Sambutan Tahun Baru dengan Gelap Gulita – Timor Express

Timor Express

RAKYAT TIMOR

Sambutan Tahun Baru dengan Gelap Gulita

POSE BERSAMA. Anggota DPRD Kabupaten Kupang, Yogerens Leka (kedua kanan) dan Thomas Katu perwakilan tokoh masyarakat Semau (kedua kiri) diapit dua pejabat PLN.

IST

KUPANG, TIMEX – Masyarakat dua kecamatan di Semau menyambut Tahun Baru 2020 dengan kegelapan akibat padamnya listrik di wilayah tersebut.

Pemadaman listrik pada akhir tahun itu mengakibatkan kebaktian akhir tahun sempat terganggu dan jadwal kebaktian bergeser akibat menunggu upaya penyediaan lampu penerangan dari jemaat dan pihak gereja.

Anggota DPRD Kabupaten Kupang, Yogerens Leka kepada Timor Express, Kamis (2/1) menegaskan, sebagai representasi masyarakat pulau Semau, dirinya sangat kecewa dengan sikap petugas PLN Semau karena tidak ada rasa peduli terhadap pelayanan keagamaan.

“Sebenarnya masyarakat Semau bagian dari NKRI atau bukan atau masyarakat sebagai pelanggan PLN di Semau tidak mampu membayar sehingga saat momen kebaktian penyambutan Natal listrik harus padam,” tanyanya.

Dikatakan, pemadaman listrik tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Sedangkan semua gereja di Semau sangat tergantung pada listrik, maka kebaktian penyambutan Tahun Baru yang seharusnya dilakukan dengan damai malah berubah situasinya.

“Jika ada pemadaman seperti itu harus ada pemberitahuan sebelumnya. Oke lah jika ada kejadian yang tak terduga, maka harus disampaikan segera kepada pihak gereja. Pihak gereja semua ada jadwal kebaktiannya dan menunda dan menunggu. Toh tidak nyala dan tidak ada kabar. Ini apa sebenarnya,” protesnya.

Ia menduga ada permainan petugas PLN agar bahan bakar yang tidak digunakan saat tidak menyalakan listrik dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. “Bayangkan mereka bilang ada masalah jaringan, namun kepala Desa Otan telepon ke managernya jadi jalur Uitao, Otan dan Batuinan menyala,” paparnya.

Ia menyebut, untuk tiga desa yakni Desa Uitao, Otan dan Desa Batuinan, pemadaman itu terjadi sejak pukul 18.00-23.00. Sedangkan desa lainnya terjadi pada pukul 18.00 tanggal 31 Desember sampai 1 Januari 2020 pukul 15.00.

“Jangan sampai mereka tidak kasih nyala tapi laporannya BBM habis terpakai. Ini perlu ditelusuri karena kejadian-kejadian yang tidak masuk akal sering dipertontonkan oleh petugas PLN,” tegasnya.

Yogerens menyebutkan, untuk mengantisipasi kejadian pemadaman tersebut, dirinya dan perwakilan dari tokoh masyarakat Desa Uiasa mendatangi kantor PLN di jalan Palapa Kota Kupang tanggal 23 Desember agar tidak ada pemadaman serta menyampaikan beberapa persiapan yang dialami sejumlah pelanggan PLN baru, namun hal itu diabaikan pihak PLN dan pemadaman terjadi.

Ditambahkan, sejumlah gereja terpaksa harus mencari alternatif penerangan lain berupa peminjaman genset milik jemaat, sementara gereja yang lainnya hanya mengandalkan lilin.

“Banyak masyarakat kecewa dengan pemadaman listrik ini, karena sangat mengganggu aktivitas ibadah mereka di gereja,” imbuhnya.

Ia mengaku akan berkoordinasi dengan pimpinan DPRD Kabupaten Kupang untuk membahas masalah pelayanan PLN karena sangat merugikan. “PLN memang BUMN, tapi PLN hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga seharusnya mereka harus mendengar pengeluhan masyarakat,” tandasnya.

Selain padaman listri, disampaikan bahwa terdapat permainan antara petugas PLN dan petugas instalator meteran baru sehingga terdapat 12 pelanggan baru di Desa Uiasa yang sudah melunasi meterannya satu tahun, namun pelanggan belum bisa menikmati listrik.

“Kita sudah berupaya mendatangi dan berkoordinasi dengan pihak PLN, namun mereka terkesan saling melempar tanggung jawab dan lagi-lagi masyarakat yang dikorbankan,” ucapnya. (mg29/ays)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!