Vlog Eksploitatif atas Penderita Gangguan Jiwa – Timor Express

Timor Express

OPINI

Vlog Eksploitatif atas Penderita Gangguan Jiwa

Oleh: Avent Saur

Pendiri dan Ketua Kelompok Kasih Insanis (KKI) Provinsi NTT

 

Akhir Januari 2020, saya mendapat kabar dari admin chanel KKI (Kelompok Kasih Insanis) bahwa vlog tentang Mama Eta (warga penderita gangguan jiwa asal Kabupaten Ngada, Pulau Fores) di beberapa chanel youtube telah dihapus.

Kenapa? Katanya, apa yang mungkin pemilik chanel-chanel itu tegaskan bahwa vlog-vlog itu dipublikasikan atau diviralkan setelah mendapat izin dari anak kandung atau keluarga Mama Eta, itu adalah sebuah kebohongan.

Katanya lagi, publikasi-publikasi itu dihapus bukan hanya karena pemilik-pemilik chanel telah melakukan kebohongan, melainkan juga dengan pasti bahwa anak kandung dan keluarga Mama Eta tidak akan mengizinkan Mama Eta diviralkan.

Beberapa hari lalu, saya mendapat surat tembusan teguran dan keluhan Anak Mama Eta dan keluarganya. Surat itu ditujukan kepada pemimpin dari pemilik chanel. Pemilik chanel itu adalah kawan saya juga.

Selain itu, saya juga mendapat kabar bahwa anak kandung dan keluarga Mama Eta telah menegur beberapa pemilik chanel serta mencari pemilik-pemilik beberapa chanel youtube agar bisa ditegur dan vlog-vlog lekas dihapus.

Saya sendiri tidak memiliki urusan dengan keluarga Mama Eta terkait vlog-vlog itu, selain mendorong keluarga agar memperhatikan pemberian obat kepada Mama Eta sehingga lekas pulih dari deritanya yang sudah berlangsung lama.

 

Eksploitasi atas Penderita dan Penderitaan

Saya sendiri memang kaget ketika ada kawan yang menyinggung bahwa kira-kira apa item eksploitasi dalam vlog-vlog tersebut. Saya kurang tahu tentang hal itu, sebab saya kurang mengikuti vlog di chanel-chanel tersebut. Dan masih banyak hal yang mesti dilakukan kepada penderita dan keluarganya daripada hanya memperhatikan vlog-vlog itu.

Bagi saya, intinya adalah perbincangan yang ngawur lantaran demikianlah kondisi sakit penderita gangguan jiwa sangatlah tidak pantas dipublikasikan.

Sebab makin ditanya, penderita akan makin menjadi-jadi. Makin menjadi-jadi, kita akan makin merasa lucu. Makin merasa lucu dan tertawa, makin penderita dijadikan objek kelucuan. Di situlah letak eksploitasi atas penderita gangguan jiwa.

Dalam pengalaman saya, hanya butuh waktu beberapa menit saja saya berbincang dengan penderita gangguan jiwa untuk mendapatkan jenis gangguan jiwanya. Selebihnya, saya berbincang dengan keluarganya yang setiap hari berada dan menderita bersama penderita.

Jika saya lakukan lebih dari pada beberapa menit itu, maka saya merasa bahwa saya telah dan sedang melakukan eksploitasi atas kondisinya. Orang-orang di sekitar akan makin merasa lucu bahkan sengaja mencari kesempatan untuk berbincang dengan penderita sekadar untuk menghadirkan kelucuan. Sekali lagi, itulah eksploitasi.

Inti yang kedua adalah soal vlog. Bagi saya, kalau orang tua Anda atau Saudara-saudari Anda, suami-istri Anda, menderita gangguan jiwa dan dibuat vlog seperti itu oleh orang lain,  apalagi orang lain itu mengatakan bahwa vlog itu seizin Anda, apakah Anda setuju?

Kalau Anda setuju, silakan memutuskan sendiri. Jika Anda tidak setuju, maka Anda jangan lakukan hal yang Anda sendiri tidak setuju.

Kepada para sukarelawan KKI yang sedikit menaruh kepedulian terhadap penderita gangguan jiwa di Provinsi NTT sejak 2016 lalu, sering saya katakan bahwa kebaikan yang Anda lakukan atau bantuan yang Anda berikan kepada penderita gangguan jiwa dan keluarganya, sama sekali tidak menjadi alasan untuk melakukan eksploitasi terhadap penderita.

Lakukanlah sesuatu buat penderita dengan cara yang bermoral, bukan demi mendapatkan bantuan dari siapa pun, melainkan demi meningkatkan edukasi kesehatan jiwa buat masyarakat agar stigma dan diskriminasi terhadap penderita dan keluarganya bisa makin berkurang. Bukan malah merasa lucu dan terhibur di atas penderitaannya.

 

Penderitaan Akut

Berikut saya kutip status di akun Facebook saya beberapa waktu lalu, 4 November 2019, berjudul “Vlog Stigma dan Eksploitasi.”

“Tadi saya diberitahu oleh admin channel youtube KKI begini.Bahwa ia berdebat dengan beberapa kawan di channel youtube yang memuat vlog tentang seorang Mama yang menderita gangguan jiwa.

“Intinya begini. Apa pun yang penderita katakan dan ekspresikan, semuanya adalah bagian dari penderitaannya.Terutama penderita yang tidak bisa mengontrol alur pikiran, ekspresi, dan perasaannya.”

“Kalau kita buat vlog tentang keadaan penderitaan itu, maka kita pasti merasa lucu.Makin lucu, makin menarik. Makin menarik, makin kita terhibur.Bahkan pada kata-kata dan ekspresi tertentu, itu makin kita terinspirasi.”

“Makin kita tanya, kita akan temukan jawaban yang tak keruan. Dan kita makin asyik dengan hal-hal itu.”

“Kita mesti tahu dan sadar bahwa kita terhibur dan tertawa di atas penderitaannya. Dia sedang sakit, dan kita menikmati keasyikan dan penghiburan di atas sakitnya.Kita bisa katakan bahwa setelah buat vlog itu, kita akan akrab dengan penderita.”

“Tentu bukan soal vlog-nya. Bukan juga soal kita akan akrab dengannya. Bukan soal itu, melainkan soal ‘tentang apa’ kita buat vlog.”

“Begini. Hendaknya kita buat vlog atas penderita yang sudah agak pulih, yang dalam ceritanya, ia memberikan kesaksian tentang sakitnya, sebagai edukasi kesehatan jiwa buat masyarakat. Itu pun jika penderita itu sendiri mau.”

“Kita hendaknya tidak boleh buat vlog atas penderita yang jenis sakitnya atau keadaannya seperti Mama Eta asal Ngoranale (Ngada) yang viral di media sosial.”

“Berdasarkan pengalaman pertemuan dengan Mama Eta pekan lalu di kebunnya, saya prihatin sekali atas keadaannya. Ia sakit, akut.Banyak hal yang tidak bisa ia kontrol, terutama komunikasi dan ekspresinya.”

“Keadaannya ini sama sekali tidak lucu. Sama sekali tidak ada unsur penghiburannya. Sama sekali tidak ada unsur menginspirasinya.Sebab itu semua adalah bagian dari sakitnya, dan mesti ditangani segera.”

“Kalau ada kawan-kawan yang membuat vlog atasnya, atau mendukung vlog itu, bagi saya, silakan saja. Itu sah-sah saja.Tetapi apakah Anda terima, jika Ayah-Ibu Anda, misalnya sakit yang sama, dibuat demikian oleh pengelola youtube atau media sosial. Apakah Anda terima?Kalau Anda bisa terima, silakan lanjutkan itu. Silakan dukung.Jika Anda tidak bisa terima, pikirkanlah baik-baik.”

“Kebaikan yang Anda lakukan kepada seseorang, seseorang yang paling menderita dan tak berdaya pun, sama sekali tidak menghalalkan Anda untuk mempermainkan martabatnya.”

Dalam pengalaman kurang lebih selama lima tahun menaruh kepedulian dan mengadvokasi kepentingan penderita gangguan jiwa dan keluarganya, saya merasa bahwa mengobati penderita gangguan jiwa terasa lebih ringan dibandingkan dengan mengatasi stigma dan diskriminasi sosial yang dilakukan oleh masyarakat terhadap penderita dan keluarga penderita.

Bersama para sukarelawan Kelompok Kasih Insanis, kita tetap berjuang apa adanya dan semampunya, selain demi pemulihan penderita gangguan jiwa, juga demi kehidupan sosial-kemanusiaan yang lebih baik, sebuah perabadan yang dirindukan dan diperjuangkan oleh kita semua. (*)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!