2.000 Anak Ikut Jambore PAR – Timor Express

Timor Express

KUPANG METRO

2.000 Anak Ikut Jambore PAR

TABUH TAMBUR. Menteri P3A Republik Indonesia Yohana Yembise (kanan) bersama Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Mery Kolimon sedang menabuh tambur pertanda dibukanya Jambore V PAR di Gereja Alfa Omega Labat, Rabu (4/7).

FENTI ANIN/TIMEX

Tingkat Sinode GMIT Tahun 2018

KUPANG, TIMEX – Sebanyak 56 tim dari 40 Klasis di Sinode GMIT  dengan jumlah peserta 2.000 anak, mengikuti Jambore Persekutuan Anak dan Remaja (PAR) tingkat Sinode GMIT.

Pembukaan kegiatan ini berlangsung di Gereja Ala Omega Labat,  Rabu (4/7).

Pembukaan Jambore PAR ke-5 ini dibuka oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Republik Indonesia, Yohana Yambise, didampingi Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Mery Kolimon, Asisten Pemerintahan Setda Kota Kupang Yos Rera Beka dan peserta lainnya.

Jambore PAR ke-5 dengan tema, Aku Anak GMIT Citra Kristus, akan berlangsung selama enam hari, mulai 3-8 Juli di Gereja Alfa Omega Labat.

Peserta yang mengikuti Jambore di antaranya dari Klasis Amarasi,  Klasis Flores, Amanuban Timur, Kupang Barat, Semau, Amanuban Timur, Molo Timur, Amanatun Utara, Teluk Kasbola, Kupang Barat,   Molo Barat, Alor Barat Daya, Rote Timur, Kupang Tengah, Alor Timur, Pantar Timur, Amfoang Utara, Klasis Sumbawa, Amanatun Timur, Sabu Timur dan klasis lainnya.

Menteri P3A Yohana Yambise, mengatakan, mendidik anak tidak harus selalu terpaku pada jalur formal. Transfer ilmu pada anak yang dikemas secara menarik juga dapat dilakukan melalui aktivitas keagamaan.

Kegiatan Jambore kata Yohana, merupakan implementasi dari upaya pemenuhan hak anak atas pemanfaatan waktu luang, kreativitas dan budaya.

“Anak-anak Indonesia harus diberi kesempatan dan ruang seluas-luasnya untuk berpartisipasi sebagai upaya mengembangkan diri dan menggali potensi yang ada pada dirinya,” ujarnya.

Menurut Yohana, pemerintah, lembaga dan masyarakat memiliki tanggung jawab memfasilitasi kegiatan tersebut.

“Adanya kegiatan ini sekaligus menunjukkan komitmen kuat Kota Kupang untuk menjadi Kota Layak Anak,” ujarnya.

Saat ini menurut Yohana, waktu efektif anak untuk belajar, bermain dan kehidupan sosialnya banyak teralihkan oleh gadget. Hal tersebut dikhawatirkan memicu anak menjadi egois, tidak peka terhadap lingkungan dan terpapar informasi tidak layak.

Oleh sebab itu, Menteri yang akrab disapa Mama Yo ini pun mengajak anak-anak di Kupang mengembangkan aktivitas lainnya yang dapat memacu kreativitas.

Dia juga mendorong lembaga keagamaan mampu mengusung kegiatan yang berperan dalam membantu anak mengembangkan potensi, berorganisasi dan perilaku positif.

“Dukung anak untuk berkompetisi secara jujur dan sehat. Semoga dengan adanya pelaksanaan kegiatan Jambore V PAR GMIT 2018 ini yang secara reguler dilakukan, menjadi peneguhan kembali komitmen bagi peningkatan pemenuhan hak dan perlindungan anak Indonesia demi kepentingan terbaik anak,” tambah Yohana.

Sementara itu, Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Mery Kolimon,  mengatakan, Majelis Sinode GMIT menyambut dengan gembira momen pesta iman ini.

“Kita bersyukur peristiwa iman ini bisa terjadi. Kepada Menteri yang hadir dan membawa harapan bagi anak-anak GMIT. Kehadiran ini menjadi bukti dan tanda bahwa pemerintah serius bekerja untuk mengembangkan anak bangsa,” kata Mery.

Dengan sinergitas semua pihak, Mery berharap dapat membangun generasi muda Indonesia yang ada di Provinsi NTT.

Di pesta iman ini, lanjut dia, ada kemajuan berpikir dan bertindak terkait penyelenggaraan Jambore. Kegiatan-kegiatan diarahkan untuk menumbuh kembangkan kecerdasan majemuk setiap anak GMIT. Berbagai kelas disediakan untuk memberi ruang bagi anak-anak mengembangkan minat dan talenta mereka.

Dikatakan, ada kegiatan jelajah alam supaya membangun sikap mengennal dan menghargai alam sebagai sesama ciptaan. Juga kegiatan mengunjungi berbagai tempat ibadah lintas gereja dan lintas agama di Kota Kupang.

“Melalui kegiatan ini anak-anak peserta belajar mengenal realitas majemuk bangsa agar dapat membangun keterampilan hidup bersama dengan saudara-saudara beragama lain sebagai bentuk  perwujudan iman,” kata Pdt. Mery.

Dia menjelaskan, di tengah ancaman radikalisme dan terorisme, anak-anak GMIT berkomitmen menjadi persekutuan yang merukunkan, yang menjaga Indonesia agar tetap damai, adil dan setara.

“Jambore ini bukan dibuat untuk persaingan. Tetapi membuka ruang bagi masing-masing anak untuk menemukan dan mengembangkan talentanya. Dengan begitu anak-anak belajar untuk tahu bahwa Tuhan menciptakan mereka dengan talenta yang beragam, berhadapan dengan zaman yang cenderung menekankan pada pementingan diri. Diharapkan dengan kegiatan ini menjadi ajang membangun persekutuan dalam keberagaman potensi dan talenta,” ungkapnya.

Hingga hari ini, lanjut Mery, Provinsi NTT masih berhadapan dengan kualitas belajar mengajar dan pendidikan yang secara umum memprihatinkan.

Diharapkan proses dan hasil belajar di Jambore GMIT 2018 menjadi sebuah kekayaan bersama yang ditumbuhkembangkan agar dapat disumbangkan bagi praktik-praktik pendidikan yang lebih luas di  gereja dan masyarakat.

“Kita harus berusaha untuk membuktikan kepada Indonesia dan kepada dunia, bahwa anak-anak GMIT, anak-anak NTT, adalah anak yang mengasihi dan dikasihi Tuhan. Anak yang cerdas dan berprestasi,” ujarnya.

Dia melanjutkan, tantangan lain yang dihadapi yaitu bergereja dan mengasuh anak-anak dalam tantangan zaman, akibat perkembangan teknologi yang luar biasa.

Perkembangan itu, menurut dia, memang membawa banyak kemajuan, namun pada saat yang sama menggerus juga kehidupan yang  berkualitas.

“Waktu anak yang seharusnya dipakai untuk membaca dan berdoa, banyak kali dihabiskan untuk bermain game dan nonton televisi. Untuk itu, diharapkan dalam jambore ini penggunaan handphone bisa dikurangi, agar lebih fokus mengikuti jambore ini,” imbuh Mery.

Masalah lainnya di NTT, lanjut Mery, adalah anak-anak buruh migran yang ditinggalkan di kampung halaman, sedangkan orangtua menjadi tenaga kerja di luar daerah, bahkan di luar negeri.

Anak-anak ini rentan terhadap kondisi yang tidak ramah, juga rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan.

“Kami harap sebagai gereja, pemerintah dan elemen-elemen masyarakat lain yang peduli pada anak, menjadikan isu anak-anak buruh migran ini sebagai agenda pelayanan,” imbuhnya.

Sementara itu, Asisten I Setda Kota Kupang Yos Rera Beka, mengatakan, pesatnya perkembangan teknologi informasi dan multimedia sangat berdampak pada perubahan tata nilai dan budaya.

Hal ini menurut Yos, sangat terasa dalam tatanan kehidupan berjemaat maupun bermasyarakat. Dan juga sangat jelas terlihat pada tingkah laku generasi muda saat ini.

“Untuk itu, sangat perlu pembinaan dan pengembangan anak dan remaja di Kota Kupang. Agar menjadi generasi muda yang ideal, berkualitas dan beriman,” katanya.

Dia menambahkan, kegiatan jambore tersebut diharapkan dapat memberikan nuansa berpikir secara iman Kristen untuk membangun karakter anak untuk bertumbuh dalam iman.

“Hal ini merupakan tanggung jawab kita semua, mulai dari orangtua, pemerintah, rohaniawan, tenaga pendidik, gereja dan  masyarakat,” pungkas Yos Rera Beka. (mg25/joo)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!