Menjadi Guru Pemula – Timor Express

Timor Express

OPINI

Menjadi Guru Pemula

Oleh: Jefrianus Kolimo, S.Pd, Gr

Guru Di SMP Negeri 1 Hawu Mehara,

Sabu Raijua

 

Tulisan ini adalah tulisan dari guru pemula yang sedari kecil sudah bercita-cita untuk menjadi guru. Impian itu sudah mulai tertanam bahkan sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Sudah tentu impian untuk menjadi guru bukan karena besarnya tunjangan sertifikasi sebab program sertifikasi baru dinikmati oleh guru beberapa tahun terakhir. Cita-cita menjadi guru itu muncul sebab saya mengidolakan guru saya. Sejak kecil saya melihat profesi guru itu keren meskipun gaji mereka tidak sekeren sekarang. Guru saya terdahulu tahu segalanya. Meskipun pendidikan terakhirnya hanya sebatas Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Tetapi apapun jenis pertanyaan yang saya ajukan, jawabannya pasti ada. Keren, bukan?? Dari situlah, Cita cita itu  tertanam dalam semangat saya hingga akhirnya terwujud belum lama ini. Jadilah saya sebagai guru pemula.

Gampang- gampang susah menjadi guru pemula. Tidak se-gampang mempelajari materi aljabar atau kalkulus tetapi juga tidak se-susah nasib guru saya pada bangku Sekolah Dasar. Meskipun rasanya aljabar dan kalkulus itu susah tetapi menjadi mudah sebab saya belajar untuk diri saya sendiri. Menjadi guru adalah bukan sekedar belajar untuk diri sendiri tetapi belajar pula untuk orang lain. Menjadi guru pemula jaman ini semakin berat. Tantangannya pun semakin banyak dan semakin kompetitif walaupun kesehjateraan guru agak sedikit membaik. Guru pemula harus mampu beradaptasi dengan laju perubahan arus teknologi sebab teknologi yang sekarang sudah menetapkan standar yang cukup tinggi. Misalnya saja, jika seorang guru masuk kelas hanya dengan perintah mencatat toh gadget sudah menyiapkan itu. Malah catatan gadget lebih lengkap dari catatan guru. Rumit kan?? Belum lagi tuntutan administrasi yang memang diharuskan bagi guru. Misalnya saja RPP kurikulum 2013. Walaupun kurikulum ini sudah berjalan cukup lama kenyataannya tidak berjalan maksimal. Copy paste masih menjadi penyakit guru dalam menyusun RPP. Padahal kita tahu sendiri, kondisi dan latar belakang siswa berbeda-beda sehingga baik model maupun metode yang akan digunakan pun semestinya harus selaras dengan karakteristik materi dan keadaan siswa. Ini menjadi masalah sebab jika copy paste masih dipraktikan maka seberapa canggih perubahan kurikulum yang digunakan toh hasilnya akan sama saja. Tidak jauh berbeda dengan kurikulum-kurikulum terdahulu. Sewaktu menjadi guru pemula saya mencoba merancang RPP saya sendiri. Menyesuaikannya dengan karakteristika materi, kondisi serta keadaan siswa. Hasilnya pun sama saja. Saat evaluasi belajar dilakukan, saya tetap saja bekerja extra untuk memikirkan dari sisi kemanusiaan, berapa nilai lagi yang harus saya tambahkan untuk meluluskan peserta didik saya. Perang batin bukan?

Perkembangan pembelajaran daring yang semakin hari semakin bertambah banyak pun menjadi tantangan baru bagi guru pemula. Misalnya saja ruang guru, rumah belajar, quiper dan aplikasi gadget lainnya yang seolah-olah akan menjadi pesaing baru bagi guru pemula. Bisa saja pembelajaran di kelas yang monoton dan membosankan akan menjadi pilihan kesekian setelah pembelajaran daring. Toh, pembelajaran daring pun selalu bisa diakses kapan saja, dimana saja dan siapa saja. Fleksibel bukan? Sampai pada kondisi ini, guru pemula harus dituntut kreatif. Guru pemula harus mampu menciptakan pembelajaran yang se-krearif mungkin dan tidak membosankan sehingga pembelajaran di kelas nantinya akan menjadi nomor satu dan wajib untuk untuk diikuti.

Hasil Programme for Internattional Student Assessment (PISA) Tahun 2018 yang baru dirilis pada Selasa (3/12/2019) juga seolah-olah menjadi tolak ukur baru yang harus dicapai guru pemula. Skor PISA Indonesia Tahun 2018 pada penilaian utama kecakapan membaca, matematika dan sains turun. Skor Pisa 2018 untuk kemampuan membaca, matematika dan sains berturut-turut adalah 371, 379 dan 396. Kemampuan siswa anak-anak Indonesia masih di bawah rata-rata negara peserta OECD. Doni Koesoema dalam opininya yang berjudul ‘’belajar dari PISA’’ (Kompas, 06/12/2019) menuliskan beberapa hal :

Pertama, dari beberapa indikator yang diukur, tren yang paling drastis adalah kemampuan membaca. Sejak sepuluh tahun terakhir kemampuan membaca anak-anak Indonesia semakin menurun. Skor membaca Indonesia pada 2001 adalah 371. Kemampuan membaca ini terus meningkat dan memuncak pada 2009 yaitu pada angka 402. Namun kemudian menurun terus sampai 2018. Ini berarti gerakan literasi yang selama ini terus digalakan belum menjadi gerakan yang mengakar di Ruang kelas. Ini juga harus menjadi catatan bagi guru pemula untuk mengakarkan literasi di dalam ruang kelas. Pembelajaran literasi hendaknya dilaksanakan secara terpadu (lintas disiplin ilmu).

Kedua, kegembiraan belajar ternyata tidak ada korelasinya dengan hasil belajar. Meskipun siswa merasa senang belajar dan guru yang mengajar penuh semangat, toh kegembiraan tersebut tidak berkorelasi dengan prestasi akademik. Dengan demikian seorang guru pemula mesti focus pada hasil dari pada proses. Nilai-nilai karakter seperti disiplin, ketekunan, keteguhan harus terus dikembangkan. Tidak semua yang tidak menyenangkan itu tidak berguna bagi siswa. Misalnya saja, untuk bisa terampil bermatematika maka perlu kedisiplinan belajar dan disiplin meskipun hal tersebut tidak menyenangkan.

Ketiga, peningkatan pemberian akses pendidikan yang selama ini dilakukan Negara tidak juga berpengaruh terhadap factor mutu pembelajaran. Sehingga dibutuhkan kecakapan  guru pemula dalam mengarahkan siswa untuk mengembangkan minat dan bakatnya. Guru pemula harus memahami bahwa pendidikan bukan sekedar belajar untuk kuat secara intelektual, tetapi lebih dari itu harus menyiapkan siswa untuk menghadapi kehidupan yang sesungguhnya.

Selain itu, penodaan profesi guru yang sekarang ini marak terjadi juga harus menjadi bahan refleksi bagi guru pemula. Kasus-kasus seperti memberikan tindakan indisipliner yang berlebihan, pelecehan seksual, berjudi, mabuk-mabukan dan yang lainnya harus benar-benar dihindari oleh guru pemula agar tidak menjadi presenden buruk ke depannya. Masifnya pemberitaan tentang penodaan profesi guru juga seolah-olah memberikan ketakutan dan trauma tersendiri bagi guru pemula. Maka dari itu, menjaga moral serta bijak dalam mengambil keputusan harus menjadi kompetensi tambahan yang harus dimiliki oleh seorang guru pemula.

Yah, memang benar rasanya gampang-gampang susah menjadi guru pemula di era keterbukaan informasi dan tuntutan merdeka belajar. Tetapi harus diingat bahwa guru adalah profesi abadi yang perannya tidak akan bisa digantikan dengan mesin secanggih apapun. Dengan demikian, guru pemula harus memaknai profesi ini sebagai suatu panggilan jiwa yang tidak berfokus pada materi tetapi pada pengabdian sesama manusia dengan mendidik, mengajar, membimbing dan melatih dalam proses belajar mengajar. Marilah menjadi guru pemula yang menginspirasi. Semoga. (*)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!