Anak Penganiaya Ibu Minta Maaf – Timor Express

Timor Express

METRO

Anak Penganiaya Ibu Minta Maaf

MAAF. Pelajar berinisial NH dipeluk ibunya di Mapolres Kupang.

IST

OELAMASI, TIMEX – Pelajar 17 tahun berinisial NH yang menganiaya ibu kandungnya Aplonia Henuk mengakui perbuatannya. Di hadapan aparat kepolisian, ia meminta maaf kepada ibunya.

NH meneteskan airmata sambil memeluk ibu kandungnya ketika dipertemukan di hadapan Penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim Polres Kupang, kemarin.

Pihak PPA Sat Reskrim Polres Kupang yang menangani kasus ini menerapkan sistem peradilan anak yang diatur dalam UU Nomor 11 tahun 2012, yakni ketika anak berhadapan dengan hukum, maka dilakukan pendampingan dan perlakuan khusus.

Pelaku juga tampak trauma. Sebab kasusnya viral di media sosial dan tidak sedikit yang mem-bully. “Proses tetap lanjut, tetapi kita tetap mengacu sistem peradilan anak. Kita tidak berhak untuk menahan pelaku, tetapi harus ada pembinaan dari pihak keluarga, orangtua dan lembaga terkait,” kata Kapolres Kupang AKBP Aldinan RJH Manurung, SH, SIK, M.Si, saat konferensi pers di Mapolres Kupang, Kamis (27/2).

Saat ini pelaku sementara dibina di Polres Kupang 1×24 jam untuk menstabilkan kondisi psikologisnya. Setelah itu, pelaku dikembalikan ke pihak keluarga untuk diberi pendampingan.

Terkait pemeriksaan psikologi, kata Kapolres Kupang yang didampingi Kasat Reskrim, Iptu Simson Amalo, SH dan Kanit PPA, Ipda Fridinari Kameo, SH dan Paur Humas, Ipda Randy Hidayat, akan dilakukan pemeriksaan psikologi tetapi harus ada pendampingan dari keluarga atau lembaga terkait seperti Komisi Perlindungan Anak (KPA).

Terkait kasus ini, diterapkan UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT). Ancaman hukuman berdasarkan pasal 44 UU Nomor 23 tahun 2004 maksimal lima tahun penjara dan denda Rp 15 juta. “Kami masih terus dalami kasus ini, jika masuk delik aduan maka tidak bisa melanjutkan kasus ini. Kami bisa fasilitasi untuk selesaikan secara kekeluargaan karena ini ibu dan anak,” ungkapnya.

Kapolres Kupang menjelaskan berdasarkan keterangan yang didapat yaitu Rabu (26/2) awalnya pelaku yang berinisial NH, 17 tahun, menyuruh korban selaku ibu kandungnya untuk mengambil baju untuk melaksanakan suatu kegiatan di Kota Kupang. Karena pelaku sudah menunggu lama dan tidak ada jawaban dari korban, pelaku memarahi dan membentak-bentak korban. Kemudian lahirlah pertengkaran dan adu mulut. Pelaku pun menjambak korban. Aksi itu didengar oleh tetangga, sehingga tetangga pun datang ke rumah mereka dan melerai sehingga tidak ada lagi keributan.

Namun ketika tetangganya kembali ke rumah, terjadi lagi adu mulut antara NH yang berujung memukul korban sebanyak empat kali. “Kita lakukan pemeriksaan terhadap korban dan divisum. Memang ada pukulan tetapi tidak memar,” kata Kapolres Kupang.

Motif pelaku karena semata-mata merasa jengkel atau kesal karena permintaan pelaku tak dipenuhi korban. Berdasarkan pemeriksaan yang sementara didalami bahwa korban dan pelaku sering adu mulut atau cekcok.

Sementara itu, Direktur Rumah Perempuan Kupang, Libby Ratuarat-Sinlaeloe kepada koran ini, Kamis kemarin mengaku, setelah mendengar dan membaca berita kasus anak aniaya ibu kandung itu, dirinya sangat miris. Dirinya mengtakan, rumah yang menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi semua orang yang menempatinya, malah menjadi neraka karena mengeluarkan hawa panas yakni KDRT.

Dijelaskan Libi, relasi yang terjadi adalah suami-istri, majikan-pembantu, dan orang tua-anak. Khusus untuk relasi ini, jelasnya, data pihaknya menunjukan bahwa orangtua yang melakukan kekerasan terhadap anak. “Tapi khusus kasus ini kita semua dipertontonkan aksi kekerasan anak terhadap orang tua. Apa masalahnya kami dari Rumah Perempuan belum tau pasti. Tetapi apa pun alasannya, sudah tentu tidak diperbolehlan melakukan kekerasan. Zero tolerant for domestic violence,” tegasnya.

Yang perlu dilakukan menurut Libi yakni, di internal keluarga dengan meningkatkan pengetahuan, ketrampilan tentang keluarga yang harmonis, ketrampilan untuk mengelola marah dan budi pekerti. Dan yang paling penting adalah teladan yang diberikan oleh orangtua di rumah.

“Kedua adalah eksternal atau dukungan yang diberikan oleh masyarakat dan juga sekolah seperti ketika melihat kekerasan bisa bantu melerai sehingga ikut mencegah. Di sekolah dalam Mulok bisa diisi dengan pendidikan untuk keluarga. Untuk jangka pendek konseling untuk anak dan ibunya yang bertikai,” kata Libi seraya menambahkan untuk urusan hukum diserahkan ke pihak kepolisian. (mg22/sam)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!