Adendum Berakhir, Pekerjaan Tetap Dilanjutkan – Timor Express

Timor Express

METRO

Adendum Berakhir, Pekerjaan Tetap Dilanjutkan

 Tiga Segmen PHO Ternyata Belum Rampung

KUPANG, TIMEX-Pekerjaan ruas jalan Bokong-Lelogama sepanjang 40 kilometer di Kabupaten Kupang berakhir Minggu (8/3). Tiga segmen yakni 1,2 dan 3 mengajukan Serah Terima Pertama atau Provisional Hand Over (PHO) dengan realisasi pekerjaan 100 persen. Namun, fakta di lapangan menunjukkan tiga segmen ini masih dikerjakan hingga Senin (9/3).

Terdapat pekerjaan minor yang belum rampung bahkan dan masih ada aktifitas pekerjaan. Pantauan Timor Express Senin (9/3) sekira pukul 12.00 Wita di sepanjang ruas jalur Bokong-Lelogama menunjukkan laporan yang disampaikan Dinas PUPR NTT seperti diberitakan sebelumnya yakni segmen 1,2 dan 3 sudah 100 persen berbeda dengan kondisi di lapangan. Faktanya masih terdapat sejumlah item pekerjaan seperti bahu jalan, saluran penahan dan deker belum selesai dikerjakan.

Untuk segmen I dan III kondisinya relatif jauh lebih maju progresnya. Bila dirincikan untuk Segmen I kondisinya sudah mendekati 100 persen. Tinggal ada titik jalan tanah pada sambungan aspal jalan. Ada juga titik pasangan saluran dan penahan yang belum selesai dikerjakan.

Hal serupa terjadi pada segmen III, kondisinya terdapat saluran penahan yang sudah terpasang tetapi jebol akibat longsor sehingga nampak berbentuk kubangan. Selain itu terdapat bahu jalan pada sejumlah titik yang belum rampung, bahkan ada penahan yang belum dipasang. Jika dibiarkan tidak dikerjakan tuntas akan bisa menimbulkan longsor dan membuat aspal rusak. Di lokasi nampak sejumlah pekerja sedang meyelesaikan pekerjaan deker.

Sementara untuk Segmen II, kondisi progresnya masih kalah dibanding Segmen I dan III karena pekerjaan minor terlihat banyak yang belum dikerjakan. Di bahu jalan terlihat banyak tumpukan material sertu menghiasi di sepanjang bahu jalan. Pasangan saluran dan penahan di sejumlah titik itu pun belum selesai dikerjakan sehingga terlihat banyak lubang. Nampak di lokasi sejumlah tukang sibuk beraktifitas. Ada yang memasang batu ada pula memasang keranjang batu. Bahkan sejumlah truck nampak sibuk mengangkut material sertu untuk penutupan bahu jalan.

Sementara di Segmen IV, kondisi progresnya jauh paling rendah dari semua progres. Di lokasi ini masih ada aktivitas pekerjaan. Terdapat sejumlah titik penahan dan saluran belum selesai dikerjakan termasuk bahu jalan. Sehingga terlihat tumpukan material batu dan pasir menghiasi sejumlah titik jalan. Bahkan sejumlah titik bangunan penahan dan saluran yang sudah dikerjakan sudah jebol karena longsor. Bukan hanya itu, sejumlah titik ruas jalan masih terdapat jalan tanah karena belum selesai diaspal sama sekali.

Pantauan di lokasi terdapat 9 kelompok yang sibuk beraktifitas melakukan pemasangan saluran penahan dan duiker serta batu morta. Sejumlah alat berat termasuk belasan truk dan alat berat hanya parkir saja di lokasi besecamp.

Kepala Dinas PUPR NTT, Maksi Nenabu dikonfirmasi koran ini Senin kemarin mengatakan, untuk pekerjaan ruas jalan Bokong – Lelogama dari tiga segmen sudah 100 persen. Saat ini sedang diproses PHO. Tiga segmen itu yakni segmen I, II dan III, sedangkan untuk segmen IV, jelas Maxi, masih dilakukan perampungan karena terdapat sedikit pekerjaan aspal yang belum aspal dan sejumlah titik saluran penahan.

Dikatakan Maxi, keterlambatan ini karena kondisi curah hujan tinggi. Sehingga ada hari kerja yang tidak efektif untuk bisa beraktifitas. Sehingga dirinya mengakui saat ini sedang diproses kompensasi penambahan hari kerja untuk mengganti hari kerja yang selama ini terjadi hujan. Untuk itu pihaknya terus mendorong agar rekanan yang bersangkutan bisa menyelesaikan sisa pekerjaan dimaksud.

“Kita masih proses tambahan waktu berapa hari kompensasi. Intinya kita dorong sehingga cepat selesai,” tandasnya.

Sementara anggota Komisi IV DPRD NTT Nelson Matara mengatakan sebagai wakil rakyat mendukung sikap pemerintah untuk dilakukan kompensasi karena alasan curah hujan tinggi di lokasi itu. Tetapi penambahan waktu hari kerja tentu harus ada rekomendasi BMKG untuk memastikan data valid lama hujan di sepanjang selama masa adendum.

“Kita dukung kompensasi waktu karena curah hujan. Lokasi itu setiap hari pasti hujan. Kami sudah beberapa kali monitoring di lokasi,” tandasnya.

Namun, Ketua Fraksi PDIP DPRD NTT ini mengatakan alasan perpanjangan kompensasi waktu tidak ada regulasi khusus yang mengatur. Dia mengatakan pertimbangan utama adalah asas manfaaat sehingga tidak merugikan masyarakat sebagai pengguna jalan. Ia juga membenarkan untuk segmen I, II dan III progresnya sudah 100 persen.

“Memang tidak ada turan. Untuk itu PA (pengguna anggaran) dan kontraktor melihat kembali kerja sama dengan BMKG untuk dihitung kompensasi hari selama hujan berapa hari. Kita bukan langgar aturan tapi yang kita lihat kondisi di lapangan,” jelasnya. (mg33/ito)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!