Bangun Kota, Potong Anggaran Perjalanan Dinas, Rapat dan Monitoring – Timor Express

Timor Express

METRO

Bangun Kota, Potong Anggaran Perjalanan Dinas, Rapat dan Monitoring

POSE BERSAMA. Peserta diskusi pose bersama usai diskusi di Graha Pena Timor Express membahas pembangunan Kota Kupang menuju kota hijau dan bersih, Kamis (9/1).

OBED GERIMU/TIMEX

Diskusi Santai tentang Gerakan Kupang Hijau di Graha Pena (2-habis)

Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore menegaskan pembangunan sebagian infrastruktur di kota ini berkat efisiensi anggaran yang dilakukannya. Mulai dari potong biaya perjalanan dinas, rapat-rapat dan monitoring.

FENTI ANIN, Kupang

SEMENJAK memimpin Kota Kupang, Jefri Riwu Kore gencar melakukan efisiensi anggaran. Banyak anggaran di OPD yang dipotong. Khususnya anggaran perjalanan dinas. Hasilnya dipakai untuk membangun sejumlah infrastruktur di kota ini. “Terus terang yang kita buat sekarang rata-rata itu ide yang kita pikirkan sendiri, termasuk lampu-lampu hias dan sebagainya. Saya terus berpikir bagaimana membangun kota ini,” kata Jefri dalam diskusi yang digelar Timex Forum dan didukung Timex Kupang Promosindo, timexkupang.com dan Suka Roti, Kamis (9/1) di ruang rapat lantai 2 Graha Pena Timor Express.
Wali Kota juga mengapresiasi Timor Express sebagai ruan rumah dari diskusi tersebut. Diakuinya bahwa Timor Express merupakan sekumpulan orang-orang yang sangat peduli terhadap kota ini. “Jadi tuan rumah ini (Timex) sangat peduli dengan kota ini dari dulu. Bukan baru sekarang-sekarang ini. Bukan wali kotanya saya. Dari dulu mereka sudah bekerja luar biasa untuk kota ini. Cuma memang perlu kita kerja sama lagi yang lebih besar. Kita buat revolusi terhadap cara-cara kerja yang sudah luar biasa selama ini, dan saya percaya nanti dengan Timex kita kaji pekerjaan yang lebih bagus ke depan kayak apa,” kata Wali Kota.
Diakuinya, KGC yang sudah luar biasa membantu pemerintah di kota ini selama beberapa tahun terakhir. Dan hal ini menjadi suatu pekerjaan, pemikiran dan kreatifitas yang luar biasa bagaimana membantu pemerintah.
Di sisi lain, lanjut Wali Kota, pemerintah harusnya turut serta dan mendukung penuh apa yang sudah dipikirkan Timor Express. Menurut sosok yang akrab disapa Jeriko ini, kota ini memang harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Dan bagi dia Tuhan menempatkannya memimpin kota ini hanya dengan dua tanggung jawab, yaitu tanggung jawab pada Tuhan dan pada masyarakat. “Kalau Anda kerja jujur, kerja betul, Tuhan tanya Anda bisa jawab. Masyarakat tanya Anda bisa jawab. Kalau tidak bekerja jujur, tidak bisa, walaupun pasti tidak semua orang senang,” ungkap mantan anggota DPR RI dua periode itu.
Wali Kota kembali menjelaskan bahwa untuk memberikan sesuatu kepada masyarakat lewat pembangunan yang masif. Dia membuat keputusan memangkas habis anggaran perjalanan dinas pejabat, termasuk anggaran perjalanan Wali Kota dan Wakil Wali Kota. “Jadi ini bagaimana kita menyiasati anggaran ini untuk masyarakat. Walaupun mendapat tantangan. Jadi ada dua sisi, yaitu memperhatikan saudara-saudara kita yang tidak beruntung. Itu yang paling penting,” ungkap dia.
Menurutnya, jika masyarakat melihat saat ini ada pembangunan infrastruktur yang masif di Kota Kupang, itu merupakan bagian dari efisiensi anggaran yang luar biasa. Dan tahun depan, akan ada 70-80 persen anggaran hanya akan diperuntukan ke masyarakat. Semua orang miskin akan dibiayai. “Tolong dicatat, ini baru tahun kedua saya menggunakan anggaran. Dengan demikian semua orang di Kota Kupang yang masuk dalam basis data terpadu harusnya mendapatkan hak mereka sebagai masyarakat yang diperhatikan oleh pemerintah,” sebut Jeriko.
Lebih lanjut, kata dia, akan ada bantuan beasiswa dan rumah murah yang akan diperjuangkannya di DPRD. “Tahun depan, saya pikir akan ada perkembangan luar biasa. Saudara-saudara yang tidak punya rumah akan dibantu sepanjang mereka bisa mencicil. Pemerintah kota akan membayar DP-nya dan mereka akan melanjutkan cicilannya saja. Itu rencana perjuangan saya kalau disetujui oleh DPRD,” sambung dia.
Wali Kota optimistis tahun ini pihaknya sudah bisa meyakinkan DPRD bahwa program ini benar-benar untuk membantu masyarakat yang memang tidak beruntung. Dia melanjutkan, konsep penataan Kupang Hijau ini adalah bagaimana menata kota ini agar menjadi aman, nyaman, dan lebih tenteram bagi seluruh masyarakat.
Menurutnya, saat ini pihaknya gencar melakukan penanaman pohon, namun tidak dengan menanam anakan tapi langsung menanam batang pohon dengan ukuran panjang dan diameter yang ditentukan. “Jadi kita memangkas umurnya (pohon), walaupun kemarin kita inginkan ukuran diamater sekian, tapi yang datang kurang-kurang sedikit. Tidak apalah. Hanya saja supaya estetikanya bagus, maka ditanam dengan baik dan ada filosofinya, karena kita juga mau jadikan kota ini sebagai kota sepe. Memang harus diakui dalam pelaksanaannya agak susah,” sebut Wali Kota.
Dia menyebutkan bahwa kota ini harus ditata dengan baik agar menjadi kebanggaan semua orang dan menjadi kota yang bermartabat. Jefri mengakui bahwa semua programnya yang tengah dilaksanakan oleh jajaran Pemkot Kupang terus dicek secara terus menerus agar benar-benar dikerjakan sesuai harapan dan bermanfaat bagi masyarakat. “Memang banyak kekurangan dan tidak sesuai yang diharapkan. Seperti pembangunan taman-taman dan lampu hias, itu saya protes banyak, karena tidak bisa cek satu-satu. Kalau satu saya tidak cek bisa rusak semua,” ungkap dia.
Dikatakan, ke depan Pemkot Kupang akan terus menata kota ini menjadi lebih baik lagi. “Sudah pasti saya akan kerja sama dengan Timex nanti untuk bisa berbuat lebih bagus lagi ke depan. Tapi perlu ada catatan juga, selain efisiensi yang kita kerjakan di kota ini, kita juga berjuang untuk mendapatkan dana untuk kota ini. Dan kita percaya tahun depan kota ini akan lebih berubah, karena ada dana yang mulai masuk dari pusat. Dan kami rencanakan enam taman lagi, dan yang lebih spektakuker adalah tahun depan kita juga mendapat bantuan untuk air bersih,” sebut Wali Kota.
Ia memaparkan berbagai hasil program unggulan perwujudan visi Pemerintah Kota Kupang. “Terwujudnya Kota Kupang yang layak huni, cerdas, mandiri dan sejahtera dengan tata kelola bebas KKN” serta ke-6 misi Pemerintah kota Kupang. “Sebagai pemimpin di Kota Kupang, yang pertama-pertama ada di hati kami adalah bagaimana agar kami dapat memperhatikan sungguh-sungguh saudara-saudara warga masyarakat yang tidak begitu beruntung. Bersama Pak Herman Man kami mulai dari hal-hal kecil apa sebenarnya yang merupakan kebutuhan utama kota ini,” jelasnya. “Kami berupaya agar Kota Kupang menjadi kebanggaan kita semua, karena Kota Kupang sejatinya adalah bagian dari Indonesia. Dengan membangun Kota Kupang, kita juga mewujudkan visi besar Pemerintah pusat. Sehingga ketika melihat Kota Kupang, imej yang timbul pada pikiran orang-orang yang berkunjung bahwa Kota Kupang adalah Indonesia. Tertata dengan baik, penerangan cukup, dengan berbagai taman dan penerangan yang memadai. Bukan kota yang gelap. Imej itulah yang ingin kita ubah semenjak awal kami memimpin Kota ini,” tambahnya. Kini, wajah Kota Kupang berubah cukup signifikan, lebih tertata dengan adanya infrastruktur taman atau ruang terbuka hijau yang tersebar di Kota Kupang dengwn penerangan sebanyak 10.150 titik lampu dan 1000 lampu hias berbagai bentuk yang mempercantik Kota Kupang terutama di waktu malam. Banyak Masyarakat Kota Kupang yang menikmati perubahan yang terjadi di wilayah Kota Kupang hasil inovasi Pemerintah Kota Kupang dibawah kepemimpinan Jefri Riwu Kore dan dr. Hermanus Man selama 2 tahun lebih ini.
Pasangan ini sejak awal berkomitmen untuk menata infratruktur perkotaan di Kota Kupang sesuai dengan visi KUPANG BAGAYA-BERPRESTASI, yang harus kita tata pertama itu infrastrukturnya dulu. “Kita mulai dari taman kota yang memadai untuk masyarakatnya kemudian penerangan, ada drainase dan beberapa lokasi-lokasi hiburan atau rekreasi kota. Pelayanan publik bagi masyarakat juga kita tingkatkan, yang terbaik kita berikan bagi masyarakat, itulah mimpi kami berdua sejak awal,” ujarnya.
Lelaki kelahiran Sabu pada 13 Januari 1960 silam itu mengajak agar semua pihak tidak hanya melihat sisi negatif dari segala upaya Pemerintah dalam membangun Kota Kupang tetapi juga turut membantu membangun kota ini menjadi kota modern, kota kebanggaan masyarakat. “Saya tidak mau ada lagi kejadian seperti pengalaman ketika masih menjabat sebagai anggota DPR RI, kala itu bersama rekan-rekan sejawat sesama anggota DPR RI berkunjung di kota ini sampai di bundaran PU mereka sempat tanya kepada saya ‘Pak Jefri apa kotanya masih jauh?’ hal itu mengindikasikan bahwa Kota Kupang tidak tertata sebagai layaknya kota modern, tidak ada lampu penerangan, gelap gulita, tidak ada taman, penataan ruas jalan tidak ada dan sebagainya. Pengalaman tersebut menginspirasi saya dan dokter Herman untuk menata kota ini dengan tetap memperhatikan kebutuhan dasar masyarakat kita,” terangnya.
Dirinya menyebutkan, beberapa taman tematik yang dilakukan penataan menampilkan filosofi masing-masing, “Salah satunya di Taman Bundaran Kasih Penfui, kita tampilkan tulisan ‘UIS NENO NOKAN KIT’ yang artinya ‘TUHAN Beserta Kita’ berasal dari Bahasa Timor sehingga masyarakat Kota Kupang yang berasal dari suku Timor memiliki kebanggan tersendiri budayanya telah mempersatukan seluruh masyarakat Kota Kupang.
Menuru Jefri Taman TIROSA sebelumnya kumuh dan tak tertata. “Patung Tirosa merupakan patung tiga tokoh kebanggaan Kota Kupang yang mewakili budaya Timor, Rote dan Sabu. Harus terus dilestarikan dan ditata sehingga generasi muda tetap berbangga memiliki monumen ikonik yang mewakili 3 budaya tradisional yang ada di Kota Kupang ini,” ungkapnya.
Selain itu masih ada 4 taman tematik lainnya, yakni Taman Patung Sonbai sebagai monumen pahlawan kebanggaan Kota Kupang, Taman TaGePe sebagai taman literasi kawula muda dan Taman Adipura dekat Bandara El Tari, sehingga suasana perkotaan modern telah dirasakan semenjak orang memasuki wilayah Kota Kupang dari Bandara El Tari.
Adapula Taman Inaboi yang sudah puluhan tahun tidak terurus, terlihat dari patung sebelumnya yang sudah rusak dan sasando yang tidak lagi kelihatan, kini menjadi ikon Kota Kupang yang tertata dengan penempatan patung wanita cantik yang memegang alat musik khas Rote, Sasando, monumen prestisius ini menunjukan bahwa alat musik khas Rote yang sudah mendunia tersebut menjadi kebanggaan masyarakat Kota Kupang.

Mengenai Taman Ina Boi sendiri, dibangun untuk memperindah alun-alun kota yang merupakan konsep lama sejak kepemimpinan Daniel Adoe dan Daniel Hurek. “Penataan RTH Taman Inaboi sebenarnya sudah out of date, tetapi kita terikat karena desainnya sudah dibayar pemerintahan sebelumnya, sehingga kita melanjutkan pengerjaannya agar tidak terjadi kerugian negara, kami menatanya dengan menambah pohon-pohon sekelilingnya itu dan juga menambah penerangan atau lampu-lampu hiasnya,” terangnya.
Sedangkan, Taman Patung Sonbai, ikon yang menampilkan seorang pahlawan kebanggan masyarakat NTT dari suku Timor, sebelumnya terlihat tidak terurus selama bertahun-tahun. “Monumen peringatan kepahlawanan kebanggan masyarakat harus ditata dan ditempatkan pada posisi yang sebenarnya, agar filosofi perjuangan Sonbai tidak asing bagi generasi muda kita. Penataan lampu dibuat sedemikian rupa dari ukuran yang kecil ke ukuran yang besar, menceritakan arti perjuangan Sonbai dari hal-hal kecil, sedikit demi sedikit sampe besar dan menjadi seorang Pahlawan,” jelas Walikota Kupang yang menjabat sejak Agustus 2017 itu. Visi dan misi Kota Kupang masih terus diupayakan perwujudannya dibawah kepemimpinan jefri Riwu Kore dan dr. Hermanus Man, termasuk misi KUPANG HIJAU melalui Gerakan Kupang Hijau yang telah dideklarasikan semenjak 16 November 2019 yang lalu, menitikberatkan serta mengajak masyarakat Kota Kupang berpartisipasi dalam gerakan menanam pohon, menanam air dan mengurangi penggunaan sampah plastik. “Melalui Gerakan Kupang Hijau kita menyiapkan lingkungan kita, termasuk air untuk anak cucu kita dikemudian hari, kalau kita mengikuti gerakan ini maka 10 sampai 20 tahun mendatang Kota Kupang tidak akan lagi kekurangan air, hijau juga nyaman dan sejuk,” himbau Walikota Kupang.
Walikota Kupang menghimbau agar setiap orang menanam minimal 1 pohon baru dan menggali lubang resapan sebagai jebakan air di lingkungan masing-masing, sehingga air tidak mengalir begitu saja ke sungai dan laut, juga mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari.
Terbukti semenjak dicanangkan, banyak pihak mendukung dan mengikuti jejak Pemerintah Kota Kupang menanam pohon yang diselaraskan dengan program organisasi masing-masing seperti yang ditunjukkan Pengurus Kaum Bapak Sinode GMIT NTT melalui gerakan GESAPA SAPO atau Gerakan 1 bapak tanam 1 pohon di akhir November 2019 lalu.
Walikota Kupang juga mengungkapkan bahwa banyak segmen pembangunan di Kota Kupang dapat terwujud karena adanya efisiensi anggaran di tubuh jajaran Pemerintah Kota Kupang. “Kami memangkas biaya perjalanan dinas luar daerah serta program monitoring yang dirasa kurang urgen agar dapat dibelanjakan untuk kepentingan publik. Ini merupakan bentuk tanggung jawab kami terhadap amanah jabatan yang dipercayakan TUHAN melalui masyarakat untuk mengusahakan kesejahteraan masyarakat dimana kami ditempatkan,” kata dia.
Hal tersebut nyata melalui beberapa program pro rakyat seperti pengadaan kacamata dan seragam sekolah gratis bagi siswa SD dan SMP di wilayah Kota Kupang. “Ada 1 keluarga di Alak yang terpaksa kedua anak-anaknya bergantian mengenakan 1 seragam, yang satu sekolah siang, yang lain sekolah pagi supaya baju bisa dipakai bergantian. Hati saya tergerak mengetahui ini sehingga kami mengadakan program tersebut,” kisahnya.
Setiap kebijakan pemerintah manapun pasti menimbulkan pro kontra, seperti dalam hal pengadaan kacamata dan seragam sekolah gratis.

“Di sisi lain banyak yang berpendapat bahwa ada masyarakat yang tergolong mampu juga mendapat bantuan, menurut hemat kami, ini bukan masalah kaya miskin tapi perhatian kita kepada saudara-saudara kita, jadi jika ada masyarakat yang tidak menerima karena tergolong sudah mampu, tinggal dikembalikan saja, kita salurkan ke masyarakat yang lebih membutuhkan,” Jelasnya.
Nikson Ramang, akademisi Prodi Kehutanan Undana Kupang pada forum tersebut juga mengkritisi cara menanam pohon yang sudah dilakukan Pemkot Kupang.
Menurut dia, lubang untuk menanam seharusnya dibuat lebih dalam hingga 1 meter sehingga penyebaran akar lebih kuat dan pohon tidak rapuh saat sudah besar nanti. Mengenai menanam langsung batang pohon, Nikson juga khawatir pohon-pohon tersebut akan mudah mati ketika musim panas nanti. “Hasil penelitian kami, antara menanam anakan dan batang pohon, keduanya akan sama tingginya pada tahun kelima. Menurut saya menanam anakan lebih bagus, sehingga tanaman akan lebih menyesuaikan dengan kondisi tanah yang ada,” sebut Nikson.
Dia juga menyarankan agar tanaman-tanaman yang ditanam di kota ini juga adalah yang tidak membutuhkan banyak air untuk pemeliharaan, mengingat keterbatasan air di kota ini. “Kalau tanam bunga, kenapa tidak tanam bunga kertas saja, dan kalau rumput kita punya rumput lokal, yang dengan sedikit air tetapi tetap subur, bahkan di musim kemarau sekalipun,” imbuhnya.
Wakil Direktur Timor Express Stanley Boymau yang memoderatori diskusi tersebut juga menitip beberapa ide dan gagasan. Terutama terkait penanaman pohon yang tak ramah serta membahayakan nyawa pengguna jalan.
Stanley mencontohkan pohon trembesi yang tinggi dan batangnya bakal besar. Di beberapa titik, pohon ini ditanam persis di ujung trotoar. Begitu pula Flamboyan, yang batangnya garing dan kemungkinan besar patah jika sudah berusia di atas lima tahun. Menurut mantan Pemred Timor Express ini, tidak salah semangat Pemkot menanamnya, namun rekanan perlu diingatkan soal lokasi agar tepat sasaran plus jangan terkesan membuang-buang anggaran. “Contohnya di Jl S.K Lerik, depan Toko Multiguna, puluhan Flamboyan ditanam persis di bawah kabel listrik. Sangat tidak tepat sasaran.
Begitu pula dengan penataan taman.
Kota ini sudah banyak berubah.Kita patut mensyukurinya. Hanya perlu ada sistem yang dibangun agar karya monumental ini berusia panjang, plus luput dari aksi vandalisme,” sebut Stanley. (*/sam)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!