BUMDes Au Wula Gandeng Javara Indonesia – Timor Express

Timor Express

FLORES RAYA

BUMDes Au Wula Gandeng Javara Indonesia

ENDE, TIMEX – Dalam rangka sharing session, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Au Wula Desa Detusoko Barat menggandeng Javara Indonesia dalam upaya optimalisasi dan inovasi produk-produk berbasis desa dengan standar premium untuk pasar wisata. Pelaksanaan sharing session diselenggarakan di kantor Desa Detusoko Barat, Sabtu (21/12) lalu.

Ketua BUMDes Au Wula Desa Detusoko Barat, Nando Watu menuturkan, sharing session sebagai langkah awal untuk membangun kolaborasi, membuka pemahaman dan motivasi, pemikiran dan wawasan masyarakat terkait produk-produk  apa saja yang diterima oleh pasar wisata.

“Kita pingin mengetahui potensi desa apa saja yang bisa diolah dan dimanfaatkan untuk tujuan wisata, mengetahui karakter dari wisatawan serta apa saja kesukaan dan maunya wisatawan ketika berkunjung ke sebuah destinasi,” ujar Nando yang juga kepala desa terpilih Detusoko Barat periode 2020-2025.

Nando menjelaskan, pasar wisata menjadi peluang utama bagi desa untuk menciptakan aneka potensi desa yang bisa dikembangkan, diolah dengan standar internasional. Menurut dia, kolaborasi sangat penting untuk membangun potensi desa, karena itu  dalam training, BUMDes menggandeng Javara Indonesia, Ricolto Veco dan juga dengan komunitas usaha kreatif, sehingga bisa menjadi ruang belajar bersama.

“Peserta yang ikut sharing session ada 60-an orang dari berbagai latar belakang usaha dan daerah. Mereka tidak hanya dari Desa Detusoko, tetapi juga ada yang dari Maumere, Ende, Negekeo, bahkan ada yang datang dari Kupang,” ujarnya.

Dikatakan, Detusoko adalah salah satu penyangga Kelimutu dan wisatawan yang menuju ke Kelimutu pasti melewati Detusoko. Hal ini tambahnya, jadi peluang pasar yang cukup besar, apalagi wisatawan yang hendak ke Kelimutu sebanyak 90.000 orang tiap tahun. Karena itu potensi pasar perlu disikapi oleh desa-desa penyanggah.

“Kami mencoba menggandeng Javara Indonesia melalui Sekolah Seniman Pangan untuk membantu bagaimana produk-produk lokal diolah, bagaimana label dan branding dari sebuah produk dikemas dengan standar premium atau internasional,” tutur Nando.

Sementara itu, Helianti Hilman dari Javara Indonesia menjelaskan, potensi di desa luar biasa, karenanya aneka potensi pangan yang terlupakan perlu diangkat dan dilestarikan. Menurut dia, ada ratusan komoditas pangan yang perlu diangkat dan lestarikan sebagai ciri khas Indonesia.

“Kita perlu mengangkat potensi yang adalah subsidi dari Tuhan, yang tidak dilirik oleh banyak orang. Komoditas yang unik dan khas dari desa perlu diolah, kita harus mampu membuat produk itu memiliki cerita yang khas,” tuturnya.

Sebut dia, hal yang paling utama perlu diperhatikan adalah siapa sasaran pasar. Karena hal ini sangat penting, sebab dengan mengetahui psikologi pasar, apa kebutuhan mereka, karakter apa yang mereka sukai, apa kebiasaan mereka, dengan berpijak pada sasaran, maka baru bisa design olahan produk-produk yang ada di desa.

Dia mencontohkan, wisatawan yang berkunjung ke Kelimutu adalah orang Eropa seperti Jerman, Italia dan Prancis, pada umumnya mereka tidak suka yang manis, maka kepada mereka pagi hari disiapkan buah sebagai breakfast. Dia menyebutkan, seperti  menyuguhkan buah-buahan segar seperti pisang atau nanas, begitu pula produk turunan dari buah dibuatkan dried fruit atau buah yang dikeringkan, sangat digemari wisatawan.

“Jika wisatawan suka dengan selai, karena itu harus ada inovasi seperi kacang dijadikan selai kacang atau juga kita punya jambu mete dijadikan selai. Potensi di desa seperti jahe dapat kita buatkan wedang jahe atau kopi dibuat dengan aneka olahan. Hal yang perlu adalah sedikit inovasi dan kreativitas kita,” tutur Helianti yang sudah berkolaborasi dengan lebih dari 52.000 petani/nelayan se-Indonesia.

Sementara itu, Plt Camat Detusoko, Everardus Santiasa,  dalam sambutannya menyampaikan, Detusoko sebagai desa penyangga Kelimutu sangat mengharapkan adanya inovasi produk. Selain itu, perlu ada pemetaan potensi desa yang tepat, detail dan identifikasi orang-orang yang berminat, motivasi dan kemauan mereka seperti apa, harus juga di dukung dengan skill dan kemampuan mereka sehingga pelatihan dilakukan tepat sasaran.

Dikatakan, pemerintah pada prinsipnya sangat mendukung dan yang penting sebut dia, usaha harus fokus. Dia mengatakan, jika fokus di produk keripik, harus mulai dari kebun, ketersediaan teknologi hingga produk jadi. Jangan sampai pelatihan terkait menjahit, namun yang tahu jahit hanya satu orang.

Salah satu peserta dari Kupang, Tata Yunita merasa bangga bisa ikut sharing session, sehingga bisa mengetahui lebih dalam bagaimana tentang branding, packing yang tepat untuk pasar dan menariknya adalah kekuatan cerita dari sebuah produk.

Sementara, Sonya da Gama dari Sonya Art Shop Maumere merasa bersyukur karena dapat belajar banyak hal.

“Saya akhirnya berpikir bagaimana membuat packing yang simpel yang dalamnya aneka produk dikemas Ini suatu inovasi yang luar biasa. Saya hari ini tidak sia-sia datang belajar ke sini,” pungkasnya. (kr7/ays)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!