Ciptakan Iklim Kondusif Investasi-Bisnis – Timor Express

Timor Express

EKONOMI

Ciptakan Iklim Kondusif Investasi-Bisnis

Perbankan Antisipasi Kredit Macet Akibat Korona

JAKARTA, Jawa Pos – Kondisi perekonomian global masih menantang tahun ini. Kendati tensi perdagangan sudah mereda, disrupsi yang memengaruhi manufaktur global tetap ada. Dalam bayang-bayang wabah korona, beberapa negara membawa angin segar bagi perekonomian global.

Secara umum, fundamental perekonomian Indonesia masih dalam posisi baik karena bisa meraih angka pertumbuhan sekitar 5 persen pada 2019. Pertumbuhan tersebut didorong konsumsi dalam negeri dan investasi. ’’Di sini, Indonesia mampu menunjukkan iklim kompetitif dan investasinya,’’ jelas Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keynote speech-nya di acara Mandiri Investment Forum (MIF) 2020 kemarin (5/2).

Menurut Airlangga, saat ini semua agensi credit rating mencatat Indonesia sebagai negara yang bagus untuk investasi dengan risiko rendah. Japan Credit Rating Agency (JCR), misalnya. Mereka menaikkan sovereign debt rating Indonesia dari BBB proyeksi positif menjadi BBB+ dengan proyeksi stabil pada Januari 2020. Sementara itu, Global Competitiveness Index dari World Economic Forum (WEF) serta World Competitiveness Index dari IMD memperlihatkan peningkatan pada daya saing bisnis dan digital di Indonesia.

’’Sinergi kebijakan fiskal dan moneter serta reformasi struktural dan keberlanjutan akan menstimulasi transformasi ekonomi,” kata ketua umum Golkar tersebut.

Pemerintah berkomitmen menghindari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap) dalam rencana jangka panjang perekonomian. Setidaknya, sudah ada tujuh agenda yang masuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024 demi menyokong transformasi ekonomi.

Airlangga menyebut penyederhanaan regulasi sebagai upaya untuk memperbaiki iklim investasi dan menarik foreign direct investment (FDI) ke Indonesia. Melalui RUU Cipta Lapangan Kerja, beberapa regulasi yang dinilai menghambat penciptaan lapangan kerja sudah dihapus. RUU yang menggunakan metode Omnibus Law itu akan mendorong penciptaan pekerjaan berkualitas tinggi dan investasi.

’’Keefektifan investasi di Indonesia akan ditingkatkan dengan meningkatkan investasi itu pada bidang produktif. Dengan begitu, lapangan kerja yang lebih berkualitas dapat diciptakan untuk mengisi kebutuhan di dunia kerja,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Direktur Utama Bank Mandiri Royke Tumilaar mengatakan bahwa MIF menjadi wadah bagi para investor untuk memanfaatkan peluang. ’’MIF akan berfokus pada solusi strategis bagi para pembuat keputusan dan investor dalam menavigasi bisnis,’’ tuturnya.

Sementara itu, Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Silvano Rumantir mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki modal yang besar untuk menarik investasi langsung. Salah satunya, catatan ekonomi yang tumbuh sebesar 5,04 persen secara year-on-year (YoY) pada Januari–September 2019. ’’Jika dibandingkan dengan emerging market lainnya, kinerja ekonomi Indonesia lebih baik,’’ ujarnya.

Salah satu faktor pendorong ekonomi, lanjut Silvano, adalah pertumbuhan investasi. Pada 2018 tercatat investasi tumbuh kuat. Yakni, sebesar 6,67 persen.

Di sisi lain, dalam gathering di Surabaya, Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk Sulaiman Arif Arianto menuturkan bahwa perbankan masih berupaya keras menekan kredit macet. Antisipasi tersebut dilakukan dengan mengomunikasikan lebih awal perihal kredit dengan nasabah. Sebab, jika kredit kepada perbankan tidak di-manage dengan baik, risiko kredit macet meningkat.

’’Untuk itu, kami minta nasabah menyampaikan kepada kami kalau ada masalah. Misalnya, dengan adanya virus korona saat ini, mungkin ada nasabah yang usahanya terimbas,” katanya. Dia mengatakan, perbankan dapat menawarkan restrukturisasi kredit jika memang dibutuhkan.

Rasio nonperforming loan (NPL) Bank Mandiri tahun lalu tercatat 2,35 persen, lebih baik jika dibandingkan dengan NPL pada 2018 sebesar 2,79 persen. Di Jawa Timur (Jatim), rata-rata NPL per segmen juga membaik. Misalnya, NPL kredit segmen ritel yang menurun dari 2,15 persen pada akhir 2018 menjadi 1,60 persen pada akhir 2019. (ken/rin/c20/hep)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!