68 Eks PSK Karang Dempel Dipulangkan – Timor Express

Timor Express

KUPANG METRO

68 Eks PSK Karang Dempel Dipulangkan

PROTES. Para eks PSK yang tidak mendapat bantuan pemerintah ketika melakukan aksi protes di kantor wali kota, Jumat (4/10) kemarin.

IMRAN LIARIAN/TIMEX

KUPANG, TIMEX – Sebanyak 68 eks pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi Karang Dempel, Kelurahan Alak, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Jumat (4/10) resmi dipulangkan ke kampung halaman masing-masing.

Kegiatan tersebut ditandai dengan deklarasi penutupan lokalisasi Karang Dempel dan penandatanganan komitmen antara Kementerian Sosial dengan Pemerintah Kota Kupang yang diwakili Penjabat Sekretaris Daerah Kota Kupang, Elvianus Wairata.
Pantauan Timor Express, para eks PSK tersebut sebelumnya ditampungi rumah singgah Kementerian Sosial.

Penjabat Sekretaris Daerah Kota Kupang, Elvianus Wairata pada kesempatan itu mengatakan deklarasi penutupan tempat prostitusi yang dikenal dengan Karang Dempel ini merupakan kegiatan strategis dalam rangka mendukung pemerintah pusat terkait penutupan lokalisasi secara serentak di seluruh Indonesia. Terkait hal tersebut, Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore mengeluarkan keputusan penutupan lokalisasi KD terhitung 1 Januari tahun 2019.

Dikatakan, tidak hanya melakukan penutupan semata, melainkan bagaimana memberdayakan manusia lewat kegiatan positif. “Dengan anggota tubuh yang lengkap, seyogianya kita bisa melakukan hal-hal positif yang berdampak pada peningkatan ekonomi. Seperti salah satu PSK yang telah keluar dan diberikan dana pemberdayaan dalam menjalankan usaha yang keuntungannya sampai setengah miliar. Saya pikir hal ini juga bisa dilakukan oleh saudara-saudara kita yang dipulangkan ke daerah masing-masing,” jelas Elvianus.

Dengan spirit “Ayo Berubah” harus mengubah keadaan menjadi lebih baik. Ke depannya, lokasi ini akan dimanfaatkan menjadi tempat wisata dan kuliner yang cukup baik.

Direktur Rehabilitasi Sosial dan Korban Perdagangan Orang Kemensos RI Drs. Waskito Budi Kusumo mengatakan penutupan lokalisasi saat ini mencapai 169 tempat. Menurutnya, Kemensos tak sampai di sini saja, selanjutnya akan menggelontorkan bantuan untuk mereka yang dipulangkan ke kampung halaman. “Ada bantuan usaha produktif untuk 68 orang. Total bantuan yang kami berikan sebesar Rp 416 juta,” jelasnya.

Koordinator Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI), Adel mengaku deklarasi penutupan tempat lokalisasi ini tidak terlaksana secara baik. Pasalnya, dari data yang ada sebanyak 128 PSK. Namun, yang diakomodir dalam pemberian bantuan dana sebesar Rp 6 juta hanya 68 orang. “Pertanyaannya yang lainnya sekitar 30 orang PSK dikemanakan jika tidak diakomodir. Nasib mereka masih terkatung-katung,” katanya.

Sementara itu, Ketua RT 10 Kelurahan Alak, Yandri Misa mengaku sebagai Ketua RT tidak bisa berbuat banyak terkait puluhan eks PSK lainnya yang belum dipulangkan. Asri (bukan nama sebenarnya), salah satu eks PSK, mengaku tidak mendapat bantuan dari pemerintah. Padahal dirinya sudah empat kali didata oleh pemerintah. “Tetapi saya tidak terdata dalam penerimaan bantuan dana. Sekarang saya tidak pulang, berarti saya masih kerja. Karena kalau saya tidak kerja saya makan apa,” ungkapnya.

Ia berharap jika ingin memulangkan eks PSK, maka semuanya harus diakomodir. Ia mengatakan masih ada sekira 30 orang yang tidak menerima bantuan. “Saya akan tetap kerja untuk bisa makan,” tegasnya.

Terpantau, para eks PSK yang tidak diakomodir mendatangi kantor wali kota sekira pukul 12.30. Ke-30 eks PSK didampingi ketua OPSI, Adel. Para eks PSK ini tampak membawa spanduk dengan tulisan-tulisan bernada protes terhadap pemerintah. Koordinator OPSI, Adel mengatakan mereka datang untuk mencari keadilan dan perlindungan kepada 30 orang eks PSK yang tidak terakomodir dalam bantuan dana tersebut. Sayangnya, mereka tidak sempat bertemu wali kota dan para pejabat pemkot. Mereka pun dijanjikan untuk datang kembali pada Senin (7/10) nanti. (mg22/sam)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!