Wajah Kamtibmas NTT Tahun 2020 – Timor Express

Timor Express

OPINI

Wajah Kamtibmas NTT Tahun 2020

Oleh: Lasarus Jehamat

Dosen Sosiologi Fisip Undana Kupang

Gangguan Kamtibmas di NTT tahun 2019 berjumlah 7.070 kasus. Data ini mengalami penuruan jika dibandingkan dengan gangguan tahun 2018. Di tahun 2018 gangguan Kamtibmas berjumlah 8.657 kasus. Itu berarti, terjadi trend penurunan sebesar 1.587 kasus atau 18,33%. Sedangkan jumlah penyelesaian kasus tahun 2018 berjumlah 4.945 kasus dan tahun 2019 berjumlah 4.014 kasus, trend penurunan sebesar 931 kasus atau 18.82% (Laporan Akhir Tahun Polda NTT, 2019).

Fakta ini perlu diapresiasi. Sebab, posisi kewilayahan NTT yang terdiri dari kepulauan dan berbatasan langsung dengan dua negara sahabat tidak lantas membuat masyarakat gemar melanggar aturan.

Masyarakat NTT dapat disebut perlahan-lahan menyadari kejahatan sebagai musuh bersama. Itulah alasan, trend melakukan kegiatan yang melanggar aturan perlahan-lahan ditekan seminimal mungkin.

Di titik yang lain, kerja keras aparat keamanan perlu pula diakui dan laik diacungi jempol. Benar bahwa kekuatan utama menjaga keamanan dan ketertiban adalah masyarakat sendiri. Meski demikian, peran serta dan keaktifan aparat keamanan dan kepolisian dalam menjaga keamanan harus pula diapresiasi.

Ada lima jenis kejahatan dalam teminologi kepolisian yakni kejahatan konvensional, transnasional, kejahatan terhadap kekayaan negara, kejahatan kontijensi, dan gangguan lainnya. Berdasarkan data Polda NTT (2019), kejahatan konvensional dan transnasional mengalami penurunan masing-masing 18,82% dan 35,71% sedangkan tiga jenis kejahatan lain masih mengalami sedikit kenaikan. Kejahatan terhadap kekayaan negara naik sebesar 40,90%, kejahatan berimplikasi kontijensi sebesar 60%, dan gangguan keamanan lainnya sebesar 0,70%.

Tindakan Generatif

Bourdieu (dalam Haryanto, 2014) pernah menyampaikan tesis tentang perilaku generatif masyarakat. Disebutkan, tindakan manusia sangat dipengaruhi oleh tiga hal utama yakni habitus, ranah, dan modal. Habitus merupakan kebiasaan manusia karena pengaruh psikologis dan didaratkan secara sosial secara terus menerus. Karena terus menerus maka sebuah praktik sosial yang buruk pun dapat menjadi sesuatu yang biasa dan berujung pada kebiasaan.

Di aspek ranah, praktis sosial masyarakat terjadi karena locus, peluang, dan kesempatan tertentu. Di ranah, tempat dan kesempatan menjadi sebab lain seseorang atau sekelompok masyarakat melakukan kejahatan atau praktik hidup yang negatif. Tempat, peluang, dan kesempatan merupakan variabel lain yang dapat mendorong seseorang melakukan kejahatan.

Bourdieu menyebutkan modal sebagai kekuatan dan aset atau sumber daya yang dapat menggerakan seseorang melakukan tindakan tertentu. Ada empat jenis modal yang diidentifikasi Bourdieu yakni modal ekonomi, modal kultural, modal sosial, dan modal simbolik. Dalam masyarakat maju, modal ekonomi dan budaya menjadi penentu diferensiansi. Meski demikian, keempat modal tersebut memiliki andil dalam mengantarkan dan menuntun seseorang melakukan tindakan praksis menurut kaca mata Bourdieu.

Praktik Kejahatan

Merujuk data Polda NTT dan pendapat Bourdieu di atas, mudah kiranya memprediksi kejahatan yang bakal menghiasi wajah hukum dan sosial di wilayah ini di tahun 2020. Disebutkan, wajah hukum dan kejahatan di wilayah ini sangat ditentukan oleh beberapa hal. Beberapa di antaranya ialah kebiasaan masyarakat dalam mengelolah mental, locus atau peluang atau kesempatan seseorang ketika berhadapan dengan realitas tertentu, dan modal yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok tertentu.

Jika dibuat sedikit agak rinci, mental harap gampang sebenarnya tidak ada di masyarakat kita di NTT. Topografi fisik yang berciri kepulauan dengan gunung dan bukit, lembah dan ngarai menyebabkan masyarakat kita menjadi manusia pekerja keras. Pencurian, pemalakan, minum mabuk, dan lain-lain sejatinya nihil di sini.

Dengan kata lain, ada prinsip umum yang dikenal masyarakat NTT. Yang mau makan harus bekerja. Selesai. Bekerja menjadi jawaban paripurna untuk mengeluarkan masyarakat dari mental ‘mendadak’ atau instan.

Memeriksa watak manusia NTT hemat saya menjadi pekerjaan mudah. Sebab, di sini, semua orang harus berusaha melewai sungai, mendaki gunung, mengarungi lautan, menggali tanah dan batu agar bisa hidup. Dengan kata lain, kebiasaan buruk sebetulnya tidak ada di sini.

Masalahnya, data Polda NTT justeru menafikan itu. mengapa kejahatan masih saja menjadi pemandangan umum masyarakat di wilayah ini? Di sini kita harus menyebut beragam nilai baru dari luar yang hadir dan datang ke sini. Beragam nilai baru itulah yang membuka locus, peluang, dan kesempatan masyarakat di wilayah ini menjadi pencuri, pemabuk, pemalak, bahkan pembunuh.

Dalam kerangka yang sama, keutamaan modal yang dimiliki setiap individu menjadi alat bagi sekelompok orang di sini melakukan tindakan kejahatan. Karena itu, setiap orang memiliki peluang yang sama untuk melakukan kejahatan. Hanya ranah dan habitusnya saja yang berbeda.

Berangkat dari analisis di atas, wajah kejahatan di NTT di tahun 2020 tidak bisa keluar dari perangkat generatif Bourdieu. Kejahatan terjadi karena habitus masyarakat, ranah,dan modal. Karena masyarakat NTT bukanlah realitas khusus dan khas, peluang bertemu dengan nilai baru lain dari luar menjadi sangat terbuka. Di situ, kejahatan bisa muncul.

Kejahatan Politik

Membaca data Polda NTT, tiga jenis kejahatan masih menunjukkan tanda-tanda-tanda naik di tahun 2019 lalu. tiga kejahatan itu bisa saja tetap atau malah naik di wilayah ini di tahun 2020. Kejahatan Terhadap Kekayaan Negara, Kejahatan Kontijensi, dan Gangguan lainnya menjadi tantangan masyarakat NTT di 2020.

Menyebut kejahatan terhadap kekayaan negara, korupsi harus disebut. Peluang terjadinya korupsi dalam berbagai bentuk dan modus tetap harus menjadi perhatian semua pihak di daerah ini. Perilaku gemar mencuri kekayaan negara tidak saja menjadi musuh sekaligus tantangan paling hebat di sini.

Di sisi yang lain, kejahatan sebagai dampak kontijensi harus pula diwaspadai. Sembilan daerah di Provinsi NTT akan melaksakanan hajatan Pilkada di tahun 2020. Di situ, pengerahan massa, politik uang, dan lain-lain sulit dihindari. Bentrok antarmassa pendukung calon bupati menjadi perhatian semua pihak.

Selain dua kejahatan itu, gangguan kejahatan lainnya perlu pula menjadi awasan semua pihak. Kemiskinan yang masih mendera wilayah ini tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Banyak orang melakukan kejahatan dengan alasan memenuhi kebutuhan hidup. Hal-hal seperti itu laik diberi perhatian penuh.

Lepas dari semua itu, tugas untuk menjaga keamanan dan ketertiban jelas tidak hanya menjadi tanggung jawab polisi. Semua pihak dituntut untuk terus menjaga keamanan dan ketertiban agar kedamaian tetap ada di sini. (*)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!