Pantau Khusus Penumpang Zona Merah – Timor Express

Timor Express

METRO

Pantau Khusus Penumpang Zona Merah

Siapkan 30 Tenaga Medis di Bandara

KUPANG, TIMEX – Tim Satuan Gugus (Satgus) Pencegahan Penanggulangan Covid-19 Provinsi NTT memeriksa ketat penumpang yang masuk bandara dan pelabuhan. Penumpang dari daerah zona merah dipantau khusus. Jika ada yang suhunya di atas 38 derajat celcius langsung diamankan dan dirujuk ke RSJ Naimata Kupang.

Sementara, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas III Kupang, Hengky Yanres Jozua menjelaskan, pihaknya sejak Senin (23/3) telah mewajibakn setiap penumpang dari zona merah terpapar Covid-19 akan diberi kartu khusus (HAC/Health Alert Card). Kartu ini merekam identitas penumpang dan nomor kontak. Tujuannya untuk dipantau selama 14 hari. Sehingga mereka sudah tergolong orang dalam pemantauan (ODP). Data tersebut akan dikirim ke dinas kesehatan di wilayah yang sesuai dengan alamat ODP tersebut.
“Kami notifikasi ke dinas setempat untuk melakukan pemantauan selama 14 hari dan itu harus wajib dilakukan. Kalau dia sudah sakit, isolasi. Ini benar-benar dipantau selama 14 hari. Ini tidak terputus,” tandas Hengky yang didampingi General Manager (GM) Angkasa Pura I bandara El Tari Kupang, Barata Singgih Riwahono dan Ketua Ombudsman RI Perwakilan NTT, Darius Beda Daton, Selasa (24/3).

Hengky menegaskan, setiap hari, orang dari daerah terjangkit masuk ke wilayah NTT berkisar 750-1.000 orang. “Bayangkan orang dari wilayah terjangkit masuk dengan juamlah yang begitu banyak. Ini yang menjadi perhatian khusus untuk dikawal dan diberikan penanganan cepat. Sehingga apa yang disebut dampak buruk yang meresahkan dunia, kita bisa meminimalisirnya,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, dr. Dominikus Mere saat dikonfirmasi Kamis (26/3), mengatakan pemeriksaan tim medis sesuai standar operasional pelayanan untuk semua bandara dan pelabuhan. Pemeriksaan berlaku sama untuk semua penumpang tanpa terkecuali. Jika penumpang yang memiliki riwayat bepergian dari zona merah daerah terpapar covid-19 tentu menjadi perhatian khusus karena statusnya menjadi orang dalam pemantauan (ODP).

Dikatakan, alat termal scanner yang terpasang secara otomatis mengontrol suhu setiap penumpang tanpa terkecuali. Apabila suhu tidak normal di atas 38 derajat, maka alarm pendeteksi berbunyi. Sehingga penumpang yang bersangkutan langsung diarahkan untuk diperiksa lanjutan. Jika menunjukkan gejala panas tentu langsung dirujuk dan diinapkan di RSJ Naimata. Sebaliknya jika tidak menunjukkan gejala, maka yang bersangkutan dikarantina di rumah selama 14 hari dan dilarang bersosialisasi. “Tidak semua penumpang menjadi ODP. Kecuali riwayat bepergian di daerah yang terpapar covid-19,” tandasnya.

Ia mengatakan pemeriksaan penumpang berlaku sama di pelabuhan. Saat kapal berlabuh semua penumpang diperiksa satu per satu menggunakan alat thermo gun. Apabila suhu di atas 38 derajat langsung diturunkan dan dirujuk ke RSJ Naimata. Seperti yang terjadi kemarin dua penumpang tujuan Alor terpaksa diturunkan dan diinapkan di RSJ Naimata.

“Kita inapkan sementara kalau gejala suhu normal tentu dipulangkan dan dikontrol selama 1 hari di rumah,” ujarnya.

Dikatakan, semua pelabuhan mempunyai Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang dilengkapi sarana pelayanan kliniknya. Oleh karena itu, jika ada penumpang yang terindikasi gejala Covid-19, tentunya ada koordinasi dengan petugas kesehatan untuk dirujuk ke rumah sakit.

Ia menambahkan untuk memperkuat satuan gugus tugas ini, pihaknya sudah merekrut 30 tenaga medis yang nantinya ditugaskan di bandara. Perinciannya ada dua dokter umum, tenaga perawat, farmasi, sanitasi, bidan dan lainnya. Tentunya jumlah masih kurang sehingga kedepan tentu harus penambahan lagi petugas medis, sehingga bisa ditempat di pintu masuk bandara dan pelabuhan. “Kita masih butuh tambahan tenaga lagi. Bapak Gubernur sangat merespon kebutuhan seperti ini,” tandasnya.

Dikatakan, NTT saat ini sudah menerima bantuan Kemenkes berupa 500 set alat pelindung diri (APD) dan rapid test sebanyak 2.300 unit. Sejumlah dukungan sarana medis akan disaluran ke daerah dan lebih prioritas untuk RSU yang bebannya berbeda. Untuk APD masih kurang sehingga masih diupayakan untuk pengadaan tambahan.

“Uangnya sudah tersedia dari kabupaten juga sudah siap tetapi rekanan pengadaan yang masih kesulitan. Pengadaan kemenkes masih terbatas sehingga kita masih upayakan lagi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Biro Humas Protokol Setda NTT, Marius Ardu Jelamu mengatakan, semua penumpang yang masuk bandara maupun pelabuhan itu diperketat pemeriksaan. Dan berkoordinasi dengan petugas kesehatan yang sudah siaga.

Ia mengatakan ada warga yang saat tiba di bandara atau pelabuhan setelah melakukan pemeriksaan ada yang langsung kembali rumah masing-masing menjalani isolasi di rumah selama 14 hari. Meski begitu diharapkan ada kesadaran dari yang bersangkutan apalagi yang baru pulang dari daerah terpapar untuk proaktif. Harus lapor ke desa dan sampaikan ke medis agar bisa melakukan pemeriksaan.

“Kita harap masyarakat perlu sadar dan proaktif. Kalau ada yang baru tiba dari luar NTT apalagi dari daerah yang terpapar itu harus inisiatif segera periksa,” ujarnya.

Ia meminta bupati untuk mengerahkan para camat, kades, lurah terlebih Ketua RT sebagai pemimpin terdekat untuk mengontrol warganya. Misalkan baru kembali dari Bali, Surabaya, Jakarta atau luar negeri harus dilaporkan sehingga bisa dilakukan pemeriksaan.

Selain aparatur desa, masyarakat juga diimbau untuk proaktif. Prinsipnya ada kesadaran bersama, saling mengontrol dan mengingatkan untuk selalu periksa ke puskesmas atau RSU terdekat jika baru tiba dari luar daerah atau negara yang terpapar covid.

“Masyarakat tidak boleh cuek tetapi harus peduli. Tetangga sebagai keluarga terdekat harus pro aktif lapor ke RT atau kepala desa untuk memantau atau mengarahkan yang bersangkutan segera periksa,” tandasnya.

Sementara data terakhir Covid-19 Kamis pukul 21.00 jumlah ODP 301 orang. Yang sembuh sebanyak 26 orang. Sehingga jumlah ODP menjadi 275 orang, rawat nginap 7 orang dan 268 yang sedang karantina di rumah masing masing.

Perinciannya Kota Kupang ODP berjumlah 48 orang; yang sembuh 10 orang, sisa 38; yang rawat nginap 2 di rumah sakit Prof. Dr. W. Z. Johanes Kupang dan 36 orang di rumah. Kabupaten Lembata 12 orang, 3 orang, 9 di rumah. Manggarai Barat, ODP 38 orang dan semuanya karantina di rumah. Kabupaten Kupang, 9 ODP karantina dirumah.

Kabupaten Sikka, 39 orang, sembuh 11 orang dan 28 karantina di rumah. Kabupaten TTS, 15 orang semuanya di rumah. Di Kabupaten Manggarai Timur sebanyak 6 orang, rawat inap 1 orang di rumah sakit Ben Mboi Ruteng; 5 orang di rumah. Kabupaten Flores Timur, 5 sedang dirumah. Kabupaten Malaka, 1 sedang rawat inap di rumah sakit Prof. Dr. W. Z. Johanes Kupang.

Kabupaten Alor, 1 orang sudah sembuh. Kabupaten Sumba Timur, 30 orang dan 1 orang nginap di rumah sakit Umbu Rarameha, 29 orang di rumah. Kabupaten Belu, 18 orang, 1 orang sedang rawat nginap di Johannes Kupang, 17 orang di rumah. Kabupaten Sumba Barat Daya berjumlah 13 orang semua di rumah. Kabupaten Ende, 5 orang, 1 sembuh, 4 di rumah. Kabupaten Manggarai, 6 orang semuanya di rumah. Kabupaten Rote Ndao, 20 orang di rumah, Sumba Tengah, 4 orang di rumah, Kabupaten Ngada 14 orang dirumah, Nagekeo 14 orang di rumah 1 orang sedang rawat nginap RSU TC Hilers Maumere dan ada 13 orang dirumah, Sabu Raijua 3 orang di rumah. (mg33/sam)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!