DPRD Tidak Hadiri Musrenbang Lobalain – Timor Express

Timor Express

SUROSA

DPRD Tidak Hadiri Musrenbang Lobalain

IKUT MUSRENBANG. Dua mantan anggota DPRD Rote Ndao, Adelheid da Silva dan Petrus Bessie usai mengikuti musrenbang Kecamatan Lobalain, Rabu (19/2).

MAX SALEKY/TIMEX

BA’A, TIMEX – Semangat membangun daerah terlebih di wilayah konstituen, seolah dikesampingkan wakil rakyat. Khusus pada daerah pemilihan (Dapil) 1, 10 orang yang dipercayakan menjadi penyalur aspirasi rakyat, tak satupun yang hadir pada acara musrenbang Kecamatan Lobalain.

Kesepuluh wakil rakyat itu terdiri dari tiga orang pimpinan dan tujuh orang anggota. Ketiga pimpinan itu adalah Afred Saudila (ketua), Yosia Adrianus Lau (wakil ketua) dan Paulus Henukh (wakil ketua). Sedangkan tujuh orang anggota adalah Anwar Kiah, Denison Mooy, Devrison Zacharias, Achyar Machmud, Helmi J Tolla, Mesak Z Lona dan Nur Y Ndu Ufi.

Ketidakhadiran wakil rakyat mendapat kecaman dari tokoh masyarakat Kecamatan Lobalain. Dua dari tiga tokoh yang mengecam tindakan tersebut pernah menduduki lembaga DPRD Kabupaten Rote Ndao. Kedua tokoh itu adalah Petrus Bessie dan Adelheid da Silva.

Kepada Timor Express, Petrus Bessie menegaskan, tindakan para wakil rakyat itu tidak mencerminkan semangat wakil rakyat sebenarnya. Karena menurutnya, setiap wakil rakyat tak hanya menunjukkan kehadirannya di saat-saat sidang dewan, tetapi lebih banyak berada bersama konstituen.

Dia membandingkan dengan masanya kala itu, bahwa tidak pernah terjadi seperti saat ini. “Wakil rakyat harus tajam telinga. Terutama pada forum musyawarah seperti ini. Apalagi mereka yang memiliki dapil di sini. Seharusnya mereka ada untuk mendengar, selanjutnya bisa diperjuangkan hingga pada tahap penetapan dalam APBD. Ini baru terjadi kali ini. Di masa kami dulu tidak terjadi seperti ini,” kata Petrus.

Selain kekecewaan yang dirasakannya, Petrus juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini dirinya belum mengetahui kualitas perjuangan para wakil rakyat yang sedang menjabat. Karena menurutnya, tindakan seperti ini tidak menunjukkan kepeduliannya untuk mengemban amanah mulia.

“Tidak ada alasan bagi kami untuk tidak hadir pada forum-forum seperti ini. Karena selain memberi pencerahan, kami juga harus bertanggung jawab kepada rakyat yang telah mempercayakan kami,” tambah Petrus.

Sementara, Adelheid da Silva mempersilakan media untuk mencari tahu sendiri kebenaran yang diungkapan Petrus.

“Silakan teman-teman wartawan cek sendiri. Sekali pun tidak pernah bagi kami pada masa itu. Kami selalu hadir untuk mendengar, menampung dan memperjuangkan aspirasi rakyat, apalagi pada daerah yang memberi kepercayaan kepada kami,” ungkapnya.

Kata Adelheid, dirinya memang tidak mengetahui alasan jelas tentang ketidakhadiran anggota dewan. Tetapi tetap saja telah menimbulkan kekecewaan terhadap konstituen.

“Mereka itu kan dipilih, berarti selalu siap dalam kondisi apapun. Karena kehadiran mereka merupakan representasi dari rakyat yang memilihnya. Apalagi di dapil yang memilihnya,” ungkapnya.

Dengan ketidakhadiran para wakil rakyat, sebagaimana yang dirasakan Adelheid sebagai tokoh perempuan, merupakan bentuk dukungan yang tidak diberikan terhadap rencana pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Karena menurutnya, kehadiran para wakil rakyat adalah perwujudan dari dukungan. “Kalau mendukung pasti hadir,” tegasnya.

Adelheid sangat berharap agar anggota DPRD lebih mengedepankan kepeduliannya terhadap rakyat. Di mana, kepedulian itu tak hanya ditunjukkan disaat masa pemilihan, tetapi harus diwujudnyatakan semasa kepercayaan itu diemban.

Sementara itu, kecaman pedas lainnya datang dari tokoh masyarakat Desa Ba’adale, Dance Ndun. Dia menyarankan agar musrenbang di tingkat kabupaten, wakil rakyat diminta untuk tidak hadir.

“Karena mereka (anggota DPRD, red) tidak hadir di tingkat kecamatan, maka pada musrenbang tingkat kabupaten pun jangan hadir,” katanya.

Menurutnya, karena rakyat sudah dibiarkan sendiri sejak awal, sehingga biarlah rakyat berjalan sendiri.

Menanggapi ketidakhadiran para wakil rakyat, Ketua DPRD Kabupaten Rote Ndao, Alfred Saudila yang dihubungi Timor Express pertelepon beberapa kali tetapi tidak direspon. Sedangkan salah satu Wakil Ketua DPRD, Adrianus Lau yang terhubung tidak banyak berkomentar. Dia malah menyarankan untuk meminta tanggapan ketua DPRD.

“Kalau terkait lembaga, adik tanyakan langsung ke pak ketua saja,” katanya singkat.

Sementara itu, Anwar Kiah, salah satu anggota DPRD yang terhubung via telepon mengatakan, dirinya sedang berada di luar daerah (Kupang), sehingga tidak berkesempatan hadir. Informasi terkait pelaksanaan kegiatan musrenbang diakui bahwa dirinya mengetahuinya.

“Undangan dari kecamatan memang ada, tetapi bertepatan dengan tugas dinas sehingga tidak bisa hadir,” kata Anwar Kiah.

Anwar mengatakan, masih ada kegiatan pra musrenbang tingkat kabupaten, sehingga dia dan rekan-rekannya bisa hadir.

Untuk diketahui, musrenbang Kecamatan Lobalain dilaksanakan, Rabu (19/2). Terdapat 67 usulan yang diusulkan, teridiri dari, 22 usulan bidang ekonomi, 27 sosial dan 18 usulan fisik prasarana. (mg32/ays)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!