Merajut Damai dalam Dialog, Rekonsiliasi dan Pertobatan – Timor Express

Timor Express

OPINI

Merajut Damai dalam Dialog, Rekonsiliasi dan Pertobatan

Refleksi atas Pesan Paus Fransiskus untuk Hari Perdamaian Sedunia)

Oleh: Gabriel A. I. Benu

Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang

Kita memasuki tahun baru 2020. Aneka cita-cita, mimpi dan harapan memenuhi setiap doa-doa kita. Duka, kecemasan, kegembiraan dan harapan yang terjadi pada tahun 2019, menjadi pengalaman berarti dalam mengarungi biduk tahun 2020. Pada momentum sukacita di awal tahun baru ini, mari sejenak kita merefleksikan suatu pesan penting dalam menata komunitas kehidupan kita.

Gereja Katolik pada tanggal 1 Januari tiap tahun, merayakan beberapa perayaan. Selain perayaan tahun baru, ada juga perayaan Hari Raya St. Maria Bunda Allah dan Hari Perdamaian Sedunia. Tulisan merefleksikan secara khusus pesan Paus Fransiskus pada momentum Hari Perdamaian Sedunia. Hal ini penting mengingat perdamaian adalah cita-cita bersama dari komunitas kehidupan dan nilai universal yang melingkupi semua lini kehidupan manusia dan lingkungannya.

 

Perdamaian Sebagai Jalan Harapan

            Paus Fransiskus membuka pesannya dengan memberikan sebuah perspektif baru tentang perdamaian. Perdamaian dilukiskannya sebagai sebuah perjalanan harapan dalam menghadapi rintangan dan cobaan. Penggambaran ini dikemukakan berdasarkan pengamatannya akan pengalaman  eksistensial manusia dewasa ini yang acapkali mesti menerobos beragam ketegangan demi pencapaian sebuah kedamaian.

Pengalaman eksistensial manusia dewasa ini berupa perang, konflik, penindasan, korupsi, kebencian dan kekerasan adalah ragam ketegangan yang mesti dilalui demi mewujudkan harapan akan perdamaian sebagai nilai luhur dan berharga, tujuan pengharapan bersama dan dambaan seluruh keluarga manusia. Perdamaian selalu membutuhkan perjuangan dan tidak tanpa konsekuensi.

Hal penting yang ditekankan ialah harapan. Perdamaian menjadi hampa makna bila tidak diletakan dalam inti pengharapan setiap orang. Pengharapan adalah sikap hidup yang menjadi motor penggerak komunitas kehidupan manusia dalam mengusahakan perdamaian, sekalipun mesti menerobos tantangan dan rintangan yang cukup berarti. Paus melukiskan harapan sebagai “keutamaan yang mengilhami kita dan membuat kita terus bergerak maju, bahkan ketika hambatan tampak tak teratasi.”

Tentang perdamaian sebagai jalan harapan, Paus menekankan tiga hal penting yang perlu diusahakan bersama terutama dalam membina komunitas kehidupan pada level relasi antarmanusia sebagai sesama yang secitra dengan Allah dan juga dengan alam sebagai sesama ciptaan Tuhan. Tiga hal tersebut ialah dialog, rekonsiliasi dan pertobatan ekologis.

 

Damai: Konstruksi Dialog, Rekonsiliasi dan Pertobatan Ekologis

            Dalam menata kehidupan dewasa ini yang heterogen dan semakin kompleks, hal urgen yang diserukan oleh Paus adalah usaha membangun dialog. Dialog dimaksudkan untuk menjembatani aneka keberbedaan antarmanusia, dan lebih dari pada itu sebagai jalan untuk penyelesaian konflik dan perang yang seringkali berakar pada ketidakmampuan untuk menerima perbedaan.

Dialog menjadi jalan paling manusiawi dalam usaha penyelesaian konflik dan terutama untuk membangun kepercayaan antarsesama manusia. Salah satu hal yang mendorong seruan dialog ini adalah tentang kehancuran komunitas kehidupan akibat konflik persenjataan. Ini juga menjadi poin utama yang ditekankan Paus dalam kunjungan Apostolik ke Jepang, November 2019 lalu.

Persaingan dan konflik persenjataan acapkali berakibat pada eksklusivisme yang menghadang upaya-upaya dialog. Berhentinya dialog memunculkkan kecurigaan dan prasangka-prasangka. Berhentinya dialog berakibat pada pincangnya kehidupan manusia akibat ketidakpercayaan dan ketakutan.

Berdasarkan pengalaman ini Paus menekankan perlunya upaya dialog sebagai jalan untuk saling memberi pengertian dan terutama dalam menyelesaikan konflik dan perang akibat kecurigaan, ketidakpercayaan dan ketakutan pada level akut. “Kita perlu mengusahakan persaudaraan sejati berdasarkan asal usul bersama dari Allah dan dijalankan dalam dialog dan saling percaya.” Poin penting di sini ialah bahwa dialog mesti dimulai pada pengakuan bersama akan fakta fundamental bahwa manusia secitra dengan Allah.

Di sisi lain, usaha mencapai perdamaian adalah tentang rekonsiliasi. Ada dua hal yang menjadi inti dalam rekonsiliasi ini yakni perlunya upaya merawat memori dan keterbukaan hati untuk mengadakan rekonsiliasi. Dua hal ini penting mengingat bahwa harapan akan perdamaian selalu berakar pada fakta ketegangan di masa lalu dan juga kebutuhan akan rekonsiliasi di masa kini.

Tentang merawat memori, Paus menekankan perlunya usaha bersama untuk selalu melestarikan kenangan masa lalu terutama berkaitan dengan luka akibat kekerasan dan penderitaan. Tujuannya bukan untuk menyalakan kembali bara api dendam yang harus dituntaskan, tetapi untuk “menggugah hati nurani umat manusia terutama berhadapan dengan setiap keinginan untuk menguasai dan menghancurkan.” Pada titik inilah memori adalah cakrawala harapan.

Sejalan dengan usaha melestarikan memori, hal yang mesti dilakukan sebagai bentuk penyeimbang ialah rekonsiliasi. Ini penting sebab pelestarian memori luka tanpa upaya rekonsiliasi hanya akan menjadi beban yang harus dibayar balas dendam dan memperpanjang spiral kekerasan dan penderitaan.

Jalan rekonsiliasi memberi makna baru pada luka masa lalu sebagai pengalaman berharga yang perlu disyukuri dan terutama sebagai model pelajaran berharga dalam menata komunitas kehidupan manusia menuju kebaikan bersama pada masa kini dan masa depan. Di sinilah Paus menunjukkan inti rekonsiliasi sebagai “panggilan bagi kita untuk menemukan di kedalaman lubuk hati kekuatan pengampunan dan kemampuan untuk saling mengakui sebagai saudara dan saudari.”

Dalam mengusahakan rekonsiliasi ini, Paus juga mengangkat tema pertobatan berkaitan dengan usaha merawat alam sebagai rumah bersama. Ini menjadi penting mengingat kerusakan bumi dewasa ini mencapai level kritis dan membutuhkan pertobatan segera.

Rekonsiliasi tidak hanya dengan sesama manusia tetapi perlu dengan alam. Rekonsiliasi dengan alam adalah saat di mana kita “lebih terbuka untuk menjumpai dan menerima karunia ciptaan sebagai cermin keindahan dan kebijaksanaan Penciptanya.”

Pertobatan ekologis adalah panggilan untuk memandang alam secara setara bukan dalam tendensi penguasaan dan eksploitasi. Dengan demikian kita sampai pada restorasi akar kejahatan ekologi yakni kekeliruan dalam memahami posisi dan relasi kodrati yang saling menunjang antara manusia dan alam.

 

Pesan Bagi Kita

Dialog, rekonsiliasi dan pertobatan menjadi tiga batu tungku utama dalam usaha menanak perdamaian. Tiga hal inilah yang menjadi penyanggah utama dalam mengkonstruksi perdamaian yang diharapkan. Ketiga hal ini menyiratkan bahwa usaha perdamaian bukan hal kecil-kecilan. Ini hal kompleks yang membutuhkan perhatian, kerja keras dan terutama keterbukaan hati untuk saling menerima.

Damai dalam konstruksi dialog, rekonsiliasi dan pertobatan hanya mungkin bila ada keterbukaan hati untuk menerima dan mengusahakannya. Di luar itu tidak ada alternatif manusiawi lain yang dapat dipikirkan. Oleh karena itu dalam membangun kehidupan kita dengan segela bentuk persoalannya, kita juga diingatkan agar selalu mengusahakan perdamaian dengan giat melaksanakan dialog, rekonsiliasi dan pertobatan yang terus menerus. Selamat Tahun Baru 2020. (*)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!