Ketua PKK Beri Kado Natal untuk  ODGJ – Timor Express

Timor Express

FLORES RAYA

Ketua PKK Beri Kado Natal untuk  ODGJ

JABAT TANGAN. Ketua TP PKK Kabupaten Matin, Theresia Wisang bersalaman dan bercerita dengan ODGJ di Borong.

FANSI RUNGGATTIMEX

BORONG, TIMEX – Ketua TP PKK Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Theresia Wisang, Senin (23/12) mengunjungi sejumlah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kota Borong. Para penderita bisa bercerita dan dapat kado Natal dari istri Bupati Matim.

Pantauan Timor Express, ketua PMI Matim dan Pembina Founder Pranata Foundation Matim ini, berkunjung langsung di rumah dan tempat tinggal ODGJ. Yakni satu orang di Kembur Kelurahan Satar Peot. Selain itu dua orang yang dipasung di Desa Bangka Kantar.

Satu orang di Wae Reca Desa Nanga Labang, di mana baru saja lepas dari pasung. Selain itu, di Golo Karot Kelurahan Rana Loba.

Dalam kunjungan itu, Theresia didampingi relawan PMI Matim dan relawan Kelompok Kasih Insani (KKI) Peduli ODGJ Kabupaten Matim.

Juga bersama tenaga medis dari Puskesmas Peot dan Sita. Theresia begitu dekat dan peduli saat bertemu langsung dengan penderita.

“Kegiatan saya hari ini, sebagai wujud nyata dari saya sebagai seorang ibu dalam memperingati Hari Ibu. Juga saya mau berbagi kasih dengan mereka dalam suasana perayaan Natal. Disini hati saya tergerak untuk menyembuhkan mereka penderita ODGJ,” ujarnya kepada Timor Express di sela-sela kunjungan itu.

Kata dia, setelah melihat langsung kondisi sejumlah penderita, ia merasa sangat prihatin. Khusus ODGJ yang dipasung, secara fisik kata dia, mestinya tidak perlu ada. Karena ada yang harus dipertimbangkan. Tapi belum tahu kondisi kejiwaannya. Mereka butuh sentuhan hal yang substansial.

“Jujur saya sangat prihatin melihat kondisi mereka. Apalagi mereka yang dipasung. Lihat kondisi mereka sepertinya tidak perlu dipasung. Ke depan penderita ODGJ perlu ada penanganan untuk memulihkan mereka. Juga pasca lepas dari pasung atau setelah sembuh. Tetap butuh pendampingan. Pertama dari keluarga dan lingkungan,” katanya.

Pendampingan pasca pengobatan sangat penting, supaya tidak boleh ada stigma terhadap penderita. Tidak boleh menyebut ODGJ dengan sebutan gila. Kata Theresia, stigma telah menyebabkan ODGJ merasa malu, menyalahkan diri sendiri, putus asah dan enggan mencari atau atau menerima bantuan.

Ke depan, langkah yang perlu dilakukan yakni asesmen data yang akurat. Sehingga disini butuh keterlibatan pemerintah desa. Mestinya di desa harus ada dasawisma untuk tugas mencatat data apa saja, termasuk penderita ODGJ. Baik yang pasung dan tidak pasung.

Data yang ada nanti, diolah dengan baik sebelum masuk ke meja bupati. Untuk Kabupaten Matim, data penderita ODGJ belum jelas. Ada data di dinas terkait, tapi dinas sendiri belum pernah turun cek penderita di lapangan. Baru tercatat sekira 60-an penderita ODGJ di Matim yang dipasung.

“Untuk data ini, harus lengkap. Termasuk riwayat awal sampai dia menderita. Sehingga dalam penanganannya jelas berbeda. Karena ada penderita yang riwayatnya karena hal genetis, karena depresi dan lainnya. Kita juga harus tahu latar belakang dan silsilah keluarga,” ujarnya.

Disini juga, kata Theresia, harus ada kerja sama antara Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial. Tidak boleh saling lempar. Selain itu, di Matim butuh satu wadah fisik yang bisa tampung para penderita ODGJ. Selain itu, ada juga orang khusus yang bisa menangani ODGJ. Tentu butuh orang yang bisa menyatu dengan ODGJ.

“Saya pikir ke depan, pemkab harus bersikap. Bisa dengan siap tempat atau wadah yang penanganan ODGJ. Siap juga dengan psikiater klinis. Artinya kita juga harus siapkan SDM yang memadai untuk layani mereka. Bisa dibuat dalam bentuk kerja sama. Targetnya, Matim harus bebas pasung,” pungkasnya.

Sementara, koordinator relawan KKI Peduli ODGJ Matim, Markus Makur merespon aksi kemanusiaan dengan bagi kado Natal Ketua TP PKK. Dengan memberikan kado Natal, membuka mata hati semua orang untuk memulihkan dan menyembuhkan sesama saudara yang menderita ODGJ.

“Selama ini saudara kita yang derita ODGJ dilupakan, disisihkan dan dipinggirkan dari perhatian dalam memberikan pelayanan kesehatan. Selama ini dinas terkait hanya mendata saja, tapi belum memberikan pelayanan dan mengobati penderita. Kami melihat hati ibu Markus Wisang begitu sangat peduli,” bilang Markus.

Menurutnya, aksi kemanusiaan di akhir tahun 2019, sangat gencar dilakukan dengan kerelaan hati. Di mana selama ini juga dilakukan oleh sejumlah pimpinan dan anggota DPRD Matim. Mereka mendengar suara rakyat, dengan mengganggarkan dana untuk pelatihan 22 tenaga medis dan dokter khusus menangani penderita ODGJ.

“Untuk menangani dan memulihkan penderita ODGJ dibutuhkan keterlibatan semua pihak. Baik itu Pemkab Matim, lembaga agama, kepala desa, tokoh masyarakat, pemuda, keluarga dan lingkungan masyarakat. Saat ini yang harus dikampanyekan adalah bongkar stigma dan stop diskriminasi terhadap ODGJ,” ujar Markus. (krf3/ays)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!