Emi: Dewan Dibenci namun Dirindukan – Timor Express

Timor Express

METRO

Emi: Dewan Dibenci namun Dirindukan

SEJARAH BARU. Dari kiri ke kanan, Emelia J. Nomleni (Ketua), Inche D. P. Sayuna (Wakil Ketua), Chris Mboeik (Wakil Ketua) dan Aloysius Malo Ladi (Wakil Ketua) setelah menerima palu sidang dari pimpinan sementara DPRD usai pengambilan sumpah/janji di ruang sidang utama Gedung DPRD NTT, Jumat (4/10).

TOMY AQUINODA/TIMEX

Momentum Kebangkitan Perempuan NTT
Pimpinan DPRD NTT Resmi Dilantik

KUPANG, TIMEX – Emelia Julia Nomleni bersama Inche D. P. Sayuna, Christian Mboeik dan Aloysius Malo Ladi
resmi menjabat sebagai pimpinan Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Provinsi NTT periode 2019-2024. Dalam rapat
paripurna istimewa, Jumat (4/10), mereka mengucapkan sumpah/janji sebagai ketua dan wakil ketua DPRD NTT.

Momentum ini menjadi sejarah baru dalam perpolitikan di Bumi Flobamora. Selain PDIP yang untuk pertama
kalinya mendudukkan kadernya di kursi Ketua DPRD NTT, juga karena Emi menjadi perempuan pertama yang menjadi
Ketua DPRD NTT. Tak hanya itu, keberhasilan Emi dan Inche Sayuna menjadi pimpinan DPRD NTT sekaligus menjadi
momentum kebangkitan perempuan NTT di dunia politik.

Pantauan Timor Express, rapat paripurna istimewa dalam rangka dalam rangka pengucapan sumpah/janji pimpinan
DPRD NTT dibuka oleh Ketua Sementara Yunus Takandewa didampingi Wakil Ketua Sementara Muhammad Ansor. Wakil
Gubernur NTT Yosep Nae Soi NTT hadir pada kesempatan itu. Hadir pula mantan Wakil Gubernur NTT Esthon Foenay,
mantan Ketua DPRD NTT Melkianus Adoe dan J. N. Manafe, para bupati, Forkompinda NTT, keluarga pimpinan yang
dilantik serta tamu undangan lainnya.

Sebelum memangku jabatan sebagai pimpinan, mereka mengucapkan sumpah/janji dengan dipandu oleh Ketua
Pengadilan Tinggi Kupang, Andreas Don Rade. Usai pengucapan sumpah/janji, Ketua Sementara Yunus Takandewa
menyerahkan palu sidang dan memori kinerja DPRD periode sebelumnya kepada Emi Nomleni.

Dalam pidatonya, Emi mengatakan, di tengah arus perubahan yang cepat serta terpaan arus sosial media dan era
komunikasi digital, DPR/DPRD zaman sekarang merupakan sebuah lembaga politik yang selalu menjadi sorotan
tajam dari masyarakat. DPR/DPRD dibenci, namun sangat dirindukan.

“Benci karena mereka kecewa apa yang diharapkan belum bisa terpenuhi. Namun, benci dan rindu adalah bagian
dari harapan masyarakat agar DPR/DPRD menjadi simbol aspirasi sehingga harapan dapat terpenuhi,” katanya.
DPRD NTT, kata Emi, datang dari latar belakang partai yang berbeda. Namun untuk kepentingan rakyat, semua
legislator harus menyanyikan sebuah lagu dengan nada dasar yang sama. Ibaratnya, siapa saja boleh tidur pada
bantal yang berbeda, namun harus ada satu mimpi bersama untuk menyelesaikan berbagai persoalan di NTT.

Menurut Emi, tahun 2019 adalah tahun kebangkitan perempuan NTT. Sebab lembaga DPRD NTT untuk pertama kali
dipimpin oleh perempuan. Baik pada posisi ketua, maupun wakil ketua. Keberhasilan ini selain kerja keras
personal, juga karena pergerakan perempuan NTT yang selama ini mengadvokasi masyarakat tentang pentingnya
kepemimpinan perempuan di ruang publik. “Kami berterima kasih kepada seluruh perempuan NTT yang telah
mempersembahkan 12 perempuan di DPRD NTT,” ujarnya.

“Ini adalah keberhasilan dari sejarah panjang perjuangan agar perempuan setara dengan laki-laki di ruang
publik, sehingga dapat merumuskan kebijakan yang pro perempuan dan anak serta kelompok masyarakat rentan
lainnya,” sambung Emi seraya mengajak 11 srikandi di DPRD NTT untuk menjadi kekuatan politik baru dalam
menyuarakan kepentingan kaum-kaum yang tertindas.

Kepemimpinan perempuan, lanjut Emi, bukan berarti menyingkirkan laki-laki. Kepemimpinan perempuan adalah
kondisi dimana perempuan yang selama ini berada di belakang, ingin berjalan bersama laki-laki. Bersama-sama
menyampaikan dan menyelesaikan berbagai kekurangan di belakang, yang mungkin tidak terlihat oleh laki-laki.

Sementara Wagub NTT Josef Nae Soi dalam sambutannya, mengatakan, sungguh menjadi kebanggaan bagi masyarakat
dan pemerintah provinsi karena NTT mendapat dua orang srikandi untuk menempati posisi sebagai pimpinan DPRD
NTT.

“Dengan pelantikan dua srikandi ini, kita menunjukkan kepada dunia dan nusantara bahwa di NTT ada
keseimbangan antara perempuan dan laki-laki. Mari kita bekerja sama supaya ada keserasian dan keselarasan di
antara kita,” kata mantan anggota DPR RI itu.

Kepemimpinan wanita, menurut Wagub, selalu punya nilai lebih dibandingkan laki-laki. Mereka selalu tegas pada
masalahnya, tetapi ramah pada caranya. Oleh karena itu, dalam semangat keibuan, dia berharap legislative
bekerjasama dengan eksekutif untuk menuntaskan seluruh persoalan yang ada di NTT.

“NTT tidak boleh dijuluki termiskin lagi. NTT tidak boleh dikenal karena stunting tertinggi atau karena
literasi terendah. Jika ada kerja sama antara legislatif dan eksekutif, saya yakin NTT akan bangkit menuju
sejahtera,” ungkapnya.

Mantan Ketua DPRD NTT, Melkianus Adoe yang diwawancara usai rapat paripurna istimewa mengungkapkan harapannya
untuk pimpinan DPRD NTT yang baru. Menurutnya, Emi Nomleni cs harus menerima aspirasi dari seluruh rakyat.

Selanjutnya, aspirasi tersebut dikaji dan dikelola untuk selanjutnya diputuskan sesuai dengan aturan yang
berlaku.

Dia juga berharap agar DPRD NTT di bawah kepemimpinan Emi Nomleni bisa bekerja sama dengan Pemprov NTT,
terlebih dengan gubernur dan wakil gubernur sehingga semua program pemerintah untuk mensejahterakan
masyarakat dapat berjalan dengan baik.

“Keberhasilan Ibu Emi dan Ibu Inche menjadi pimpinan DPRD NTT adalah anugerah Tuhan yang harus disyukuri.
Merka adalah simbol orang yang berjuang dengan hati. Semua kita dituntut untuk berhati seperti bunda,” tutup
Mel Adoe.

Usai acara pengambilan sumpah/janji sebagai pimpinan dewan, malam tadi dilakukan syukuran yang dilaksanakan
keluarga besar DPD PDIP Provinsi NTT. Syukuran ini berlangsung di halaman depan Sekretariat DPD PDIP NTT.

Acara ini dihadiri para tokoh seperti Herman Hery yang juga anggota DPR RI dari PDIP, Ketua DPD Partai
Gerindra NTT Esthon L. Foenay, Rektor Undana Prof. Fred Benu, para pimpinan dan anggota DPRD NTT, Bupati SBD
dr. Kornelis Kodi Mete dan Bupati Belu Willybrodus Lay, para ketua DPC PDIP, kader dan simpatisan PDIP.

Pada kesempatan itu, Herman Hery mengatakan PDIP berbangga karena untuk pertama kalinya menjadi pemenang di
tingkat provinsi dan menduduki kursi ketua DPRD NTT. Selain itu, PDIP juga berbangga karena mempunyai
perempuan hebat bernama Emi Nomleni sekaligus menjadi perempuan pertama yang menjabat Ketua DPRD NTT. “Ada
salam dari Ibu Mega untuk Ibu Emi. Saat bertemu beliau, saya katakan sejak NTT berdiri, ini pertama kali PDIP
menduduki kursi Ketua DPRD dan ibu Emi Nomleni yang menjadi ketua DPRD,” kata Herman Hery.

Wakil Ketua Komisi III DPR periode sebelumnya ini mengingatkan agar Emi menjadi seorang ibu bagi semua
anggota DPRD dan masyarakat NTT. Harus mengayomi dan menjadi teladan yang baik. Selain itu, walaupun sebagai
seorang perempuan, harus tetap tegas. “Kalau benar bilang benar, salah bilang salah. Harus tegas dan
profesional jalankan tugas sebagai pimpinan DPRD,” tegas Herman Hery. (tom/sam)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!