Warga Melawan – Timor Express

Timor Express

METRO

Warga Melawan

EKSEKUSI. Petugas dari Pemprov NTT saat melakukan eksekusi namun dihadang ratusan warga setempat, Jumat kemarin. Eksekusi rencananya dilanjutkan Sabtu hari ini.

FOTO-FOTO INTO HERISON TIHU DAN IMRAN LIARIAN/TIMEX

Pemprov Gusur 30 Rumah

Lahan akan Dipakai Bangun Rumah Sakit

KUPANG, TIMEX – Pemerintah Provinsi NTT mulai menggusur rumah-rumah yang ada di RT 14/RW 05 Kelurahan Manulai II, Kecamatan Alak, Kota Kupang. Lahan ini bakal dipakai untuk membangun gedung rumah sakit.

Jumat (17/1), proses eksekusi terhadap 30 unit rumah warga dilakukan. Aparat Sat Pol PP Provinsi NTT diturunkan. Mereka di-back up oleh aparat kepolisian.

Proses eksekusi sebelumnya dilakukan terhadap empat unit rumah menggunakan mesin ekskavator. Namun memasuki rumah ke-5, pemilik rumah dan ratusan warga yang merupakan ahli waris tanah tersebut meminta pemerintah Provinsi NTT menunjukkan bukti kepemilikan tanah yang hendak dieksekusi.

Warga yang terdiri dari tokoh masyarakat dan ahli waris pemilik tanah menghadang ekskavator yang akan melakukan eksekusi. Operator pun terpaksa mematikan mesin ekskavator.

Warga terus melawan dengan meminta bukti kepemilikan lahan. Namun pemerintah Provinsi NTT yang diwakili oleh Kepala Badan Pengelolaan Aset Daerah, Zeth Sony Libing tidak bisa menunjukkannya, sehingga warga tidak mengizinkan proses eksekusi dilakukan.

Kepala Biro Hukum Setda Provinsi NTT, Alex Lumba didampingi Kepala Badan Pengelolaan Aset Daerah Zeth Sony Libing dan Kasat Pol PP Cornelis Wadu, yang menghadapi warga kemudian menjelaskan dasar penertiban aset tersebut.

Ia mengatakan pemerintah menertibkan aset tanah sengketa 20 hektar berdasarkan keputusan MA Nomor 424/Pdt/2018 serta bukti Pelepasan Hak dari Thomas Penun Limau dengan nomor 02/KPR/AGO/1983 tertanggal 10 Januari 1983.

“Kalau pemerintah mau eksekusi dan menertibkan aset yang 20 hektar itu, tolong tunjukkan batasnya. Karena ini tidak termasuk di lahan itu,” ujar Ketua RW 05, Ardolus Buan.

Ia mengaku dirinya menempati lokasi tersebut karena ada tukar guling tanah untuk pembangunan PT. Semen pada tahun 1983. Saat ini pemerintah ingin mengambil lagi dengan alasan membangun rumah sakit. “Kami bersyukur kalau ada pembangunan fasilitas umum di sini namun bukan berarti rumah kami digusur. Kalau digusur bukan hak pemerintah tetapi harus dari pengadilan,” kata jubir warga yang juga menjadi korban penggusuran.

Disebutkan, dari 30 unit rumah yang hendak digusur, pemilik enam rumah setuju untuk membongkar sendiri rumahnya. “Kami tetap menolak aksi pemerintah yang hendak menggusur rumah masyarakat secara sepihak,” ungkapnya.

Selain itu, ia mengaku sudah lama dilakukan komunikasi dengan pemerintah tapi tidak ada kejelasan terkait pergantian lahan. “Kita sudah berulangkali mencoba bertemu dengan gubernur, tapi tidak berhasil dan tiba-tiba penggusuran dilakukan,” tambahnya.

Sementara itu, Biyante, kuasa hukum warga korban penggusuran juga melakukan komunikasi dengan pemprov yang hendak menggusur rumah pertama. Namun upaya itu tidak berhasil.

Biyante mengatakan tindakan yang dilakukan pemprov tidak punya dasar hukum yang jelas, karena eksekusi merupakan kewenangan pihak pengadilan. “Masalah ini sudah ada upaya penyelesaian secara kekeluargaan, namun tidak ada titik temu. Maka kami telah menggugat tanah tersebut di pengadilan, namun belum ada putusan tetap, sehingga proses eksekusi ini ilegal,” katanya.

Menurutnya, tindakan yang dilakukan pemerintah merupakan tindakan pidana karena belum ada keputusan tetap tapi sudah dilakukan pengrusakan. “Pihak pemprov siap bertanggung jawab dan kita terus melakukan upaya hukum dan jika menang maka akan berhadapan dengan pemerintah karena sudah lakukan tindakan pidana pengrusakan,” tambahnya.

Pantauan Timor Express, warga tetap bertahan di lokasi untuk menyaksikan secara langsung aksi pemerintah yang dinilai ilegal tersebut.

Sebelum melakukan eksekusi, terlebih digelar doa bersama yang dipimpin seorang pendeta yang berada di lokasi.
Proses eksekusi itu mendapat pengawalan ketat dari anggota Polda NTT, Polres Kupang Kota, dan Brimob Polda NTT dipimpin Karo Ops Polda NTT dan Kapolres Kupang Kota serta ratusan Pol PP.

Salah satu pemilik rumah yang dieksekusi menangis histeris ketika rumahnya dirusak mesin ekskavator. Ia pun ditenangkan oleh Polwan lalu dibopong ke rumah tetangga.

Sebelum eksekusi, barang-barang milik tuan rumah didata lalu dikeluarkan oleh Sat Pol PP.

Pihak pemprov berjanji akan kembali melanjutkan proses eksekusi hari ini dengan menunjukkan bukti-bukti yang diminta warga. (mg29/sam)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!