Pengusaha Merugi – Timor Express

Timor Express

KUPANG METRO

Pengusaha Merugi

BERI KETERANGAN. Gustaf Yance Ndaomanu selaku pemilik Rumah Makan Bambu Kuning memberikan keterangan kepada Timor Express di tempat usahanya, Senin (24/2).

INTHO HERISON TIHU/TIMEX

Fenomena Babi Mati Mendadak

KUPANG, TIMEX – Fenomena babi mati mendadak di wilayah Kota Kupang terus dialami para peternak.

Kondisi ini membuat peternak babi mengalami kerugian hingga ratusan jutaan rupiah. Namun belum ada langkah konkret dari pemerintah dalam menuntaskan fenomena ini.

Selain peternak, dampak dari wabah penyakit ini juga turut dirasakan oleh para pengusaha daging babi di Kota Kupang. Mereka mengalami kerugian yang sangat signifikan karena penurunan jumlah pengunjung.

Padahal daging yang disediakan didatangkan dari Rumah Potong Hewan (RPH) Oeba dan telah mendapat pemeriksaan kesehatan sebelum babi dipotong.

Gustaf Yance Ndaomanu selaku pemilik Rumah Makan Bambu Kuning kepada Timor Express di tempat usahanya, Senin (24/2),  mengatakan dengan fenomena babi mati yang menghebohkan Kota Kupang jumlah pengunjung mengalami penurunan yang siknifikan.

Kondisi tersebut sudah berlangsung selama satu menggu terakhir. Namun dari pantauannya, pemerintah sejauh ini belum mengambil sikap tegas soal kasus ini, pada hal situasi ini tidak hanya merugikan pengusaha tetapi merugikan para peternak dan petani.

“Bayangkan peternak sudah memelihara babinya hingga 6-7 bulan lalu mati tiba-tiba, berapa banyak yang rugi?,” ujarnya.

Ditambahkan bahwa sebagai pelaku usaha sangat mengalami dampak dari fenomena tersebut karena babi yang seriap hari diambil dari rumah potong hewan (RPH) Oeba tidak laku terjual karena isu virus babi.

Lanjutnya kondisi ini jika tidak disikapi segera oleh pemerintah dampaknya akan berlanjut hingga kepada pemberhentian karyawan dan pembayaran utang pada bank.

“Biasanya setiap hari saya membeli minimal 10 ekor babi dengan harga 3-4 juta namun saat ini hanya bisa beli 2 ekor. Itu pun dagingnya masih sisa. Kalau kondisi ini terus menerus seperti ini maka terpaksa kita mengurangi tenaga kerja serta kesulitan membayar utang di bank,” ujarnya.

Menurut Gustaf, di wilayah Kota Kupang, Se’I Babi merupakan ikon sehingga langkah cepat untuk mengetahui penyebab kematian ratusan ekor babi yang terus terjadi saat ini.

Selain itu dengan mengetahui penyebab dari kematian babi, bisa meyakinkan kembali masyarakat untuk mengomsumsi daging babi. Serta berkoordinasi dengan pengusaha dan pegiat daging babi agar tidak menjual daging dari babi yang sudah mati.

Terkait dengan penyediaan daging babi di tempat usahanya itu, Gustaf menegaskan bahwa pihaknya hanya menjual daging yang dipotong dari RPH dan menjamin akan kualitas dari daging yang dijual.

“Pada umumnya masyarakat yang sering menikmati daging babi di sini sudah mengetahui kondisi daging kami, karena sebelum di potong terlebih dahulu diperiksa dokter hewan. Namun kondisi ini tidak bisa dipungkiri karena masyarakat mengetahui bahwa adanya wabah atau virus yang tengah menyerang ternak babi jadi pengunjung berkurang,” sebutnya.

Harapannya pemerintah segera bekerja sama dengan pihak terkait, seperti akademisi dan lulusan Fakultas Ilmu Peternakan untuk menyelesaikan persoalan ini.

“Kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut terus karena dampaknya akan membias ke mana-mana,” tutupnya.

Pantauan Timor Express, sejumlah warga tampak mendatangi pemilik Bambu Kuning untuk menjual babi, namun tawaran itu ditolak Gustaf lantaran tidak ingin menerima babi dari luar RPH Oeba. (mg29/joo)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!