkait sebab-sebab terjadinya keracunan. Dengan demikian masyarakat juga mengawasi diri terhadap produk yang membahayakan. Namun jika tidak digubris, maka produk-produk atau bahan makanan yang menyebabkan keracunan akan tetap beredar di TTS. “Saya dapat informasi dari bapak Timotius Tamoen bahwa mereka yang mengalami keracunan saat itu mual dan muntah-muntah. Produk makanan yang mereka beli itu, belinya di Pasar Batuputih. Memang semua berlabel, hanya satu saja yang tidak berlabel yakni kerupuk. Jadi saya curiga, jangan-jangan kerupuk itu yang menjadi sumber racun. Tapi ini hanya dugaan saya saja dan kita tunggu hasil kajian Dinkes TTS, semoga dalam waktu dekat sudah dirilis sehingga kita bisa lakukan tindakan antisipasi,” jelas Roy. (yop/sam)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!