Pengelolaan Sumur Bor: Siapa Untung Siapa Rugi? – Timor Express

Timor Express

OPINI

Pengelolaan Sumur Bor: Siapa Untung Siapa Rugi?

 

Oleh: Yan Lao

Direktur Komunitas Pemuda Unlimited Kupang (KoPLeNg)

Krisis air bersih di Kota Kupang sudah bukan barang baru. Permasalahan ini bahkan pernah merembet hingga ke status pengelolaan sumber air oleh Pemerintah Kota (Pemkot) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kupang. Sampai saat ini belum juga ada solusi jangka panjang mengenai penanganan krisis air bersih yang melanda kota bermoto Kasih ini. Yang nampak hanyalah usaha dengan manfaat jangka pendek salah satunya adalah pengelolaan sumur bor oleh warga Kota Kupang.

Sumur bor menjadi salah satu dan bahkan yang paling diandalkan saat ini untuk pemenuhan permintaan air bersih oleh masyarakat Kota Kupang dan sekitarnya. Keberaadaan sumur bor tidak dapat dipungkiri menjadi jawaban sementara atas terbatasnya ketersediaan air bersih Kota Kupang. Beberapa wilayah Kota Kupang yang merupakan jalur sungai bawah tanah (groundriver) menjadi area sentra pemasok air bersih yang disalurkan melalui tanki dengan kapasitas kisaran 5.000 liter. Kelurahan Batuplat, misalnya, terdapat hampir sepuluh sumur bor yang dikelola sendiri oleh warga untuk keuntungan ekonomis. Harga per tanki sekali antar bervariasi, tergantung lokasi pemesan dan jarak dari sumber air.

Kelurahan yang memegang trophy Kupang Green and Clean 2019 ini memiliki Mata Air Sagu yakni salah satu sumber air bersih (air tanah) yang dikelola oleh PDAM Kabupaten Kupang. Walaupun tidak diketahui dengan jelas berapa sebenarnya debit air yang dihasilkan dari mata air ini, namun selama bertahun-tahun Mata Air Sagu telah menjadi sumber air masyarakat sekitar baik untuk keperluan konsumsi, MCK, maupun untuk pertanian dan perkebunan. Perubahan iklim yang berdampak perubahan pola hujan dan menipisnya lahan resapan air di daerah sekitar Kota Kupang menjadi penyebab menurunnya debit air di Mata Air Sagu. Keadaan ini diperparah dengan adanya sumur bor yang berada di sekitar lokasi mata air. Dampaknya adalah penurunan debit sungai yang mengaliri wilayah Kelurahan Batuplat, Bakunase, hingga Airnona dan air sumur gali warga. Penurunan debit air ini juga berakibat pada menurunnya hasil produksi pertanian dan perkebunan oleh petani di Kelurahan Batuplat.

Dari pantauan penulis, sungai yang dialiri air dari Mata Air Sagu Batuplat terjadi penurunan yang sangat drastis. Saluran irigasi yang berfungsi mengairi lahan pertanian dan perkebunan juga terpantau kering dan hanya menggenang di beberapa bagian yang agak cekung. Sementara di sekitar areal irigasi merupakan sentra pertanian dan perkebunan Kelurahan Batuplat.

Keberadaan sumur bor, di Kelurahan Batuplat misalnya, sudah memberikan dampak negatif bagi mayarakat sekitar. Sumber air yang seharusnya dikelola untuk kemaslahatan masyarakat banyak hanya menjadi sumber keuntungan bagi kelompok masyarakat tertentu. Hal ini tidak sesuai dengan amanat UUD 1945 pasal 33 ayat (3) yang menyebutkan, “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya  kemakmuran rakyat” Keberadaan sumber air seharusnya  memberi manfaat sosial, lingkungan, dan ekonomi. Di bawah ini adalah analisis dampak eksploitasi sumber air tanah melalui sumur bor berdasarkan manfaat sosial, lingkungan, dan ekonomi:

 

Manfaat Sosial

Keberadaan sumber air menjadi sangat vital bagi kehidupan manusia. Kebutuhan akan air untul konsumsi, MCK, dan pertanian/perkebunan tidak bisa dihindari dan harus terpenuhi. Jika ketiga unsur kebutuhan air di atas terpenuhi maka ada keseimbangan sosial di masyarakat. Pasalnya, kebutuhan primer manusia ini akan mamaksa seseorang untuk melakukan apapun guna memenuhinya. Bayangkan jika sebuah kota mengalami krisis air bersih dan setiap warga berlaku brutal dengan sesamanya untuk mendapatkan air. Ketersediaan air bersih akan membantu menata kehidupan sosial masyarakat dalam konteks pemenuhan kebutuhan primernya. Oleh karena itu, ketersediaan air bersih sebenarnya menjadi penentu stabilitas sosial suatu kota. Di samping itu, ketersediaan air bersih juga menjadi indikator soliditas sosial sebuah daerah. Dalam hal pemenuhan manfaat sosial dari air bersih, Pemkot Kupang memiliki peran vital melalui kewenangan mengatur perencanaan, pengelolaan, dan pemanfaatan air bersih tersebut. Keberadaan sumur bor lambat laun akan berakibat pada menurunnya ketersediaan air bersih bawah tanah. Hal ini disebabkan oleh proses artesis atau penggalian/pengeboran yang memaksa air untuk keluar dari saluran bawah tanahnya dan berakibat langsung pada pengurangan debit air bawah tanah.

Dilihat dari analisis ini, keberadaan sumur bor sebenarnya berdampak negatif bagi ketersediaan air bersih, apalagi jika dikelola secara masif dan eksploitatif. Dampaknya adalah ketidakstabilan sosial dalam hal pemenuhan kebutuhan primer yakni air bersih. Pemkot Kupang harus bertanggung jawab atas krisis air bersih yang berdampak pada stabilitas sosial ini.

 

Manfaat Lingkungan

Eksploitasi sumber air berlebihan melalui sumur bor tidak hanya berdampak sosial. Ia berhubungan langsung dengan lingkungan kita. Sumur bor merupakan hasil dari proses artesis sumber air bawah tanah. Proses ini adalah interfensi manusia terhadap proses hidrologi alamiah. Artinya, manusia telah dengan sengaja mengacaukan siklus hidrologi yang seharusnya berjalan secara natural hingga menimbulkan dampak berupa ancaman (a) kelangkaan air baik kuantitas maupun kualitas; (b) banjir; (c) erosi dan sedimentasi; (d) longsor; dan ( e) intrusi air laut.

Keberadaan sumur bor akan menguras cadangan air tanah. Ini akan berdampak pada menipisnya ketersediaan air baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Pembetukan air tanah ini berlangsung pada cekungan air tanah yakni tempat berlangsungnya proses pengimbuhan, pengaliran dan pelepasan air tanah. Jika pengeboran dilakukan secara masif dan berkelanjutan, maka akan menganggu ketiga proses tersebut. Dampaknya adalah terganggunya siklus hidup makluk hidup yang bergantung pada tiga proses hidrologi di atas. Ujung-ujungnya akan merusak ekosistem alam termasuk kehidupan manusia.

Tidak hanya itu, berkurangnya cadangan air bawah tanah juga akan mempengaruhi keseimbangan tekanan permukaan tanah dan berujung pada longsor. Ancaman penurunan permukaan tanah tidak hanya terjadi di wilayah pesisir. Sering kali kita berpikir bahwa lokasi tempat tinggal kita jauh dari proses penurunan permukaan tanah karena berada di ketinggian. Namun inilah bahayanya. Penurunan permukaan tanah yang terjadi secara perlahan dan tanpa disadari di dataran tinggi memiliki resiko lebih tinggi ketimbang daerah pesisir yang penurunan tanahnya sangat terasa dan nampak secara kasat mata. Eksploitasi sumber air yang berlebihan melalui keberadaan sumur bor mempercepat proses kerusakan lingkungan dari segi ketersediaan air tanah.

 

Manfaat Ekonomi

Air sebenarnya adalah barang publik bukan barang ekonomi. Artinya kita tidak perlu mengeluarkan uang untuk mendapat air. Namun pada kenyataannya, air menjadi salah satu pos pengeluaran terbesar kita di Kota Kupang. Rerata masyarakat Kota Kupang sulit untuk mendapatkan air bersih. Ada yang menginstalasi pipa saluran air dari PDAM dan juga tidak sedikit yang membeli air melalui mobil tanki yang diambil dari sumur bor. Oleh karena itu, akhir-akhir ini sumur bor menjadi salah satu sumber penghasilan bagi masyarakat yang dekat dengan lokasi sumber air dan sungai bawah tanah. Harga air bersih per tanki berukuran 5.000 liter air bervariasi mulai Rp 80.000,00 hingga Rp 250.000,00 tergantung lokasi dan jarak pemesan. Hitung saja jika dalam sehari sebuah sumur bor mampu menghasilkan 20 tanki berukuran 5.000 liter, maka keuntungan yang didapat sebesar Rp 2.000.000,00 untuk air tanki seharga Rp 100.000,00. Pilihan warga terhadap air bersih dari sumur bor bukan tanpa alasan. Selain aksesnya yang tidak sulit, air tanki dari sumur bor juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan, misalnya, kita bisa memilih kapan saja kita dapat mengisi ulang air bersih pada bak  penampung kita.

Dari uraian manfaat sumber air tanah di atas, dapat disimpulkan bahwa keberadaan sumur bor yang mengeksploitasi sumber air tanah secara masif tidak hanya berdampak ekonomis, namun dapat menimbulkan bahaya yakni ancaman ketidakstabilan sosial dan lingkungan. Dampak negatif yang mulai terassa di Kelurahan Batuplat adalah kurangnya pasokan air untuk pengairan lahan di lokasi sentra pertanian dan perkebunan kelurahan ini. Seharusya pada awal musim penghujan ini lahan pertanian dan perkebunan sudah diolah namun sebagian besarnya masih dibiarkan karena ketiadaan air untuk pengairan.

Pengelolaan dan konservasi sumber daya air tanah ini harusnya menjadi perhatian semua pihak dan mutlak dilaksanakan secara terpadu. Pemkot dan Pemkab Kupang seharusnya bertanggung jawab terhadap manajemen air bersih bersumber air tanah, tidak hanya berhenti pada pengeloaan air melalui PDAM Air Sagu. Selama ini belum terlihat tindakan balik baik dari Pemkot maupun Pemkab Kupang sebagai aksi nyata konservasi sumber air tanah di Kelurahan Batuplat.

Masyarakat seharusnya diberi pemahaman mengenai manfaat ketersediaan air tanah dan dampak eksploitasi berlebihan melalui sumur bor. Kesadaran untuk menjaga ketersediaan air tanah harus dimiliki setiap warga, khususnya warga Kelurahan Batuplat, yang dapat memotivasi untuk tetap menjaga ketersediaan air tanah. Sebab, tanpa kesadaran ini kita akan segera kehilangan sumber air tanah yang selama ini kita banggakan. Lebih jauh lagi, bencana sosial dan alam mengancam serius dengan resiko nyawa dan harta benda.

Terima kasih. Salam. (*)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!