Program Kelor Belum Maksimal – Timor Express

Timor Express

METRO

Program Kelor Belum Maksimal

Pemprov Siapkan Skema Ideal

KUPANG, TIMEX – Program budidaya tanaman kelor yang dicanangkan Gubernur NTT hingga kini belum maksimal. Belum semua daerah merespon dengan positif.

Meski begitu, sebagian masyarakat sudah melakukan budidaya dalam jumlah besar. Seperti di Kecamatan Io Kuafeu, Kabupaten Malaka. Hal ini disampaikan Tim Leader Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat NTT, Kandidatus Angge, dalam diskusi evaluasi kinerja Gubernur Viktor B. Laiskodat dan Wakil Gubernur Josef A. Nae Soi, di Hotel Neo Aston, Kamis (20/2).

Ia meminta dukungan pemerintah provinsi untuk membantu masyarakat yang selama ini sudah kembangkan budidaya kelor. Bentuk dukungan berupa bantuan dana segar sebagai modal untuk Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Dengan demikian bisa memenuhi kebutuhan masyarakat. Yang dibutuhkan masyarakat adalah kelengkapan sarana prasarana produksi dan modal usaha untuk menampung hasil kelor. Selain itu memberikan penguatan kapasitas pengelola BUMDes.

“Pemerintah mestinya intervensi anggaran. Salurkan dana segar untuk masyarakat dan fokus lakukan pendampingan,” tandasnya.

Kandidatus mengatakan perlu dipahami data luas lahan dan jenis tanaman yang ada di NTT. Saat ini sebanyak enam desa di kecamatan Io Kuafeu, Kabupaten Malaka, sudah kembangkan kelor seluas 87 hektar.

Para petani berinisiatif melalui dukungan BUMDes sudah memiliki rumah pengering sebanyak enam unit, satu mesin oven dan satu mesin bubuk kelor. Bahkan hasil produksi kelor sudah dijual.

“Tahun ini lokasi kelor ditambah lagi rencananya sampai 200 hektar. Masyarakat sudah panen hasil kelor bahkan ikut pameran di Jakarta. Produksi kelor ada mie kelor, sabun dan lainnya,” tandasnya.

Dikatakan, produksi kelor manfaatnya luar biasa. Selain untuk kesehatan keluarga, juga untuk meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga. Sehingga saatnya petani didukung untuk kembangkan kelor. Apalagi permintaan pasar tinggi, bukan hanya di dalam negeri tetapi juga diekspor ke sejumlah negara.

Sementara itu, Kepala Bapelitbangda NTT, Lecky Koli, menjelaskan sudah ada skema pengembangan kelor. Ada dua klaster yakni kebutuhan kesehatan keluarga, memperbaiki gizi buruk anak dan kelor untuk kepentingan industri.
Untuk itu masyarakat perlu didukung untuk pengembangan lahan kelor. Minimal sebanyak 100 BUMDes aktif disiapkan untuk bisa melakukan transaksi untuk penampungan dan distribusi.

Dikatakan, program pengembangan kelor tentu melibatkan semua pihak. Sebab dengan kolaborasi yang kuat melibatkan pemerintah kabupaten, kecamatan, desa, LSM dan lembaga lainnya maka produksi kelor akan berhasil.

Dikatakan, untuk memudahkan pengembangan kelor setiap kabupaten menyiapkan 1.000 hektar dan setiap rumah tangga menanam lima pohon. Selain itu, Dinas Pertanian NTT menanam 100 hektar di Raknamo, Kabupaten Kupang. “Bapak Gubernur sudah perintahkan ambil langkah cepat kembangkan kelor,” kata Lecky. (mg33/sam)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!