ODP Naik jadi 41 – Timor Express

Timor Express

METRO

ODP Naik jadi 41

NTT DARURAT COVID-19
Satpol PP Bakal Pantau Siswa di Rumah

KUPANG, TIMEX – Jumlah orang dalam pemantauan (ODP) covid-19 di NTT terus meningkat. Dari 15 orang bertambah menjadi 41 orang. Jumlah ODP paling banyak terdapat di daratan Timor.

Data ini dirilis Kamis malam tadi sekira pukul 20.00. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, dr. Dominikus Minggu Mere saat dikonfirmasi malam tadi mengatakan yang masuk kategori ODP sebanyak 41 orang. Sebelumnya dalam konferensi pers Kamis pagi disebutkan terdapat 24 ODP covid-19.

Namun berdasarkan update data pukul 20.00, sudah bertambah menjadi 41 orang. Ia merincikan ODP tersebut berada di Kota Kupang sebanyak 18 orang, Kabupaten Kupang 2 orang, Lembata 2 orang, Manggarai Barat 7 orang dan Sikka 12 orang. Data tersebut belum termasuk satu orang dari Atambua yang dirujuk ke Kupang.

Dikatakan, untuk 7 orang di Manggarai Barat, sedang diisolasi di rumah masing-masing sambil dipantau tim medis RSUD Komodo. Sedangkan untuk 2 orang dari Lembata sedang dirawat di RSUD TC. Hillers Maumere. Sampelnya sudah dikirim ke laboratorium Puslitbang Kemenkes RI. “Untuk 7 orang dari Sikka baru dilaporkan tadi (kemarin, Red). Sekarang sudah ditangani di RSUD TC,. Hillers,” ujarnya.

Sedangkan RSUD Johannes Kupang sedang menangani 5 orang. Satu orang masih dirawat di RSU Siloam Kupang. Namun dipastikan hari ini dipindahkan ke RSUD Johannes.

Dominikus menjelaskan pemda tidak akan kuat mengurus banyak korban, sehingga sebaiknya masyarakat terus waspada dan antisipasi. Ia mengatakan RSUD Johannes saat ini sudah membatasi kunjungan. Satu pasien hanya dijaga satu keluarga. Selain itu, masyarakat harus menghindari keramaian yang berpotensi terjadinya penyebaran virus.

Masyarakat perlu tahu kategori seseorang terpapar covid-19. Menurutnya, orang yang berstatus ODP artinya memiliki riwayat pernah di luar negeri atau dalam daerah yang terpapar korona. Sehingga perlu diperiksa baik yang sudah ada gejala maupun yang belum. Sedangkan pasien dalam pengawasan (PDP) artinya sesorang telah menunjukkan gejala batuk pilek dan sesak napas. Begitu juga hasil foto rontgen menunjukkan tanda pnemonia.

Dikatakan, covid-19 menyerang dari dua sisi yakni pernapasan dari bagian atas dan pernapasan bagian bawah hasilnya pnemonia, gejala pilek. Setelah membaca tanda-tanda klinis dan pemeriksaan penunjang maupun pemeriksaan laboratorium radiologi baru disimpulkan pasien dalam status pengawasan.

Sementara Kepala Biro Humas dan Protokol NTT, Marius Ardu Jelamu, dalam konferensi pers di media center Kamis (19/3) mengatakan melalui satuan gugus yang sudah terbentuk tentu terus berkoordinasi untuk menghindari masuknya penyebaran virus korona masuk di NTT. Ia mengatakan Gubernur dalam setiap kesempatan mengingatkan masyarakat untuk menghindari keramaian. Para orang tua juga mesti mengawasi anak-anak agar batasi aktifitas di luar rumah. Sebab anak anak diliburkan bukan untuk ke mal dan pasar tetapi untuk diisolasi di rumah. “Kita akan perintahkan Satpol PP untuk aktif pantau. Sebaiknya anak belajar di rumah bukan libur untuk bebas keluar apalagi di keramaian,” ujar Dominikus.

Lebih lanjut ia mengatakan pemerintah Provinsi NTT terus berupaya untuk mengantisipasi merebaknya virus korona masuk wilayah NTT. Setiap orang harus memproteksi diri. Para ASN pun sudah larang bepergian ke luar daerah, kecuali antarkabupaten. Kalaupun ada yang keluar karena urusan penting, syaratnya setelah kembali wajib jalani isolasi di rumah selama 14 hari. Sambil menunggu perkembangan kesehatan, dipersilakan memeriksakan diri di RSUD terdekat.

Masker Mulai Langka

Di sisi lain, saat ini di Kota Kupang mulai terasa kelangkaan masker. Apotek-apotek sudah kehabisan stok. Ini dikarenakan permintaan yang sangat tinggi sementara stok terbatas.

Berdasarkan penelusuran Timor Express, Kamis (19/3) jumlah warga yang keluar masuk apotek mencari masker cukup tinggi. Namun tidak lagi tersedia.

Di beberapa apotek jaringan Kimia Farma di Kota Kupang yang didatangi media ini, masker tidak lagi dijual.
Di Apotik Kimia Farma yang beralamat di Strat A, Kelurahan Oeba, misalnya, stok masker sudah habis sejak lama. Demikian pula di Apotik Kimia Farma Mohammad Hatta dan Apotik Kimia Farma Pelengkap RSUD Prof Johannes Kupang, juga sudah habis terjual.

Hal yang sama juga terjadi di Apotek K-24 Fatululi dan Apotik K-24 Oepura di jalan Jenderal Soeharto serta Apotek K-24 Kelurahan Merdeka. Salah apoteker mengatakan masker sudah diborong sejak satu bulan lalu.

Sementara itu, salah satu apoteker yang tidak mau namanya disebutkan, mengatakan kelangkaan ini bukan karena adanya permainan dari pihak apotek ataupun dari pengusaha, Namun karena permintaan sebelumnya sangat rendah sehingga stok masker juga disesuaikan.

Pasca munculnya virus covid-19 membuat masyarakat panik dan ramai-ramai membeli masker. “Saat mereka ramai membeli otomatis stok yang disediakan seadanya pun habis terjual walau dengan harga yang mahal,” ujarnya.
Harga masker pun ikut naik. Harga normal satu paket untuk lima lembar masker Rp 4.500, namun saat ini satu lembar dihargai Rp 15.000 sampai 20.000, bahkan untuk jenis masker yang lebih tebal, dipatok dengan harga Rp 67.500 untuk lima lembar.

Terkait kelangkaan dan harga yang melonjak, menurut Michael Runesi, warga Kelurahan Kayu Putih, meski ada kebijakan pemerintah merumahkan siswa serta menghindari keramaian namun langkah tersebut tidak bisa membatasi penyebaran jika tidak mengunakan masker.

Menurutnya, penyebaran virus ini sangat cepat maka perlu peralatan seperti masker dan penutup mulut serta hand sanitizer sehingga bisa mencegah.

“Ini tidak ada masker seperti ini apa yang mau diharapkan. Kalau hand sanitizer tidak ada kita bisa akali dengan sabun dan air untuk bersihkan tangan,” kata Michael. (mg33/mg29/sam)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!