Integritas Partai Politik – Timor Express

Timor Express

OPINI

Integritas Partai Politik

Oleh: Yohanes Jimmy Nami

Dosen Ilmu Politik FISIP Undana

 

Membahas mengenai sistem demokrasi tentu tidak terlepas dari peran partai politik didalamnya. Partai politik merupakan pilar dari demokrasi itu sendiri. Sistem demokrasi diyakini oleh sebagian besar negara didunia sebagai salah satu sistem politik terbaik, walaupun ada juga negara yang menganut sistem politik atau ideologi yang bertolak belakang dengan sistem demokrasi itu sendiri karena dianggap terlampau dinamis sehingga cenderung menghadirkan ketidakpastian. Indonesia merupakan salah satu dari sekian negara yang ada di dunia yang mengadopsi sistem demokrasi dalam sistem politiknya. Demokrasi Indonesia bukan tanpa tantangan dalam penerapannya, melalui proses panjang, perjalanan demokrasi dari rezim ke rezim dengan gaya kepemimpinannya masing-masing, proses demokratisasi di negeri ini berjalan maju menuju kematangan demokrasi.

Wajah Parpol

Pergantian rezim dari era orde baru menuju era reformasi membawa perubahan yang luar biasa dalam konteks politik Indonesia. Jika direzim orde baru yang lebih dikenal dengan Eksekutife heavy, dimana peran Eksekutif yang sangat mendominasi dan peran Legislatif yang lemah serta tidak fungsional sedangkan lembaga Yudikatif hanya menjadi alat Eksekutif dalam melegitimasi kebijakan. Memasuki era reformasi semuanya menjadi berubah, peran masing-masing institusi negara menjadi lebih proporsional, baik itu Eksekutif, Legislatif maupun Yudikatif berjalan dalam koridor sesuai dengan fungsi dan perannya masing-masing sesuai dengan amanat Undang-undang.

Peran partai politik dalam sistem demokrasi sangat signifikan, tidak ada demokrasi tanpa partai politik sebagai penyokongnya. Menurut Miriam Budiardjo (2008), dalam tugasnya, parpol memiliki empat peran utama, sebagai sarana rekruitmen politik, sarana sosialisasi politik, sarana komunikasi politik, sarana pengatur konflik dalam masyarakat. Peran ini seharusnya melekat dan saling bersinergis dalam prosesnya, sebagai contoh, melalui fungsi rekruitmen partai politik, para wakil rakyat kita yang duduk di parlemen sebagai anggota legislatif, kepala daerah/kepala negara, sebelumnya dilakukan kaderisasi dan diseleksi sebagai pemimpin. Fungsi ini tidak dapat berjalan sendiri tanpa melibatkan masyarakat sebagai unit yang dilibatkan secara aktif dalam proses, sehingga out putnya akan lahir produk-produk pemimpin yang berkinerja baik sesuai dengan harapan masyarakat. Demikian juga dengan fungsi yang lainnya harus dipastikan saling menopang dalam sebuah sistem yang sifatnya organik. Realitas saat ini, tampilan dan kinerja partai politik di Indonesia masih jauh dari harapan. Belum memenuhi ekspektasi sistem demokrasi Indonesia, parpol cenderung menjadi alat untuk merebut kekuasaan saja, ruang transaksional bagi kepentingan-kepentingan tertentu. Banyak kasus-kasus hukum yang menyandera elit-elit partai, sarat korupsi, kolusi dan nepotisme. Banyak oknum dalam elit parpol memanfaatkan kekuasaan dan jaringan yang dimiliki hanya untuk memuaskan syahwat politiknya. Sebagai elit partai politik seharusunya menjadi teladan publik, yang dibangun malah sebaliknya, bertolak belakang dengan norma dan etika publik. Korupsi yang semakin merajalela dan melibatkan kader partai politik, terstruktur, masif dan sistematis dari tingkatan pusat sampai tingkatan daerah. Hampir setiap hari muncul berita-berita yang memprihatinkan, kasus-kasus hukum yang menjerat elit parpol. Alhasil, tidak sedikit elit partai harus berurusan dengan meja hijau dan mendekam dalam tahanan. Kondisi ini cukup menunjukan persoalan yang ada dalam tubuh partai politik di Indonesia. Partai politik yang merupakan tongggak demokrasi belum fungsional, jauh dari fungsi dan perannya dalam karakter demokrasi Indonesia, jauh dari semangat dan cita-cita perjuangan rakyat menuju kesejahteraan bersama. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik mengalami degradasi baik dalam proses maupun produk politik yang dihasilkan. Dalam banyak peristiwa politik, masyarakat cenderung melihat faktor ketokohan dan popularitas personal dibandingkan dengan ideologi dan platform parpol itu sendiri. Ini menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi partai politik, karena sebagai institusi demokrasi seharusnya tidak sekedar menjadi alat demokrasi prosedural, namun juga sebagai penopang kehidupan bernegara, rumah kebangsaan. Masyarakat Indonesia harus merasakan kehadiran partai politik sebagai bagian dari kehidupan berbangsa. Partai politik tidak dibentuk berdasarkan keinginan atau kehendak pribadi orang perorangan dalam parpol itu sendiri, namun lahir dari kesadaran kolektif masyarakat untuk merubah keadaan bangsa ini untuk menjadi lebih baik dan dinikmati secara bersama seluruh lapisan masyarakat.

Pendidikan Politik

Penguatan performa parpol dalam sistem politik Indonesia menjadi kepentingan bersama seluruh masyarakat Indonesia, perlu peran partisipatif masyarakat sebagai instrumen utama dalam melakukan terobosan politik yang positif dalam memperbaiki kinerja parpol dan meningkatkan kualitas demokrasi itu sendiri. Beberapa hal yang dapat saya simpulkan sebagai alternatif pemikiran. Pertama, Partai politik sebagai institusi mempunyai tanggungjawab ideologis terhadap kader-kadernya, dan oleh karena itu menjadi sesuatu yang urgen untuk melakukan penguatan kapasitas baik pemahaman berorganisasi, penanaman  nilai ideologi, dan platform partai sebagai nilai. Sehingga kader parpol mempunyai kemampuan yang baik sebagai wakil parpol dalam pola dan interaksi politik dalam masyarakat. Kedua, partai politik tidak sekedar menjadi kendaraan menuju kekuasaan namun lebih dari pada itu partai politik harus adaptif dengan dinamika sosial masyarakat. Dalam mendesain arah perjuangan politiknya parpol harus aspiratif, sesuai dengan harapan masyarakat dan bukan cuma cita-cita kelompok tertentu dalam organisasi parpol itu sendiri. Ketiga, partai politik menjadi garda terdepan dalam upaya pendidikan politik masyarakat. Perjuangan parpol tidak sekedar menerjemahkan visi dan misi partai saja, namun juga menjadi ruang konsolidasi demokrasi. Menstimulir kesadaran kolektif masyarakat sehingga tidak menjadi apatis berpolitik. Parpol diibaratkan etalase demokrasi, partai politik harus selalu tampil menarik bagi konstituen dengan aktifitas konkrit yang berjalan secara berkesinambungan bersama masyarakat.

Tegaknya demokrasi Indonesia sangat bergantung pada kinerja parpol, oleh karena itu parpol harus berbenah atau melakukan transformasi diri dalam perjuangan menuju demokrasi substantif. Ketika ruang konsolidasi terbuka, masyarakat sebagai kekuatan sipil lainnya, turut mengawasi dengan terlibat dalam partisipasi politik, tentunya sesuai dengan eksistensi masing-masing individu dalam masyarakat. Mendorong bangsa ini menjadi lebih maju dan berkeadilan sosial, kita mulai dengan mendorong perubahan fungsi dan peran partai politik menjadi lebih inklusif dan progresif menyelesaikan persoalan dalam masyarakat Indonesia. Dengan demikian tujuan negara Indonesia menuju Demokrasi Pancasila dapat tercapai.   (*)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!