Adriana Terancam 15 Tahun Penjara – Timor Express

Timor Express

KUPANG METRO

Adriana Terancam 15 Tahun Penjara

PENYERAHAN JENAZAH. Tampak Kaur Bin Ops (KBO) Sat Reskrim Polres Kupang Kota, Iptu I Wayan Pasek Sujana, SH, mewakili Penyidik Polres Kupang Kota menyerahkan jenazah korban ke pihak keluarga tersangka di RSB Bhayangkara Titus Uly, Jumat (3/1/2020).

IMRAN LIARIAN/ TIMEX

Pelaku Pembunuhan Anak Kandung

KUPANG, TIMEX – Pelaku pembunuhan anak kandung, Adriana Lulu Djami alias Ina (33), terancam pidana 15 tahun penjara. Saat ini statusnya adalah tersangka dan sudah ditahan di Mapolres Kupang Kota.

Kasat Reskrim Polres Kupang Kota, Iptu Hasri Manasye Jaha, SH, ketika dikonfirmasi Timor Express, Jumat (3/1), menjelaskan pasal yang diberlakukan adalah pasal 80 ayat (3) dan ayat (4) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo pasal 351 ayat (3) KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan denda Rp 3 miliar.

Sementara untuk Suhendi selaku suami tersangka juga sudah dimintai keterangan. Status Suhendi masih sebagai saksi. Ia dikenakan wajib lapor sambil didalami perannya untuk ditentukan status selanjutnya.

Penyidik Sat Reskrim Polres Kupang Kota telah memeriksa lima orang saksi termasuk Suhendi alias Hendi, suami siri tersangka dan tiga orang anggota TNI AU yang pertama kali menemukan tersangka dan korban.

Iptu Hasri Manasye Jaha juga menjelaskan proses otopsi terhadap jenazah bocah DQ sudah dilakukan. Jenazah telah diserahkan ke pihak keluarga pelaku. “Kami sudah periksa pelaku. Statusnya menjadi tersangka dan telah ditahan di Mapolres Kupang Kota sejak Kamis (2/1),” jelasnya.

Penahanan dilakukan setelah penyidik unit perlindungan perempuan dan anak (PPA) Sat Reskrim Polres Kupang Kota memeriksa tersangka secara maraton sejak pagi hingga petang. Saat diperiksa polisi, tersangka mengaku empat kali membenturkan kepala korban ke tembok kamar. Masing-masing dua kali di kepala bagian kiri dan dua kali di bagian kanan. Pasca kepalanya dibenturkan, korban drop dan panas tinggi.

Proses otopsi di RSB Titus Uly kemarin dipimpin langsung dr. Wahyu Hidajati DP Mars SPF, dari Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri.

Otopsi berlangsung memakan waktu selama tiga jam sejak pukul 13.00 hingga pukul 16.00. Hadir Kaur Bin Ops Sat Reskrim Polres Kupang Kota, Iptu I Wayan Pasek Sujana, SH, Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim Polres Kupang Kota, Bripka Brigitha Usfinit, SH serta perwakilan keluarga tersangka.

Dokter forensik memeriksa organ dalam korban serta membedah kepala korban untuk melihat memar dan luka di kepala korban. Usai pelaksanaan otopsi, dokter belum menyerahkan hasil otopsi karena masih melakukan pemeriksaan dan analisa lebih lanjut.

Kaur Bin Ops (KBO) Sat Reskrim Polres Kupang Kota, Iptu I Wayan Pasek Sujana, SH, mewakili Penyidik Polres Kupang Kota menyerahkan jenazah korban ke pihak keluarga dan jenazah korban disemayamkan di rumah kerabat tersangka di Kelurahan Oeba, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang. Jenazah dijadwalkan dimakamkan Sabtu (4/1/) hari ini.

Untuk diketahui, tersangka menganiaya anak kandungnya berinisial DQ yang baru berusia 2 tahun di sebuah kamar kos-kosan di RT 41/RW 1, Kelurahan Liliba, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang.

Salah satu informan yang ada di kos-kosan tersebut menjelaskan di kos-kosan tersebut terdapat sembilan kamar. Pelaku menempati kamar kos nomor 3. “Kami tidak begitu tahu-menahu tentang aktivitasnya karena lebih sering di dalam kamar kos,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua RT 41/RW 1, Kelurahan Liliba, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Christian Taek, menjelaskan terdapat 126 kepala keluarga (KK) di RT 41/RW 1, Kelurahan Liliba yang terdiri dari 862 jiwa. Data ini di luar dari sejumlah warga penghnui kos-kosan yang belum melaporkan diri.

Ketika ada laporan pasti angkanya bisa naik sampai ke 900-an jiwa. Sementara jumlah kos-kosan sebanyak 26 unit. “Sebanyak 7 pemilik kos-kosan yang belum melaporkan ke RT dan salah satunya kos-kosan milik Thomas Kolin yang mana telah terjadi persoalan. Saya tidak tahu-menahu ada permasalahan di kos tersebut karena tidak ada pernah laporan sama sekali ke RT,” jelasnya.

Berangkat dari kejadian tersebut, tambah dia, ke depan akan dilaksanakan rapat dengan warga teristimewa pemilik kos-kosan yang belum pernah melaporkan diri ke RT. Dalam rapat tersebut diundang juga Lurah Liliba beserta perangkat kelurahan, Anggota Babinsa dan Bhabinkamtibmas dan Sat Pol PP.

Diketahui juga bahwa banyak pemilik kos-kosan yang tidak tinggal di wilayah RT 41 melainkan warga luar Kelurahan Liliba. “Setiap bulan dan paling lambat dua bulan saya adakan rapat bersama pemilik kos-kosan, tetapi kendalanya ketika diundang tidak pernah datang,” katanya.

Jika ke depannya dilaksanakan rapat namun tidak diindahkan maka akan dilakukan sidak di kos-kosan tersebut. Terkait dengan tata tertib di setiap kos-kosan telah disampaikan bahwa batas kunjungan adalah pukul 22.00. (mg22/sam)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!