Omnibus Law Katrol Investasi Manufaktur – Timor Express

Timor Express

EKONOMI

Omnibus Law Katrol Investasi Manufaktur

Sederhanakan Izin, Pacu Daya Saing

JAKARTA, TIMEX– Implementasi Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja diyakini bisa memperbanyak investasi di sektor industri pengolahan atau manufaktur. Jumlah tenaga kerja pun dipastikan bisa terserap lebih banyak. Pengusaha menilai turunnya investasi di sektor riil perlu segera diwaspadai dengan terus meningkatkan kemudahan berinvestasi.

Himpunan Kawasan Industri (HKI) menyatakan bahwa realisasi investasi sektor industri manufaktur memang terus menurun setiap tahun. Menurut Ketua Umum HKI Sanny Iskandar, birokrasi perizinan masih menjadi momok menakutkan bagi para investor. Selain itu, situasi politik di tanah air dan perlambatan ekonomi dunia menjadi faktor pendorong menurunnya investasi industri manufaktur di Indonesia.

Pergeseran investasi dari sektor riil menjadi digital transformation juga ikut memengaruhi anjloknya investasi industri manufaktur dalam negeri. “Memang sekarang orientasinya ke arah digital transformation sehingga investasi dalam bentuk sektor rill menurun. Kita berharap omnibus law bisa mendongkrak sektor riil,” tuturnya kemarin.

Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja dinilai memiliki potensi yang sangat luar biasa untuk mendongkrak investasi industri manufaktur. “Ujung-ujungnya dari program omnibus law ini kan untuk menyederhanakan perizinan yang akan meningkatkan daya saing industri nasional. Kalau daya saing meningkat, ini kan bisa menjadikan Indonesia lebih menarik daripada negara-negara pesaing untuk menarik investor,” katanya.

Rentan Miskin

Sementara itu, Bank Dunia kembali merilis laporan terbaru yang berjudul Aspiring Indonesia-Expanding The Middle Class. Dalam laporan itu, Bank Dunia menyebutkan bahwa Indonesia telah membuat kemajuan yang luar biasa selama 15 tahun terakhir dalam mengurangi tingkat kemiskinan yang kini berada di bawah 10 persen.

World Bank Acting Country Director untuk Indonesia Rolande Pryce menyebutkan, Indonesia juga mengalami pertumbuhan kelas menengah dari 7 persen menjadi 20 persen dari total penduduk. Sebanyak 52 juta orang Indonesia tercatat masuk menjadi kelompok kelas menengah. Tetapi, masih diperlukan upaya lebih keras untuk 45 persen penduduk Indonesia atau sekitar 115 juta orang yang telah keluar dari jerat kemiskinan namun belum mencapai ekonomi yang aman.

Bagi kelompok tersebut, kemungkinan naik ke status ekonomi yang lebih tinggi sama besarnya dengan kemungkinan turun ke bawah. Dengan begitu, mengadopsi kebijakan yang tepat untuk memperluas pergerakan mereka ke atas adalah bagian penting dalam pembangunan Indonesia. “Permintaan dari kelas menengah dapat mendorong pertumbuhan. Mereka adalah sumber dari hampir setengah total pengeluaran rumah tangga di Indonesia,” ucapnya di Energy Building, Jakarta, Kamis (30/1).

Menanggapi hal itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sepakat dengan rekomendasi Bank Dunia. Menurut dia, masih banyak warga yang berada di posisi rentan. “Jadi middle class-nya 115 juta itu masih rentan. Sehingga, bagaimana kita membuat mereka menjadi firm middle class agar menjadi pekerja yang baik dan pembayar pajak kerja yang baik,” tuturnya di tempat yang sama.(agf/dee/c20/oki/jpg/cel)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!