KONI NTT Butuh Rp 50 Miliar – Timor Express

Timor Express

SPORTIVO

KONI NTT Butuh Rp 50 Miliar

RAKOR DAN EVALUASI. Ketua Umum KONI NTT, Andre W. Koreh didampingi Sekretaris Umum dan para Wakil Ketua KONI saat rapat koordinasi dan evaluasi PraPON dan persiapan NTT menuju PON XX/2020 di Hotel Sotis, Senin (30/12) lalu.

Marthen Bana/TIMEXKUPANG.com

Persiapan Dan Keikutsertaan NTT ke PON XX/2020 di Papua
Targetkan Raih 10 Emas

KUPANG, TIMEX – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) membutuhkan dana senilai Rp 50 miliar untuk persiapan dan pengiriman atlet ke Pekan Olahraga Nasional (PON) Ke XX/2020 bulan Oktober nanti di Provinsi Papua.

Angka ini naik empat kali lipat dari biaya yang dibutuhkan KONI NTT ketika persiapan hingga keikutsertaan atlet NTT di PON XIX/2016 Jawa Barat.

“Kalau di PON XIX/2016 di Jawa Barat lalu, kita membutuhkan biaya Rp 11 miliar lebih. Tapi untuk PON XX/2020 di Papua, bisa empat kali lipat sehingga kita memperkirakan biaya untuk persiapan hingga keberangkatan ke Papua bisa mencapai Rp 50 miliar lebih,” ungkap Ketua Umum KONI NTT, Andre Koreh dalam Rapat Koordinasi Akhir Tahun dan Evaluasi PraPON XX/2020 serta persiapan NTT menuju PON XX/2020 bertempat di Hotel Sotis Kupang, Senin (30/12/2019) lalu.

Andre menjelaskan, besarnya biaya tersebut didasarkan pada perhitungan biaya perjalanan ke Papua yang nilainya lebih besar empat kali lipat dari biaya perjalanan ke PON Jawa Barat tahun 2016 lalu.

Diungkapkannya, hingga akhir Desember 2019, dari 14 cabang olahraga yang direkomendasikan KONI NTT untuk mengikuti PraPON tujuh cabang berhasil meloloskan atletnya ke PON, yakni Kempo (Lolos 25 atlet), Tinju (10 atlet/kelas), Atletik (5 atlet), Pencak Silat (6 atlet), Tarung Derajat (2 atlet), Taekwondo (1 atlet), dan Sepak Bola (20 atlet). Di luar tujuh cabor itu, ada tiga cabor lain yang tidak direkomendasikan KONI namun mengikuti PraPON dengan biaya sendiri dan berhasil lolos PON. Ketiga cabor itu, yakni Wushu (2 atlet), Criket (14 atlet), dan Gateball (3 atlet).
Sementara cabor lain dari 14 cabor yang direkomendasi KONI NTT, namun tidak lolos PON atau tidak mengikuti PraPON, yakni Basket, Sepak Takraw, Futsal, Bola Voli (Tidak ikut PraPON), Catur, Tenis Meja (Tidak ikut PraPON), dan Bulu Tangkis.
“Dengan demikian, ada 10 cabor yang sudah meloloskan atletnya ke PON dengan total atlet 88 orang,” kata Andre.
Selain biaya transportasi atlet dan official ke Papua, kata Andre, dana Rp 50 miliar itu juga akan digunakan untuk mempersiapkan para atlet selama lebih kurang 10 bulan mulai Januari 2020 untuk program TC Desentralisasi dan TC Sentralisasi, dimana untuk TC ini biayanya menjadi tanggung jawab KONI NTT.
“Dana itu juga untuk pengadaan peralatan masing-masing cabor lolos PON,” beber Andre.

Karena itu, lanjut Andre, pengurus cabor lolos PON diminta segera menyiapkan rancangan anggaran biaya (RAB) untuk dimasukkan ke KONI sebagai dasar KONI mengajukan anggaran ke pemerintah sebagai pemberi hibah.
“Pengurus cabor supaya segera masukan RAB-nya ke KONI. Mohon agar RAB itu dibuat atau disusun semasuk akal mungkin, dan diserahkan selambat-lambatnya minggu pertama Januari 2020. Nanti RAB dari tiap cabor yang masuk ke KONI akan diteliti atau dilakukan penyesuaian sesuai ketentuan yang berlaku, yakni peraturan gubernur (Pergub),” tegas Andre dihadapan para pengurus KONI NTT juga pengurus cabor induk organisasi olahraga yang hadir dalam rapat tersebut.

“Setelah RAB PON rampung disusun, KONI NTT beserta Pengprov Cabor akan meminta waktu Bapak Gubernur, Wakil Gubernur dan Ketua DPRD NTT untuk melakukan audiens,” pungkas Andre.

Target 10 Emas
Masih dari Rakor tersebut, Ketua Umum KONI NTT, Dr. Ir. Andre W. Koreh, MT menyatakan, melihat jumlah cabor dan atlet yang lolos PON XX/2020 di Papua, dan berkaca pada hasil PON XIX/2016 lalu di Jawa Barat serta melihat hasil-hasil kejurnas serta babak kualifikasi PON (PraPON) yang diikuti 10 cabor ini, maka PON di Papua, KONI NTT menargetkan meraih 10 medali emas.

Dalam rapat yang dihadiri seluruh pengurus KONI NTT dan ketua/sekretaris induk cabang olahraga anggota KONI itu, Andre menyebutkan bahwa, target 10 emas itu diharapkan disumbangkan cabor Kempo sebanyak enam emas, cabor Tinju dua emas, dan cabor pencak silat juga dua emas.

“Kalau di PON Jabar Kempo NTT dapat tujuh emas, dan hasil kejurnas tahun ini meraih enam medali emas, maka kita targetkan untuk Kempo di PON minimal dapatnya sama yakni enam emas. Cabor Tinju yang loloskan 10 atlet ke PON, kita targetkan sumbang dua emas, lalu Pencak Silat yang lolos enam atlet, kita targetkan juga dua emas. Kalau Atletik kita lihat ada potensi tapi tidak bebani emas. Ini target minimal, sehingga semua cabor lolos PON diharapkan mempersiapkan atletnya secara baik untuk dapat menyumbangkan medali sebanyak-banyaknya bagi NTT di PON nanti,” harap Andre.

Andre menyebutkan, di PON XIX/2016 di Jawa Barat, NTT pulang dengan 7 emas, 7 perak, dan 9 perunggu. Nah, di PON XX/2020 nanti, Andre mengharapkan 10 cabor yang sudah lolos PON ini bisa memenuhi target yang di patok KONI NTT itu.

Andre mengungkapkan, guna menjawab target tersebut, KONI NTT telah mempersiapkan agenda pemusatan latihan daerah (Pelatda) dalam dua tahap, yakni TC desentralisasi dan TC sentralisasi. Untuk TC desentralisasi, demikian Andre dimulai Januari – Maret 2020 dengan penanggungjawab pengprov cabor masing-masing. Sementara TC sentralisasi dilaksanakan mulai April – Oktober 2020, dimana penanggungjawab secara keseluruhan pemusatan ini adalah KONI NTT.
“Pengprov cabor hanya bertugas menunjuk pelatih untuk bertanggungjawab secara teknis, yakni program latihan. Program latihan supaya disusun dengan baik agar pencapaian prestasi puncak (peak perfomance) di PON XX/2020 di Papua. Untuk melahirkan prestasi, perhatikan tiga hal, yakni teknik harus baik, daya tahan/fisik harus prima, dan mental atlet harus baik,” urai Andre.
Andre juga meminta agar selama proses TC, pelatih cabor PON harus membuka diri terhadap pentingnya sport science. Penerapan iptek dan sport science merupakan keharusan dalam menyusun program da melaksanakan pembinaan/latihan selama Pelatda. “Nanti sebelum memasuki TC terpusat, KONI NTT akan mengadakan pembinaan karakter selama dua pekan dengan narasumber/instruktur dari unsur TNI/Polri dan pemeriksaan kesehatan berupa medica check up yang dikoordinir dokter KONI NTT,” pungkas Andre. (aln/rum)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!