Solidaritas Sosial Lawan Covid-19 – Timor Express

Timor Express

METRO

Solidaritas Sosial Lawan Covid-19

KUPANG, TIMEX-Tren kenaikan pasien positif Covid-19 di NTT semakin meningkat. Kondisi ini membuat masyarakat mulai panik dan cemas untuk menghadapi penyakit yang belum ada obat ini. Butuh solidaritas sosial agar bisa memutus mata rantai Covid-19.

Sosiolog Dra. Balkis Soraya Tanof, M.Hum mengatakan, secara sosiopsikologis kasus Covid-19 ini akan menimbulkan kecemasan di tengah masyarakat “Paranoia massal” dimana terganggunya kondisi psikologis dan fisiologis bagi sebagian masyarakat akan menimbulkan “stres”.

“Akibatnya muncul gejala semu mirip infeksi SARS-CoV 12 seperti demam, sakit tenggorokan, batuk dan pegal-pegal. Reaksi gejala semu ini timbul akibat rasa cemas yg berlebihan yang disebut dengan “gangguan psikosomatik” yaitu kondisi ketika tekanan psikologis mempengaruhi fungsi fisiologis (somatik) secara negatif sehingga menimbulkan sakit,” jelas Balkis ketika dihubungi koran ini via telepon seluler akhir pekan kemarin.

Selain itu, menurut dosen Fisip Undana ini, stigma terhadap pengidap Covid-19 dan keluarga juga turut mempengaruhi psikologis mereka karena mengalami tekanan sosial.

Di sisi lain dengan bertambahnya jumlah pasien positif Covid-19 akan menimbulkan krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dalam penanganan memutuskan mata rantai penularan Covid-19 di NTT. Karena dengan pemberlakuan NTT darurat Covid-19 dimana masyarakat harus berdiam diri di rumah dengan jangka waktu yang cukup lama, masyarakat telah mengalami tekanan psikis. Apalagi di saat yang bersamaan masyarakat menerima berbagai informasi dari media sosial, koran, TV, tentang bertambahnya jumlah penderita Covid-19, kekurangan pasokan APBD dan lainnya.

Untuk mengendalikan kondisi ini, menurut Balkis, tergantung kepatuhan masyarakat agar terhindar dari stress dan kepanikan massal. Sehingga dirinya menyarankan pemerintah untuk terus melakukan edukasi kepada masyarakat agar patuh, taat dan disiplin sebagai wujud “Solidaritas Sosial” bersatu untuk memutuskan mata rantai Covid-19 di NTT.

“Dengan edukasi diri, keluarga dan masyarakat di lingkungan sekitar tempat tinggal untuk berpartisipasi menggunakan masker apabila beraktivitas di luar rumah, senantiasa cuci tangan, dan menjaga jarak apabila terpaksa harus berada di ruang publik, hindari kerumunan dan melap muka dengan tangan,” pesan Balkis.

Bagi masyarakat yang masih keliru tentang pengolahan informasi yang salah misalnya, mati adalah urusan Tuhan, menurutnya, ini termasuk tipe masyarakat yang tidak patuh pada aturan. Sehingga harus intens melakukan komunikasi, edukasi tentang bahaya Covid-19.

“Selain itu juga sanksi tegas dan memberikan reward dan punisment yang jelas sehingga pemerintah dapat mengatur masyarakat agar patuh pada aturan sesuai protokol kesehatan Covid-19,” kata Balkis.

Sementara itu, Ketua Program Studi Psikologi FKM Undana, Abdi Keraf, S.Ps, M.Si, M.Psi mengatakan, secara toeritis memiliki hubungan ketika meningkatnya stimulus (peningkatan angka covid-19) maka akan meningkat pula tingkat kecemasan. Tetapi dalam pengamatannya, di NTT masih bersifat zonatik.

“Bagi masyarakat di zona merah, tingkat kecemasan lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat di wilayah lain dari paparan. Secara teori tingkat kecemasan bergerak seiring dengan spektrum,” sebut Abdi Keraf.

Dia menyarankan masyarakat tidak perlu panik yang berlebihan karena akan kelabakan dalam bertindak akibat dari situasi panik yang tidak terkendali. “Panik dan gelisah itu adalah rambu-rambu bagi kita untuk mengantisipasi. Panik, cemas, gelisah itu perlu bagi kita karena ini merupakan pertahanan diri jika ada ancaman. Yang perlu dihindari adalah panik, cemas, gelisa yang berlebihan karena akan berpengaruhi kita dalam berperilaku dan bisa menimbulkan stres tertekan,” ungkap Abdi.

Menurutnya, dalam menanghadapi Covid-19, harus mematuhi atauran protokol kesehatan. Ini jurus yang paling ampuh saat ini karena belum ada vaksinnya. Maka harus meningkatkan perilaku kepatuhan dan ketaatan masyarakat.

Keluarga, kata Abdi, harus berperan penting dalam mengontrol anggota keluarga agar tidak berkeliaran sembarangan di tengah pandemi ini. Tidak ada waktu untuk cuek dan menghindari perilaku yang berisiko agar tidak menjadi seorang carier atau pembawa bagi orang lain.

“Dengan menaati aturan protokol, sudah memberikan ketenangan secara psikologis bagi diri sendiri bahwa kita aman dan terhindar dari penyakit. Yang bisa menjaminkan kita terhindar dari penyakit adalah kita sendiri,” tegasnya.

Usul Tes Massal

Wakil Ketua DPRD NTT, Inche Sayuna juga menghimbau kepada seluruh masyarakat bahwa yang paling utama adalah lebih tertib mengikuti protokol kesehatan yang sudah dihimbau oleh pemerintah selama ini.

“Kepatuhan pada protokol kesehatan akan menolong kita lebih cepat memutus matarantai penyebaran Covid-19. Masyarakat tidak boleh setengah hati mengikuti himbauan pemerintah,” ujarnya.

Selain itu, kata Inche, virus ini harus dilihat sebagai musuh bersama dan karena itu dibutuhkan kerja sama antar berbagai komponen untuk memerangi virus ini. Dirinya sangat sependat dengan himbauan solidaritas sosial yang disampaikan sosiolog Balkis Soraya.

“Sebagaimana diungkapkan oleh satgas bahwa angka pasien positif Covid-19 sudah semakin banyak dan menembus angka 68 tersebar di beberapa kabupaten/kota dan yang lebih berbahaya adalah sudah ada pasien positif yang terinfeksi dari transmisi lokal,” katanya.

Ditegaskan, masyarakat dan pemerintah harus lebih serius lagi dalam melihat persoalan ini. Harus ada kesadaran untuk memeriksakan diri secara sukarela bila merasa ada gejala. Jika masyarakat tidak mampu untuk membiayai maka pemerintah telah mempersiapkan dana untuk membantu.

Lanjutnya, pemerintah mulai berpikir untuk siapkan pemeriksaan massal jika angkanya terus meningkat dan biayanya ditanggung oleh pemerintah. “Kita bersyukur di NTT sdh bisa melakukan pemeriksaan swab sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui hasilnya,” tuturnya.

Ditambahkan tes dalam skala besar akan mempercepat penemuan kasus. Jika kasus positif telah terdeteksi, kasus dapat diisolasi dan akan memutus rantai penularan.

Terpisah Yunus Takandewa, Ketua Komisi V DPRD NTT juga berharap kepada seluruh masyarakat NTT agar tetap wajib mematuhi protokol kesehatan, juga terus tingkatkan daya imun tubuh, konsumsi makanan berkadar gizi memadai, juga asupan herbal.

“Imunitas tubuh sangat penting agar tubuh terjaga keseimbangan kebertahanannya di masa pendemi. Produktifitas energi positif hindari stres, dan rajin berolahraga,” pesan Yunus. (mg29/ito)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!