Peranan Bangunan Hijau di Masa Pandemi Covid-19 – Timor Express

Timor Express

OPINI

Peranan Bangunan Hijau di Masa Pandemi Covid-19

Paul J. Andjelicus

Perencana Muda Dinas Parekraf  Provinsi NTT

Anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) NTT

ANCAMAN virus corona atau Covid-19 sudah berjalan selama 5 bulan dan  telah menjadikan dunia seolah berhenti. Manusia “dipaksa” berhenti beraktivitas. Covid-19 menyerang siapa saja tanpa pandang bulu, tanpa membedakan suku, agama, ras, negara, status sosial dan sebagainya.  Sampai April ini,   sudah mewabah di lebih dari  200 negara  dan membuat WHO  menetapkan status Pendemi Global. Jumlah korban yang terinfeksi Covid-19 terus bertambah dari hari  ke hari dengan peningkatan yang  luar biasa cepatnya. Tercatat sebanyak 1,6 juta orang terinfeksi di seluruh dunia dan  lebih dari 100.000 orang meninggal per tanggal 10 April 2020, menjadi 2,8 juta orang terinfeksi dan sekitar 193.000 orang meninggal per tanggal 26 April (covid-19.go.id). Sampai saat ini juga belum diketahui kapan Covid-19 ini akan berakhir. Hal ini tentu saja mengancam keberadaan hidup manusia.

 

Kota-kota menjadi lebih tenang dan sunyi. Jalanan dan pusat-pusat kegiatan publik seperti mall, pasar, taman kota yang biasa ramai dengan aktivitas kini mendadak sepi. Berbagai aktivitas seperti pertemuan, olahraga, kesenian, musik ternasuk kegiatan pariwisata dibatalkan. Perekonomian dunia memasuki masa kelesuan dan perlambatan. Banyak negara telah menerapkan sistem lockdwon untuk membatasi penyebaran Covid-19 yang lebih luas seperti di beberapa negara Eropa dan Indonesia sendiri menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa wilayah  seperti Jakarta  dan daerah/kota di Pulau Jawa. Terhentinya aktivitas di seluruh dunia memberikan dampak banyak tenaga kerja kehilangan pekerjaan. Laporan Organisasi Buruh Dunia (ILO) menyebutkan penyebaran virus corona mempengaruhi 2,7 miliar pekerja di dunia atau sekitar 81 persen tenaga kerja. Pengaruhnya berbagai macam mulai dari pengurangan jam kerja, dirumahkan, cuti tanpa gaji, hingga PHK.

 

Terhentinya aktivitas di ruang luar menjadikan  kualitas udara ruang kota  menjadi lebih baik akibat berkurangnya pergerakan kendaraan yang menghasilkan  polusi udara dan suara berkurang.  Namun dengan makin banyaknya waktu  dihabiskan di dalam rumah / bangunan akibat kebijakan pembatasan dan bekerja di rumah,  maka energi yang digunakan rumah/bangunan semakin bertambah. Selama ini aktivitas manusia sekitar 90 % berada di dalam bangunan dan dengan adanya Covid-19 tentu aktivitas di rumah dapat  mendekati  100 %. Seperti diketahui, bangunan paling boros mengunakan sumber daya alam dunia karena mengkonsumsi 35 % energi dunia dan  12 % air di dunia serta menghasilkan 25 % sampah dunia dan 40% emisi karbon. Penelitian United Nations Environment Programme (UNEP) menunjukkan bahwa perkotaan walaupun hanya menempati lahan di dunia sekitar 2%, tapi mengkonsumsi 75% energi di seluruh dunia dan sektor bangunan ini menghabiskan sekitar 40% energi, 30% energi mineral, dan 20% energi air.

 

Bangunan memainkan peranan penting dalam masa Covid-19 karena menjadi benteng terakhir manusia untuk mempertahankan eksistensi keberadaan selanjutnya. Dalam sebuah seri diskusi yang digagas Ikatan Ahli Bangunan Hijau Indonesia baru-baru ini,  menegaskan  fungsi dan peranan bangunan yang ramah lingkungan dalam menghadapi ancaman Covid-19 yaitu kemampuan mempertahankan keberadaan manusia (survivability), setelah itu baru melanjutkan ke tahap keberlanjutan (sustainability). Bangunan hijau (green building)  sebagai konsep bangunan yang  memperhatikan aspek lingkungan sehingga bangunan tersebut tidak memberikan efek negatif terhadap manusia dan lingkungan seperti mengeluarkan emisi karbon yang tinggi, mengurangi penggunaan energi dan menghasilkan limbah yang sedikit. Bangunan Hijau memiliki sejumlah kriteria yang meliputi pengembangan lahan tepat guna, konservasi dan efisiensi energi, konservasi air, penggunaan dan pemilihan material, kenyamanan dan kesehatan dalam ruang, serta manajemen lingkungan gedung.  Menurut standar Green Building Council Indonesia (GBCI), bangunan yang ramah lingkungan idealnya mampu  mereduksi penggunaan air dan energi sekitar 20 hingga 30 persen.

 

Agenda Bangunan Hijau sesuai Paris Agreement 2015 adalah upaya penurunan kenaikan suhu Bumi tidak lebih dari 2 derajat Celcius pada akhir abad ini. Bahkan tidak boleh melebihi 1,5 derajat Celcius. Hal ini dilakukan untuk mencegah pemanasan global sampai tahun 2100 nanti yang akan mengakibatkan masalah di Bumi yaitu adanya perubahan cuaca yang ekstrem, suhu panas yang ekstrim di beberapa belahan dunia, naiknya  muka air laut,  masa kekeringan yang parah dan kerusakan ekosistem terumbu karang. Adanya Covid-19 ini sebenarnya menjadi semacam sistem peringatan awal kepada manusia untuk segera menghentikan eksploitasi sumber daya alam secara masal agar bumi dapat diberikan kesempatan melakukan upaya pemulihan  keseimbangan alam sebagai akibat  tekanan beban eksploitasi manusia. Ibarat komputer, bumi perlu melakukan reset.

 

Masa karantina di rumah dan bekerja di rumah membuktikan bahwa saat ini rumah/bangunan menjadi benteng terakhir perlindungan hidup dan eksistensi manusia di Bumi. Aktivitas manusia sekarang berada dalam bangunan seperti rumah dan dalam waktu relatif yang lama. Konsep Bangunan hijau   harus menjadi kesadaran dan budaya manusia. Bangunan harus memenuhi syarat sebagai bangunan hijau dengan 3 pilarnya yaitu people, prosperity dan planet. Pilar people adalah bangunan harus membudayakan solidaritas diantara sesama, ada rasa saling bantu (prinsip gotong royong) dan upaya membatasi populasi.  Pilar prosperitiy berkaitan dengan upaya bangunan memfasilitasi produktivitas penghuninya dalam bentuk  baru yang ekologis dan berperikemanusiaan. Sementara pilar planet berhubungan dengan upaya bangunan mendorong dan memfasilitasi pertobatan ekologis manusia. Berbagai bentuk  ekologis bangunan tidak hanya harus hemat energi tapi wajib zero karbon, daur ulang material  seoptimal mungkin dan penerapan bangunan berpanggung (elevated) yang menjadi salah satu  prinsip bangunan tradisional Indonesia sebagai negara tropis. (Nugroho,2020).

 

Berbagai upaya yang dilakukan  dalam menerapkan konsep bangunan hijau  untuk menghadapi pandemi Covid-19 dapat dilakukan  baik jangka pendek maupun jangka panjang. Jangka pendek adalah situasi selama masa pandemi belum selesai yang meliputi:1). Pengaliran udara dan pencahayaan  alami menjadi penting, sehingga setiap pagi jendela dan bukaan perlu dibuka seluas-luasnya untuk memungkinkan pertukaran udara dan cahaya matahari pagi masuk dalam ruangan, termasuk ruangan yang mengunakan AC. Beberapa kebiasan positif harus terus menerus  dibangun oleh seluruh penghuni  misalnya kebiasaan mematikan lampu bila tidak digunakan, tidak boros air dan mengunci keran dengan baik, mengatur tingkat suhu yang tidak berlebihan dan mempersingkat waktu penggunaan AC, 2). Adanya panduan  praktis sebagai bagian edukasi masyarakat terkait penerapan konsep bangunan hijau di masa Covid-19 dan 3). Kemampuan untuk mengukur kualitas udara dalam bangunan harus diketahui oleh semua orang (menjadi  keahlian awam) seperti mengukur suhu, kadar karbondioksida dan ketersediaan oksigen dalam ruangan.  Kemampuan ini secara perlahan – lahan membudaya dan menjadi gaya hidup masyarakat seterusnya.

 

Sementara upaya  jangka panjang yang dapat dilakukan setelah Covid-19 berakhir meliputi: 1). Bangunan yang ditinggalkan selama masa Covid-19 ini seperti sekolah, kantor, hotel dan lainnya  perlu dilakukan pengecekan kembali sistem bangunan dan pemeriksaan kesehatan bangunan sebelum digunakan kembali, 2). Bangunan yang sudah ada perlu dilakukan pengecekan dan penilaian standar bangunan hijau termasuk yang sudah memperoleh sertifikasi (masa berlaku sudah habis) dengan fokus pada aspek kesehatan bangunan dan efisiensi energy, 3). Bangunan baru sudah harus berpedoman pada standar bangunan hijau (Permen PU Nomor 2 /PRT/M/2015 tentang Bangunan Gedung Hijau) sehingga semua daerah perlu menindaklahuti dengan regulasi terkait semacam perda atau peraturan kepala daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota, 4). Edukasi masyarakat terkait bangunan hijau secara berkelanjutan sehingga  masyarakat mempunyai kemampuan dan menjadi gaya hidup baru dalam penerapan  bangunan hijau dan 5). Konsep Bangunan Hijau mengakomodir dan mengintegrasi ruang luar dan ruang dalam sebagai kesatuan tempat hidup / habitat yang sehat dan survival mulai dari bangunan, kawasan dan kota.  Rumah dengan arsitektur tropis melalui penggunaan serambi/ teras dan natural  ventilasi, penggunaan energi alternatif  menjadi salah satu cara untuk memastikan net zero karbon.  Halaman rumah/bangunan dengan vegetasi yang cukup menghasilkan kualitas udara yang baik dan keteduhan terhadap bangunan. Pada skala kawasan kehadiran vegetasi mereduksi tingkat  kebisingan suara  dan menyerap polutan kawasan. Sementara pada skala kota, konsep kota kompak dengan ruang terbuka publik dan penggunaan transportasi masal akan banyak mengurangi pergerakan sehingga mengurangi konsumsi energi kota secara signifikan. (**)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!