UKAW-PKK NTT Atasi Stunting dan Gizi Buruk – Timor Express

Timor Express

PENDIDIKAN

UKAW-PKK NTT Atasi Stunting dan Gizi Buruk

BERI MOTIVASI. Ketua PKK Provinsi NTT, Julie Sutrisno Laiskodat saat menyampaikan materi pembekalan mahasiswa UKAW Kupang yang akan melaksanakan KBPM di Gereja Betlehem Oesapa Barat, Sabtu (11/1).

INTHO HERISON TIHU/TIMEX

KUPANG, TIMEX-Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang selain menyediakan generasi yang unggul dan mampu bersaing di lapangan kerja, juga peduli dengan masalah stunting dan gizi buruk yang kini melanda masyarakat NTT.

NTT tercatat sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang menyumbang stunting dan gizi buruk tertinggi. Namun, untuk mengatasi masalah ini, UKAW menyadari bawa tidak hanya pemerintah yang bertanggung jawab, namun membutuhkan kerja sama dari semua elemen masyarakat.

Karena itu, UKAW Kupang mulai menjajaki kerja sama dengan Tim Penggerak Program Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi NTT untuk membantu menyadarkan masyarakat akan masalah stunting dan gizi buruk.

UKAW akan menerjunkan 948 mahasiswa melalui Kegiatan Belajar dan Pendampingan Masyarakat (KBPM) semester ganjil 2019/2020. Kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan, namun pelaksanaannya lebih difokuskan untuk pemberdayaan masyarakat desa agar bisa mengoptimalkan potensi yang dimiliki di setiap desa.

Sebelum menerjunkan para mahasiswa terlebih dahulu dilakukan pembekalan. Pembekalan tersebut digelar di Gereja Betlehem Oesapa Barat, Sabtu (11/1).

Pembukaan pembekalan panitia menghadirkan pemateri yakni Rektor UKAW yang diwakili Wakil Rektor I Bidang Akademik Magdalena Ngongo. Topik yang dibawakan WR I tetang optimalisasi sumber daya dalam meningkatkan ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan demi kesejahteraan masyarakat.

Pemateri kedua tentang program pengembangan desa model yang dibawakan oleh Ketua TP PKK Provinsi NTT, Julia Sutrisno Laiskodat. Dan materi terakhir tentang paradigma baru KBPM UKAW Kupang oleh Kepala LPM UKAW, Melkianus Nuhamara.

Wakil Rektor I Bidang Akademik, Magdalena Ngongo pada kesempatan tersebut mengatakan mahasiswa UKAW harus dipersiapkan dengan baik agar bisa melaksanakan KBPM dengan baik sesuai saasaran yang hendak dicapai.

Dikatakan, kegiatan KBPM kali ini dilakukan berbeda namun mahasiswa saat di lokasi kegiatan harus bisa membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat. Menghindari persoalan yang bisa menyebabkan kerugian bagi diri sendiri maupun universitas.

“Diharapkan kepada mahasiswa agar bisa mengikuti kegiatan tersebut secara komprehensif agar pada pelaksanaannya tidak mengalami kesulitan,” katanya.

Mahasiswa yang akan dikirim ke masyarakat dan bersosialisasi dengan masyarakat juga mampu melaksanakan visi dan misi dari KBPM.

Sementara Ketua LPM UKAW, Melkianus Nuhamara dalam pemaparan materinya tentang pelaksanaan KBPM untuk semester ganjil 2019/2020 menjelaskan kegiatan yang disiapkan hingga tahap pembekalan tersebut penuh perjuangan. LPM berusaha bekerja sama dengan PKK Provinsi NTT dan mendapat dukungan secara positif.

Tema KBPM “Optimalisasi sumber daya dalam meningkatkan ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan demi kesejahteraan masyarakat”. Tema ini diangkat karena terdapat masalah stunting dan gizi buruk di NTT sangat tinggi. Sehingga dengan kegiatan ini bisa dioptimalkan secara baik agar bisa bermanfaat kepada masyarakat NTT.

Dengan keterbatasan SDM, kata Melkianus, pihaknya hanya bisa menjangkau sembilan kabupaten di NTT. Namun, dengan tema yang berkelanjutan maka terus dilakukan kepada masyarakat agar mampu menyelesaikan masalah sosial yang dialami masyarakat.

“Mahasiswa harus mempersiapkan diri dengan ilmu yang telah diperoleh kurang lebih empat tahun untuk diimplementasikan kepada masyarakat sehingga bisa mengukur diri sendiri apakah sudah layak menyandang serjana atau belum,” tandasnya.

Dari total mahasiswa sebanyak 948 orang berasal dari 5 fakultas, 11 program studi dan akan diterjunkan untuk melakukan KBPM di 72 desa yang tersebar di sembilan kabupaten di NTT.

“Desa-desa yang terpilih telah disurvei dan memiliki sumber daya berbeda-beda, maka mahasiswa akan mengoptimalkan sumber daya tersebut bersama dosen pendamping,” tambahnya.

Sedangkan Ketua PKK Provinsi NTT, Julie Sutrisno Laiskodat pada kesempatan tersebut mengisahkan proses perjalanan hidup dirinya dan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat yang sempat menjalani kehidupan yang sulit. Maka dirinya memotivasi para mahasiswa agar membantu pemerintah dalam mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki masyarakat.

“Kita harus akui bahwa kekayaan alam kita sangat banyak namun belum memiliki kemampuan untuk mengelola secara baik. Maka tugas mahasiswa adalah membatu memberikan pemahaman masyarakat agar bisa membuat sumber daya di setiap desa memiliki nilai ekonomis,” katanya.

Disampaikan Julie, dengan membantu masyarakat NTT mengelola kekayaan alam yang ada maka masyarakat dengan sendirinya akan menambah penghasilan dan memperbaiki ekonomi keluarga.

“Upaya ini tercapai maka kita sudah membantu memberantas masalah kemiskinan, stunting dan gizi buruk. Ini sangat luar biasa,” tuturnya.

Dijelaskan, program TP PKK NTT saat ini telah membentuk satu desa model di setiap kabupaten/kota dengan tujuan untuk membantu mengatasi berbagai persoalan di tingkat desa.

“Kita kerja sama dengan pihak teknis seperti Dinas Dukcapil dan Kepolisian untuk membantu membuatkan surat administrasi atau data diri masyarakat dengan sistem jemput bola,” katanya.

Selain itu, ia juga menyampaikan persoalan yang perlu diatasi yakni stunting dan gizi buruk. Masalah stunting menempatkan NTT pada puncak tertinggi di Indonesia.

“Maka diharapkan kepada mahasiswa yang akan melakukan kegiatan KBPM untuk serius dalam menjalan kegiatan tersebut,” tambahnya. Para mahasiswa akan diterjunkan awal bulan Februari 2020. Sementara kegiatan pembekalan dilakukan setiap minggu. (mg29/ito)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!